SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)

SUAMI KEDUAKU MENIPUKU (TOXCID)
episode-139


__ADS_3

Ningrum menggendong Luccy untuk sampai ke kamar. Meskipun tubuh gadis kecil itu sedikit berat dan Ia harus menapaki anak tangga, akan tetapi ia tetap melakukannya.


Sesampainya dikamar, ia meletakkan tubuh Luccy diatas ranjang dengan sangat hati-hati. Nafasnya tersengal, karena harus membawa tubuh mungil itu apai ke lantai dua.


Ningrum menyelimutinya, kemudian menatap lama pada wajah malaikat tak bersayap itu. Tampak wajah lelah karena seharian ikut membantunya mengemasi peralatan make upnya dan juga alat kerjanya.


Ia membelai lembut ujung kepala gadis kecil yang sedang tertidur lelap, dalam balutan mimpi yang begitu indah.


"Kamu harus kuat, dan tumbuhlah seperti mana mestinya. Mama akan membuatmu menjadi seseorang yang dapat dibanggakan!" guman Ningrum dalam hatinya, kemudian mengecup lembut kening Luccy, dan beranjak untuk tidur.


Pagi menjelang. Sinar mentari menembus dinding kaca saat tirai disingkapkan. Ningrum menyipitkan matanya, karena sinar mentari menyilaukan pandangannya.


Tampak seorang gadis kecil berseragam sekolah sedang berdiri dihadapannya dengan membawa segelas kopi panas dan sepotong roti.


"Sarapan, Ma... Hari sudah hampir siang!" ucap Luccy sembari menyunggingkan senyum hangat, sehangat sinar mentari.


Ningrum terlonjak dari tidurnya, kemudian mengusap kedua matanya.


"Jam berapa sekarang, Sayang?" tanya Ningrum panik.


"6.45, Ma..!"


"Hahh..?!" Ningrum menyambar kopi yang dibawa Luccy dan langsung meneguknya, kemudianenuju kamar mandi untuk sekedar mencuci wajah dan menggosok giginya.


"Ayo, Sayang.. Kita sudah hampir terlambat ke sekolah!" ucap Ningrum dengan wajah oanik, sembari menyambar kunci mobil diatas meja nakas.


Luccy mengikuti langkah mamanya yang tampak tergesah-gesah, dengan memakai tas ranselnya.


Saat berada dilantai dasar, tampak Sary sudah datang ke salon dan membersihkan ruangan salon bersama satu karyawan lainnya.


Sary memandang wajah majikannya yang tampak begitu panik dengan langkah yang terburu-buru.


"Bu Ningrum terlihat sangat sibuk sejak kehadiran anak perempuan itu!" bisik Eny pada Sary yang masih diam terpaku menatap sang majikan yang tampak sangat serius sekali.


Sary menghela nafasnya, kemudian memandang pada rekan kerjanya. "Ya kan, kita tahu jika Bu Ningrum tidak memiliki anak, saat ia menemukan Luccy, ia mungkin merasa menjadi seirang ibu!" jawab Sary, kemudian melanjutkan pekerjaannya.


Eny mengangkat kedua bahunya. "Tetapi Luccy itu kan hanya anak tiri, mengapa harus repot-repot seperti itu!"ucap Eny yang terlihat begitu usil akan kehidupan sang majikan.


Sary menghentikan pekerjaannya. Kemudian memandang pada Eny yang masih membersihkan debu dibotol-botol kosmetik dan kaca etalase.


"En.. Seekor kucing saja jika kita perlakukan dengan baik, maka ia akan manja dan tak ingin pergi dari kita, dan dapat dijadikan teman bermain saat sedang lelah."


"Apalagi itu anak manusia. Tidak kemungkinan suatu saat nanti ia akan menjadi teman bagi bu Ningrum untuk menemaninya dihari tua nanti, sebab.itu bu Ningrum berusaha membuat Luccy sebahagia mungkin dengan segala perhatian yang diberikan!" Sary menimpali ucapannya.


Eny hanya menanggapinya dengan mencebikkan bibirnya. Ia menganggap jika apa yang dilakukan oleh majikannya itu hanyalah membuang-buang waktu saja. Jika ia yang menjadi sang majikan, lebih baik ia menyenangkan dirinya dengan berkibur ke tempat yang ia mau dan bersenang-senang, tanpa harus repot mengurusi anak orang.


Ningrum melajukan mobilnya menembus jalanan yang tampak padat karena waktunya orang-,orang berangkat bekerja. "Lain kali jika mama ketiduran, kamu harys bangunkan lebih awal, ya Sayang.. Agar tidak terburu-buru seperti ini!" Ningrum terus memutar setirnya untuk mendapat jalan yang lengang.


Luccy menganggukkan kepalanya. "Tetapi mama tidurnya sangat pulas, Luccy tidak tega membangunkannya!" jawab gadis kecil itu dengan lirih.


Ningrum tersentuh mendengar jawaban sang gadis kecil. Ia melirik pada Luccy, kemudian membelai ujung kepala yang tertutup hijab dan dikenakan oleh Luccy.


Setelah perjuangannya melewati para pengendara lainnya, akhirnya mereka tiba didepan pintu pagar sekolah. Terlambat 1 menit saja maka, pintu pagar segera ditutup.


Luccy berpamitan, dan mengecup punggung tangan mamanya, kemudian Ningrum memberinya uang saku untuk anak itu jajan disekolah dan selalu melebihkannya, sebab Luccy tidak sarapan saat pergi ke sekolah.


Luccy melambaikan tangannya setelah memasuki pintu pagar, menatap sehenak pada Ningrum yang menyembulkan kepalanya dibalik pintu mobil. kemudian Ia berlari kecil menuju kelasnya.


Ningrum memandanginya, hingga tubuh gadis itu menghilang dibalik dinding kelas. Kemudian ia mengemudikan mobilnya untuk kembali pulang.


Jalanan masih masih sangat padat, Ningrum mengemudikannya dengan santai. Saat berada diperempatan jalan, lampu rambu lalu lintas berubah berwarna merah, Ningrum berhenti sejenak, sama seperti pengemudi lainnya.


Saat bersamaan, ia melihat sebuah mobil disisi kanannya yang juga berhenti menunggu lampu hijau menyala. Tampak seorang pria dengan seirang wanita berpakaian kurang bahan sedang bercanda mesra dengann tawa yang menjijikkan.


Pria itu adalah Badhi, paman sepupu dari almarhum Gibran. Pria yang merampas hampir seluruh harta benda milik Luccy tanpa memiliki perasaan kepada sang keponakan.

__ADS_1


Kebanyakan hidup manusia akan mengerti soal hak-nya jika berurusan dengan warisan, namun lupa akan kewajibannya terhadap anak yatim piatu yang telah ditinggal mati oleh ayahnya.


Jika mereka mengerti akan hukum syariat, maka sang paman harus menafkahi Luccy hingga saat ia menikah dan lepas tanggungjawabnya.


Kedua manusia tidak berperasaan itu tampak begitu sumringah menikmati harta anak yatim tanpa perduli sedikitpun.


Ningrum menggelengkan kepalanya, ia mencoba tidak untuk perduli, toh ia juga dapat membesarkan Luccy tanpa itu semua, dan beruntungnya Ningrum sudah menyelamatkan uang kompensasi dari perusahaan dan juga jaminan hari tua untuk biaya pendidikan Luccy.


Lampu hijau menyala, dan itu tandanya ia harus bergerak maju.


Dan tiba-tiba...


Buuuuum...


Sebuah tabrakan yang entah bagaimana bisa terjadi saat sebuah mobil dari arah simpang sisi kiri yang kehilangan kendali karena mengalami rem blong, meluncur begitu saja menabrak mobil yang dikendarai Badhi dan juga istrinya.


Hal yang sangat beruntung ialah Ningrum terselamatkan karena mobilnya berada disebelah mobil Badhi dan mobilnya sempat untuk bergerak maju, sehingga terlepas dari bahaya tabrakan itu.


Ningrum membolakan matanya. Ia sangat ketakutan karena hampir saja ikut tertabrak. Ia berulang kali mengucapkan syukur karena masih terselamatkan.


Nafasnya memburu, dan deguban dijantungnya menderu sangat kencang. Ia memutar tubuhnya ke arah belakang. Tampak mobil yang dikendarai oleh Badhi terguling dijalanan, dan beberapa mobil lainnya yang terkena tabrakan beruntun itu.


Tetapi tampaknya mobil yang ditumpangi oleh Badhi yang terlihat sangat parah.


Kejadian itu tepat didepan kantor polisi, sehingga membuat segera diatasi. Beberapa warga membantu mengevakuasi korban.


Ningrum menepikan mobilnya dan mencoba melihat apa yang terjadi pada Badhi dan juga istrinya.


sangat sulit melepaskan tubuh Badhi dari dalam mobil, sebab kakinya terjepit badan mobil. Sedangkan istri Badhi tak sadarkan diri dan mengalami luka parah.


Ningrum tak ingin terlibat dalam permasalahan kecelakaan itu, toh polisi sudah menanganinya. Ia memilih untuk menjauh dari lokasi tersebut dan kembali pulang.


Sementara itu, Bima menggeliatkan tubuhnya. Ia kesiangan untuk berangkat bekerja. Ia melihat Nora masih tertidur dengan Reza yang masih menyusu dengan lahab.


Bima melirik jam diphonselnya. Sudah pukul 7.40. dan ia tersentak , lalu beranjak dari tidurnya karena ada meeting hari ini.


Nora yang masih menyusui Reza tampak kesal, apalagi semalaman ia tidak nyenyak tidur karena Reza rewel tersebut.


"Itu-kan ada adikmu, suruh saja dia masak, masa numpang dirumah orang enak-enakkan tidur sampai jam segini!" Nora melirik Elly yang tiduran dikursi tamu sembari bermain phonsel.


Elly yang mendengar ocehan Nora merasa sangat kesal. "Eh, Mak lampir! Kalau aku numpang disini kenapa rupanya? Lagipula yang cari uang itu abangku, bukan kamu!" balas Elly tak mau kalah.


Bima yang sudah dapat menebak apa yang akan terjadi bila dua wanita ini dalam satu rumah merasakan kepalanya sangat pusing. Apalagi ia tau jika watak sang adik yang sangat keras kepala.


Bima bergegas membersihkan dirinya dikamar mandi, kemudian memilih untuk segera pergi ke proyek, ketimbang harus mendengarkan kedua wanita itu bertengkar.


Bima mengendarai mobilnya menuju proyek. Sesampainya diproyek, ia meraskan perutnya sangat lapar, sebab sedari malam tadi belum makan.


Andai saja malam tadi ia tidak menghina Ningrum, mungkin hukum karma itu tidak akan terjadi begitu cepat. Sehingga ia kini harus menanggung semua penderitaan yang sangat mengesalkan.


Bima menuju kantin. Ia sudah sangat lapar dan melewati kantin Mbak Raini yang sudah lama tidak ia singgahi.


Ia masuk ke dalam kantin Romo, dan duduk dikursi yang masih kosong.


Saat akan meraih rokoknya, ia baru menyadari jika dompetnya tertinggal dikamar, dann


ini hari yang sangat sial baginya. Dengan terpaksa ia keluar dari kantin, menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Ia melirik ke arah kantin Mbak Raini, ia tidak memiliki pilihan, karena ia sudah sangat lapar.


Ia melangkah memasuki kantin


tampak wanita itu sibuk dikasir. Bima menatapnya dan membaca ajian pengasihnya, berharap mbak Raini luluh hatinya kali ini untuk memberinya utangan.


Setelah merafalkan mantranya, ia kemudian menghampiri wanita tersebut dan mencoba merayunya.

__ADS_1


"Mbak."


Mbak Raini menolehkan wajahnya, melihat le arah orang yang memanggilnya. Saat melihat siapa yang ada dihadapannya, seketika wajahnya terlihat sangat kesal, namun saat matanya memandang pada retina Bima, seketika ia meluluh.


"Ada apa kamu kemari, Hah!"


Bima menyunggingkan senyum liciknya. Ia merasa jika Mbak Raini mulai terpengaruh oleh mantra yang dirafalkannya.


"Satu porsi lontong medan, Mbak! Plus rokok sebungkus, sekalian dengan mancisnya!" ucap Bima yang mengambil kesempatan.


Mbak Raini mendenguskan nafasnya, dan entah perasaan apa yang kini menggelayuti hatinya. Antara iba dan juga kesal, namun rasa iba lebih mendominasi.


"Beidah... Satu porsi lontong medan, rokok dan juga mancis!" teriak Mbak Raini kepada pelayannya yang bernama Zubaidah.


Teriakannya terdengar hingga ke ruang depan, maklum, jika pagi kondisi kantin sangat ramai, sehingga harus berteriak memanggil pelayannya, sebab tidak akan dengar apa yang disampaikan karena bising.


Baidah segera membuatkan pesanan yang disebutkan oleh majikannya, kemudian ia menghidangkannya kepada Bima.


Tampak pria itu makan dengan lahab, seperti orang yang tidak makan seminggu lamanya. Setelah selesai makan, ia berpamitan kepada Mbak Raini yang masih sibuk untuk memberikan uang kembalian kepada pelanggannya.


"Mbak, masukkan Bon, ya!" ucap Bima santai sembari menyesap bahan nikotin yang mengeluarkan karbonmonoksida sebagai racun yang sangat berbahaya.


Mbak Raini menatap bengong pada Bima yang berjalan menuju keluar daei pintu kantin. Ia masih bingung dengan kejadian yang baru saja dialaminya.


Mbak Raini tersadar saat Zubaidah menepukmya karena seorang pelanggan ingin membayar pesanannya.


"Mbak... Kembaliannya mana?" tanya Baidah.


Seketika.mbak Raini tersentak kaget, lalu memandang pada Gadis tersebut.


"Berapa kembaliannya?" tanya Mbak Raini setengah sadar.


"tiga puluh ribu rupiah." jawab Baidah


Mbak Raini mengembalikannya kepada pelanggan tersebut, kemudian ia menoleh ke arah Baidah.


"Tadi Bima makan disini bayar cash atau ngebon?" tanya Mbak Raini pada Baidah.


Baidah tampak bingung, sebab saat tadi tampak sepertinya mbak Raini tidak mempermasalahkan hal tersebut.


"Lho.. Bukannya mbak tadi yang ijinin Pak Bima ngutang lagi?" ucap Baidah bingung.


Mbak Raini mendengus kesal. "Siaaaal!... baru saja lepas dari hutang, kini sudah berhubungan hutang lagi dengan si menyebalkan itu!" omel Mbak Raini. Ia merasa paling


malas berhadapan dengan Bima masalah hutang piutang. Sebab jika berhutang sangat manis dan saat ditagih akan bengis dan sadis.


Sementara itu Bima berjalan dengan santai menuju ruang CEO. Ia akan menghadiri rapat untuk pemberlakuan Safety talk yang akan diterapkan diproyek dan harus memenuhi standar yang diterapkan.


Saat bersamaan, sebuah mobil berhenti tepat disisinya. Seorang pria berperawakan tinggi menurukan kaca mobil dan menatapnya.


Bima tergugup saat memandang pria tersebut.


"Bima.. Kau belum membayar hutangmu? Persen dari 70:30 dari harga yang kau janjikan belum juga kau bayarkan, dan kau memilih membeli mobil?!" ucap pria tersebut dengan tatapan penuh kekesalan.


"Emmm... Sabarlah, Bos..! Proyek yang ini selesai akan saya bayar." jawab Bima mencoba bernegosiasi dengan pria itu.


"Proyek ini keluar itu berbeda lagi, dan Aku tetap mendapatkan 30 persen dari modal yang keberikan kepadamu!" jawab pria itu dengan nada penuh penekanan.


Bima mencebikkan bibirnya. Ia ternyata salah bermain-main dengan pria tersebut, ia seperti terjerat dalam lingkaran hutang yang tidak akan ada habisnya.


Ia mencari cara agar pria itu dapat mempercayainya, sebab hutangnya sudah sangat banyak. Dari seratus juta yang ia pinjam, maka 30 persen dari harga proyeknya, maka akan terus bertambah setiap proyek yang dikerjakannya. Sedangkan pria itu mengetahui jumlah harga dari setiap proyeknya, sebab ia sangat dekat dengan para petinggi perusahaan.


"Tenang, Bos! Masa gak percaya dengan saya, pasti akan saya bayarlah!" jawab Bima mencoba meyakinkan pria itu.


Tatapan pria itu seperti sedang mengulitinya. Ia tampak tidak percaya dengan apapun yang dikatakan oleh Bima.

__ADS_1


"Andai saja Kau mencoba bermain-main denganku, maka ku pastikan kakimu tidak akan dapat lagi berjalan!"


Pria itu tampak mengancam, ia tidak dapat ditipu begitu saja. Sebab ia sudah sangat lama bergelut didunia bisnis, dan orang seperti Bima sudah biasa ia hadapi, maka jika sampai Bima mencoba menipunya, dipastikan ia akan mencelakai orang yang menipunya.


__ADS_2