Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
Memaafkan


__ADS_3

Axton melepaskan dasi itu dengan paksa, ia menatap pantulan wajahnya di cermin. Arabella benar-benar membuatnya kesal, sepertinya tak ada hari tanpa perdebatan bagi mereka.


Ia mendekatkan diri pada cermin, wajahnya sedikit memiring dan memperhatikan luka kecil yang ada diatas telinganya. "Sial," gumam Axton, ia menyalakan kran air dan membasuh luka kecil itu dengan jemarinya. Seharusnya ia berpikir fokus, tidak memikirkan wanita keras kepala itu yang menyebabkan Axton kehilangan sedikit konsentrasinya.


Setelah merasa cukup dengan luka kecil itu, Axton memutuskan untuk membersihkan dirinya, hari ini cukup melelahkan bagi Axton, terlalu banyak kejadian yang tak terduga.


\~

__ADS_1


Arabella terdiam kembali, wajahnya tampak muram sambil menatap paper bag yang ada di hadapannya, ia membuka pepar bag itu dengan pelan dan menemukan sebuah gaun yang begitu indah. "Aku tak seharusnya membuat dia marah," gumam Arabella pelan, jika dipikir memang Axton tidak begitu kejam, pria itu tak pernah berbuat kasar ataupun menyakitinya, hanya ucapan pedas yang Arabella yakin hanyalah sebuah ancaman belaka, tak ada keseriusan disetiap ucapan yang sering ia lontarkan.


Arabella pun melayangkan pandangannya pada pintu kamar mandi yang mulai terdengar suara geremicik air. Arabella menghembuskan nafasnya keras, ia pun bangkit dan menaruh peper bag tersebut di atas meja. Arabella berjalan kearah koper kecil yang ada diatas meja berwarna putih disamping tempat tidur. "Mungkin baju santai untuk sore ini," gumam Arabella pelan. Ia pun menyiapkan pakaian yang akan digunakan Axton sore ini, ia tetap harus minta maaf dan berterima kasih pada Axton yang sudah menolongnya tadi.


Ya, walaupun itu memang sudah tanggung jawab Axton karena sudah membawanya dalam masalah yang ia hadapi hanya karena membawa koper hitam misterius itu.


\~

__ADS_1


Sudut bibir Axton menarik kecil keatas, ia tak menjawab ucapan Arabella dan menatap wanita itu sampai menoleh kearahnya. Tak berapa lama, benar saja, Arabella memberanikan diri mengangkat wajahnya menatap Axton yang tak mengeluarkan kata sedikit pun."A—aku ingin meminta maaf untuk kejadian tadi, a—aku juga ingin berterima kasih kau sudah menyelamatkan aku," ucap Arabella pada akhirnya. Ini yang Axton inginkan dari tadi, mendengar setidaknya kata terima kasih, bukan menuduhnya dan menyulut emosi Axton yang kelelahan.


Kali ini Axton tersenyum, ia mengambil pakaian yang ada ditangan Arabella. "Aku pikir kau tidak tahu berterima kasih Bella, baiklah, aku memaafkan mu," ucap Axton. Nada suara itu begitu lembut, tatapan yang begitu tenang pun kembali terlihat tampak ceria. Tak ada lagi tatapan tajam yang menakutkan seperti tadi, dan itu membuat ketampanan Axton berkali-kali lipat bertambah.


Lagi-lagi Arabella hampir menahan nafasnya sebelum pada akhirnya Axton kembali masuk ke dalam kamar mandi, terpesona itu kah Arabella pada sosok Axton? Ia tak bisa lagi menahan debaran jantungnya setiap kali menatap Axton di waktu tertentu.


Wajahnya seketika bersemu merah, Arabella merasa ada yang salah dengan dirinya, ia dengan cepat menggelengkan kepalanya dan kembali duduk diatas sofa.

__ADS_1


__ADS_2