Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
TSM Bab 107 - Ciuman Panttat Mu


__ADS_3

"Huh." Louis membuang nafasnya dengan kasar seolah sedang membuang semua beban yang selama ini mengganjal di dalam hatinya.


Kini Rilly telah menemukan kebahagiaannya sendiri jadi dia pun harus rela melepaskan Rilly. Tak ingin jadi batu sandungan kebahagiaan wanita tersebut.


Besok di saat mereka bertemu di hari pernikahan itu, Louis akan tersenyum dan mengucapkan selamat.


"Huh." Lagi, Louis membuang nafasnya dengan kasar. Dia bahkan terus mengulanginya sampai hati itu sedikit terasa longgar.


Di Indonesia persiapan pernikahan Rilly dan Liam sudah rampung, benar-benar hanya tinggal menunggu acara itu digelar.


2 hari sebelum hari H, Rilly akan melakukan perawatan tubuh. Dia diantar oleh kakak ipar keduanya kak Alika untuk mendatangi sebuah tempat spa.


Rilly akan mendapatkan pijatan refleksi, hingga tubuhnya akan tetap segar bugar selama acara pernikahan itu berlangsung.


Gadis cantik itu masih tidak sadar juga, jika selama dipingit Liam pun terus mengawasi dia.


Jiwa Mafia dalam diri Liam tak bisa sepenuhnya hilang, terkadang dia masih licik dan menggunakan kemampuannya untuk mempermudah semua jalan.

__ADS_1


Seperti hari ini, Liam telah mensabotase data Rilly di tempat spa tersebut.


Nanti yang akan masuk sebagai terapis bukanlah terapis sungguhan, tapi Liam.


Dengan bibir yang tersenyum miring, Liam mulai memasuki ruangan Rilly ketika dilihatnya maka ipar dia-kak Alika keluar dari ruangan itu.


Rilly kini hanya sendirian di sana dengan kain tipis sebagai handuk.


Terapis Rilly yang asli akan datang 20 menit lagi, jadi kini dia yang akan lebih dulu menghabiskan waktu bersama sang calon istri.


Liam sudah rindu sekali.


Klek! suara pintu terbuka.


Rilly yang sudah tidur di atas ranjang dengan posisi tengkurap pun langsung memejamkan matanya, siap menerima sentuhan yang akan menenangkan sampai ke jiwa.


Rilly bahkan tersenyum kecil saat mendengar terapis tersebut mulai menyalakan musik instrumental yang begitu indah.

__ADS_1


Namun, kedua mata Rilly sontak terbuka saat terapis tersebut menyentuh kedua kakinya. Tangan itu terasa cukup kasar dan begitu besar. Tangan itu terasa seperti tangan seorang pria, bukan wanita seperti yang dia minta.


Dengan kedua matanya yang mendelik Rilly menoleh ke belakang melihat siapa terapis tersebut, dan Alangkah terkejutnya ketika dia melihat Liam berdiri di sana.


"LIAM!" pekik Rilly, kesal bercampur kaget dan deg-degan.


Sementara Liam malah tersenyum lebar, Rilly sangat seksi.


"Aku sangat merindukanmu," ucap Liam.


"Hais! pergi sana! dassar mesyum!!" kesal Rilly, dia bangun dari tidurnya dan mengambil bantal kecil yang tadi dia gunakan. Kini Rilly menggunakan bantal itu untuk memukul Liam.


"Awh! Ril! kenapa memukul ku? harusnya aku mendapatkan pelukan dan ciuman!" ucap Liam seraya menghindari semua pukulan Rilly.


"Ciuman panttat mu, sana pergi pergi pergi!" kesal Rilly, sebenarnya dia sangat malu. Apalagi saat ini Rilly hanya menggunakan kain tipis untuk handuk, tubuhnya jelas bisa diterawang dengan mudah oleh Liam.


Dan karena Rilly terlalu kuat dalam bergerak memukul Liam, pengait kain yang dia buat jadi longgar, hingga lambat laun terlepas dan membuatnya jatuh.

__ADS_1


"Ahk!" pekik Rilly, namun Liam buru-buru memeluknya kuat, menyembunyikan Rilly di dalam jas yang dia kenakan.


Glek! Liam menelan ludah, kini yang dia peluk adalah Rilly yang tak memakai sehelai benang pun.


__ADS_2