Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
Tak bisa mengelak


__ADS_3

Axton sudah menyusun semua bukti di atas meja, ia sangat yakin rencana ini bisa membuat Aurora tidak akan pernah mengganggunya lagi, jangankan mengganggu, mungkin wanita itu akan langsung membencinya. Dan itu jauh lebih baik dari yang Axton inginkan.


Kakinya melangkah perlahan kearah sofa nyaman dan tak lama, sebuah pesan masuk, Aurora mengabarkan dirinya baru saja sampai. Senyuman di wajah Axton terlihat begitu licik dan penuh tipu daya.


\~


“Astaga aku benar-benar tak bermimpi,” ucap Aurora. Ia menoleh pelan kearah Sam. “Karena aku sedang sangat senang hari ini, aku memaafkan mu Sam, lupakan saja kejadian hari itu, anggap semua itu hanya kecelakaan kecil,” gumam Aurora.


Sam yang tak terlalu memperdulikan ucapan Aurora hanya menganggukkan kepalanya, ia tak mengerti dengan pemikiran wanita yang langsung senang diajak bertemu begitu saja. Sam sudah menjelaskan jika ini semua tidaklah masuk akal, Axton tiba-tiba menghubungi Aurora adalah hal yang tidak masuk akan, Sam khawatir jika ini hanyalah jebakan yang diberikan Axton, rasa takut yang sempat hilang ini terasa lagi membuat Sam tak siap untuk mengikuti Aurora ke dalam restoran.


Namun Aurora memanglah keras kepala, ia tetap yakin jika semua ini sungguhan, kerja kerasnya membuahkan hasil dan Axton mulai membuka hatinya kembali untuk Aurora. Terdengar sangat memuakkan bagi Sam dan ia tak perduli lagi mengenai percintaan Aurora, wanita itu terlalu bodoh mengejar seorang pria yang jelas-jelas tak mencintainya.

__ADS_1


“Baiklah Nona, boleh aku hanya menunggu di dalam mobil? Aku merasa tak enak badan hari ini,” ujar Sam.


Aurora hanya menghembuskan napasnya pelan, ia membuka sendiri pintu mobilnya dan mendelik pelan kearah Sam. “Baiklah. Untung hari ini aku sedang merasa bahagia, jika tidak aku akan langsung mencari asisten baru yang lebih berguna,” ucap Aurora kesal.


Aurora berjalan seorang diri menuju pintu masuk restoran yang langsung di sambut dengan baik oleh para pelayan. Setelah menyebutkan namanya, Aurora di arahkan menuju ruangan VVIP.


Dua anak buah Axton yang sudah berdiri disana membuka kan pintu ruangan dengan begitu sopan, “Terima kasih,” ucap Aurora manis.


Baru saja pintu ruangan tertutup, Axton terlihat berjalan menghampirinya, wajah tampan yang begitu ia rindukan kini menampilkan senyum untuknya kembali.


Aurora hendak membalas ucapan itu, namun ia mulai merasa ada yang janggal, Axton tak terlihat sedang sedih seperti yang ia ucapkan dipesan, Axton tersenyum dan tampak baik-baik saja.

__ADS_1


“H—hai,” gugup Aurora. “Kau baik-baik saja?” Tanya Aurora.


Axton tertawa kecil, ia menganggukkan kepalanya dan merentangkan kedua tangannya seolah menunjukkan jika ia sedang dalam kondisi baik. “Tentu saja, aku sangat baik-baik saja.”


“Lalu maksud dari pesan yang kau kirimkan?” Tanya Aurora, jangtungnya berdegub dengan kencang.


“Aku hanya ingin bertemu dengan mu untuk meluruskan suatu hal, mari aku tunjukkan,” ucap Axton, badan menawan itu berbalik dan berjalan kearah meja yang baru Aurora sadari jika ada banyak kertas di sana.


Dengan perlahan kaki Aurora melangkah menuju meja yang dipenuhi kertas-kertas itu, ia sedikit penasaran dengan apa yang akan di tunjukkan Axton. “I—ini.”


“Ini adalah bukti semua kejahatan mu Aurora, aku bisa saja memasukkan mu ke dalam penjara dengan semua bukti kuat ini, tapi jika kau berjanji akan menghentikan semua ini dan tidak akan pernah kembali ke Mexico, aku akan membebaskan mu.”

__ADS_1


Aurora tertawa kecil, namun ia tak bisa menutupi rasa terkejutnya. “Kejahatan apa? Aku tak melakukan apapun,” kekeh Aurora.


“Berhenti berpura-pura Aurora atau aku akan membuat keluarga mu bangkrut, aku tahu bisnis Ayah mu sedang dalam keadaan buruk, kau ingin aku mempercepat proses kebangkrutan kalian?”


__ADS_2