
Ningrum menarik nafasnya dengan berat. Ia mematikan phonselnya meskipun operator tersebut masih menelefonnya.
Apa yang baru saja didengarnya membuat Ningrum tak mampu mengatakan hal apapun.
Baru saja Ia luluh memaafkan Bima, namun kini Ia harus menerima kenyataan jika Bima menggadaikan mobil yang baru dibelinya. Meski harganya hanya 10 juta rupiah, namun Ia juga tidak tau uang itu perginya ke mana.
Ningrum merasakan kepalanya sangat sakit. Ia merasa ini sangat membuatnya membutuhkan refserhing untuk membuat akalnya agar tetap waras.
Ningrum beranjak dari duduknya. Lalu turun ke lantai dasar dan menuju mobilnya, lalu menyetir menuju sebuah cafe. Ia ingin memesan makanan. Jika Ia mengalami badmood, maka bawaannya akan makan terus.
Sesampainya di cafe. Ningrum memesan beberapa makanan ringan. Yougurth dengan campuran smoothies serta salad buah dan juga spaghety Ia pesan sekaligus. Ia begitu sangat ingin mengembalikan moodnya yang sangat memburuk.
Setelah pesanannya datang, Ia mulai melahabnya. Meskipun Ia baru saja selesai makan nasi rendang Padang yang dibawa oleh Andini, namun seketika Ia merasa lapar kembali.
Tanpa sadar sepasang mata memperhatikannya dari meja lain. Mata itu memandangnya dengan penuh makna, dan Ia tersenyum saat melihat tingkah Ningrum yang sepertinya makan tanpa memperhitungkan tiap kunyahannya.
Pemilik sepasang mata itu menyeruput juice jeruknya dari dalam cup yang dipegangnya.
Perlahan Ia bangkit dari duduknya, dan berjalan menghampiri meja Ningrum, lalu duduk tanpa permisi kepada wanita yang sedang galau gulana itu.
Ia meletakkan cup juicenya diatas meja, lalu mensedekapkan kedua tangannya didepan dada.
Sosok itu menatap Ningrum dari balik kacamata hitamnya dengan tatapan yang begitu dalam, dan seulas senyum tipis menghiasi bibirnya.
"Makanlah dengan tenang dan jangan terburu-buru" ucap sosok tersebut yang membuat Ningrum baru tersadar jika ada seseorang yang telah duduk dihadapannya.
Fikirannya yang kalut membuat Ningrum tidak sadar akan sekitarnya. Ningrum menengadahkan kepalanya. Memandang sosok dihadapannya.
"Mengapa Kau begitu sangat terburu-buru?" tanya sosok itu lagi.
Ningrum memutar bola matanya malas.
"Bukan urusanmu!" jawab Ningrum yang menyeruput smoothies youghurt mangganya.
Sosok itu tertawa renyah mendengar jawaban ketus dari Ningrum.
"Begitukah tanggapanmu terhadap temanmu sendiri?" tanya sosok itu dengan begitu sangat tenangnya.
Ningrum mencoba mengingat siapa pemilik suara itu. Sepertinya tidak asing, namun siapa? Memorynya terlalu penuh oleh masalah yang diciptakan oleh Bima untuknya, sehingga Ia tak dapat lagi memasukkan data lain dan jarus membuang salah satu masalah agar ingatannya kembali dapat menerima data lainnya.
Meskipun Ia mencoba mengingatnya, namun Ia tak dapat menemukannya. Apalagi sosok itu menggunakan kacamata hitam dan juga topi yang menutupi kepalanya.
Ia menelisik sosok didepannya. Tubuh kekar dengan dada bidang. Hidung bangir, dan tinggi kira-kira sekitar 189 cm serta bibir tebal dibagian bawahnya.
__ADS_1
Siapa? Dan itu yang masih mencoba Ia ingat dari sosok didepannya.
"Apakah masih belum mengingatku?" tanyanya lagi dengan suara yang begtu khas.
"Sepertinya kamu harus memperhatikan sepatumu agar tidak bermerk lain sebelah apalagi warnanya yang lain sebelah sebelum berangkat ke kampus" ucapnya dengan begitu lugas.
Seketika Ningrum membolakan matanya dan mulutnya ternganga saat mendengar penuturan sosok didepannya.
Ningrum bangkit dari duduknya, lalu menghampiri sosok tersebut, dan dengan cepat mencabut kacamata serta topi sosok itu.
Setelah melihatnya dengan jelas, Ia melayangkan pukulan gemasnya pundak Pria itu.
"Gibran..!! Bikin penasaran saja" omel Ningrum. Lalu melemparkan kacamata dan topi milik Gibran begitu saja diatas meja dan kembali duduk dikursinya semula.
Pria itu terkekeh melihat wajah Ningrum yang tampal sangat kesal itu.
"Koq, Kamu masih ingat saja aku pakai sepatu lain sebelah waktu ke kampus" tanya Ningrum sembari menyuapkan spaghetty terakhirnya.
"Bagaimana mungkin aku lupa, karena aku orang pertama yang memberitahumu" jawab Gibran dengan santai.
Seketika Ningrum tertawa lepas mendengar jawabn Gibran. Itu adalah kenangan paling menggelikan dimana Ia menjadi pusat perhatian saat melintasi koridor kampus.
Bukan tanpa sebab, karena warna dan merk sepatunya yang berbeda dengan sangat mencolok.
Sehingga akhirnya Ia menjadi pusat perhatian saat melintasi koridor kampus menuju kelas. Saat itu Gibran orang yang menegurnya pertama kali tentang sepatunya yang berbeda warna dan sangat mencolok.
Melihat Ningrum tertawa lepas, membuat Gibran mengembang senyumnya.
"Sendiri saja?" tanya Gibran yang telah melihat Ningrum menghentikan tawanya. Ningrum menarik nafasnya dengan dalam dan menghelanya dengan berat.
"Lagi ingin sendiri"
"Kalau begitu aku mengganggumu?"
Ningrum menatap Gibran dengan sendu. Ia tidak tahu harus mengatakan apa, hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Kamu sedang apa disini?" tanya Ningrum lirih.
Gibran menatap wanita didepannya dengan penuh keteduhan. Wajahnya begitu tampak tenang, dan menyejukkan pandangan.
"Kebetulan Aku baru pulang dari penanganan proyek, trus singgah ke cafe ini dan tanpa sengaja melihatmu disini juga" jawab Gibran jujur.
"Bagaimana kabarmu?"
__ADS_1
"Baik, Kamu?" jawab Gibran.
Ningrum tak menjawabnya, hanya merunduk dan tidak ingin jika nantinya Gibra akan melihat air mata yang sedari tadi ditahannya akan jatuh.
"Mengapa wajahmu tampak lebam?" tanya Gibran penasaran.
Ningrum gelagapan, Ia tidak mungkin menceritakan perihal rumah tangganya kepada Gibran, dan ini sangat memalukan.
"Ini karena aku tidak hati-hati dan menabrak pintu" jawab Ningrum berbohong.
Gibran menjurkan tangannya dan meyentuh lembut luka lebam itu.
Ningrum tersentak kaget saat melihat perlakuan Gibran yang terkesan tiba-tiba dan juga cepat.
Ningrum dengan cepat menepis tangan Gibran "Jangan, jika ada yang melihatmu dan melaporkan pada istrimu, maka itu akan menjadi fitnah" ucap Ningrum dengan cepat.
Gibran tertawa mendengar ucapan Ningrum yang terkesan berlebihan.
"Tenanglah.. Aku sudah lama menjadi single. Aku sudah 4 tahun menduda dengan seorang puteri yang kini sedang berusia 9 tahun" ucap Gibran menjelaskan.
Ningrum menatap Pria itu "Kemana istrimu?" tanya Ningrum penasaran. Ia tidak ingin mendengar jika nasibnya sama dengan dirinya ditinggalkan karena orang ketiga.
"Ia meningga dunia karena menderita diabetes yang ternyata menyerang jantungnya" ucap Gibran dengan wajah yang tampak begitu sangat sedih saat menceritakan tentang istrinya.
"Maaf, Aku turut berduka"
"Ya.. Terimakasih"
Lalu keduanya tampak terdiam membisu dan sepertinya larut dalam fikirannya masing-masing.
Sesaat phonsel Gibran berbunyi dan Ia mengangkatnya. Tampak sebuah pembicaraan yang sangat serius.
Setelah itu Gibran menutup panggilan masuk tersebut.
"Boleh aku meminta nomor phonselmu?" ucap Gibran dengan begitu tenang.
Ningrum.menganggukkan kepalanya, lalu Menyebutkan nomor phonsel miliknya dan Gibran mencatatnya.
"Aku duluan, ya" ucap Gibran berpamitan dan beranjak dari kursinya, lalu menuju kasir mmembayar pesanannya.
Sesaat Ningrum merasakan sedikit moodnya membaik, dan kembali menyantab pesanannya.
Lalu tampak Gibran melambaikan tangannya dan keluar dari pintu cafe. Setelah kepergian Gibran, seorang pelayan datang dan memberikan nota bon jika pesanan Ningrum telah dibayar oleh seseorang.
__ADS_1
Ningrum tersenyum simpul, Ia tahu siapa pelakunya.