Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
TSM Bab 149 - Alasan Sebenarnya


__ADS_3

Liam menutup pintu mobilnya dengan cukup kuat, kini di area parkir restoran tersebut hanya tinggal mobilnya seorang diri yang tersisa, karena semua anggota Black Venom telah pergi untuk mencukur rambut mereka.


Awalnya Rilly memang terkejut, masih tak percaya jika Liam menginginkan dia di tempat ini.


Tapi setelah Liam menciumnya, setelah Liam meraba seluruh tubuhnya dengan lembut barulah Rilly yakin.


Ya, mereka akan bercintta di sini.


Membuat sensasi baru yang justru membuatnya candu, Rilly bergerak tanpa peduli jika mobil itu pun ikut bergoyang.


Fokus Rilly hanya ada pada sang suami, pada dessah yang tak bisa dia kendalikan.


Ouh Honey, rintih Rilly saat gelombang dahsyat itu datang untuk pertama kali.


Dan goncangan mobil itu pun makin nampak jelas.


Liam tersenyum penuh kemenangan.


Malam bergulir.


Hari pun berganti.

__ADS_1


Sampai akhirnya tiba di hari pernikahan Frans dan Zena.


Kakek Agung ikut ke kota Servo untuk mengawasi Liam dan semua anggota Black Venom. Kakek Agung benar-benar menepati ucapannya untuk mengawasi semua orang.


Dengan begitu dia jadi merasa tenang ketika membiarkan sang anak bersama segerombolan pria berbadan kekar itu.


Pernikahan ini digelar secara sederhana di salah satu tempat ibadah, meski pernikahan itu hanyalah pernikahan sederhana tapi Frans membelikan cincin berlian untuk pernikahannya dengan sang wanita pujaan.


Frans setelah mengusahakan yang terbaik untuk mempersunting Zena.


Hari ini kakek Agung berdiri di samping Zeon, menemani pria yang hidup sebatang kara itu untuk mengantar adiknya menikah.


Selepas janji suci diucapkan oleh Frans, Zena menangis dan membuat suasana jadi haru.


"Sudah jangan menangis, apa Frans memaksa mu untuk menikah dengannya?" tanya kakek Agung, sebuah pertanyaan yang membuat beberapa orang terkekeh.


Ya, mungkin saja Frans lah yang memaksa Zena, karena itulah di hari ini Zena banyak sekali menangis.


Disaat semua orang tertawa, Frans menunjukkan wajahnya yang dingin.


Aku memang memaksanya, tapi Zena pun dengan suka rela menyerahkan diri. Batin Frans, tidak mungkin dia menjawab pertanyaan kakek Agung, karena itulah dia hanya bisa membatin.

__ADS_1


"Tidak Kek, Frans tidak memaksa ku. Aku akan berhenti menangis," jawab Zena, dia juga menghapus air matanya. Lalu coba tersenyum dan menatap sang kakak juga.


Besok saat Frans kembali ke Indonesia, Zena akan ikut. Itulah satu-satunya hal yang kini membuat Zena bersedih.


Malam hari.


Kini mereka semua menginap di rumah Zeon yang mewah itu.


Frans dan Zena sudah sejak tadi masuk ke dalam kamar.


Anggota Black Venom yang lain entah kemana, sepertinya mengantar Riko ke makam Dicky. Malam bukan penghalang, mereka tetap mendatangi tempat pemakaman itu.


Liam, Rilly, kakek Agung dan Zeon duduk di teras rumah, menyaksikan malam di kota Servo yang selalu nampak penuh cerita.


"Kamu tidak ingin pindah ke Indonesia?" tanya kakek Agung pada Zeon.


"Tidak Kek, aku sudah membeli sebuah perusahaan di sini. Sekarang pekerjaan ku cukup banyak," balas pria itu. Sebenarnya tidak benar-benar membeli. Dengan kemampuannya meretas data, dia merusak saham perusahaan tersebut. Lalu disaat harga sahamnya anjlok, Zeon membelinya.


Rilly hanya mengangguk-angguk saja, cukup mendengarkan. Sementara tangannya sibuk menggenggam tangan sang suami. Liam juga terus mengelus tangan sang istri dengan lembut.


Melihat pemandangan itu, Zeon diam-diam membuang nafasnya perlahan.

__ADS_1


Liam dan Rilly lah alasan sebenarnya kenapa dia tidak ingin pindah ke Indonesia.


__ADS_2