
Malam ini Oma Putri dan kakek Agung sudah terlelap, sepasang suami istri itu tidur di ranjang yang sama. Oma memang meminta ranjang dengan ukuran besar, hingga bisa menampung mereka berdua.
Sementara Liam dan Rilly masih setia terjaga hingga di jam 10 malam.
Mereka saling pandang dan berulang kali melontarkan kata maaf.
Banyak sekali hal yang sudah terjadi dan membuat mereka mengambil pelajaran dari hal itu.
Rilly kadang masih menangis, menyesalkan semuanya.
Liam sungguh ingin mencium sang istri untuk menenangkan, namun takut malah mengganggu Oma dan kakek. Tau sendiri, bahwa saat mereka saling mencium bisa saja lepas kendali.
Rencananya mereka hanya akan berada di kota Servo selama 3-4 hari, tapi karena Rilly sakit dan Oma Putri kondisinya melemah akhirnya mereka tetap di sini selama 2 mingguan.
Selama itu pula mereka tinggal di rumah Zeon yang baru, setelah sadar Zeon mengatakan semua harta Karun Darkness pada Liam, uang di Bank dalam jumlah besar, berbagai macam jenis perhiasan mewah di bawah tanah dan masih banyak lagi.
Dengan semua kekayaan itu bukan hal yang sulit bagi Zeon untuk mendapatkan rumah besar dalam waktu satu jam.
Sekejab saja rumah mewah itu telah dimiliki oleh pria itu, dan pada akhirnya jadi tempat tinggal mereka semua.
Rilly, Liam, Oma Putri, kakek Agung dan semua anggota Black Venom.
Sementara Zeon tinggal di rumah kecil milik sang adik.
__ADS_1
Reza dan Ryan sangat khawatir dengan keadaan keluarganya di sana, jadi akhirnya mereka memutuskan untuk datang menjemput.
"Tidak usah Rez, besok kami pulang," tolak Oma Putri.
"Benar ya besok pulang? jika tidak aku dan Ryan akan datang langsung ke sana," balas Reza pula.
Mereka terhubung dalam sambungan telepon.
"Iya, ini juga sudah bersiap-siap kok."
"Mana Liam?" tanya Reza pula, kini yang bisa dia percaya untuk menjaga keluarganya di sana adalah Liam, karena itulah dia selalu bertukar kabar dengan adik iparnya tersebut.
Reza tentu saja masih memperlakukan Liam dengan sangat baik, karena dia tidak mengetahui apa-apa. Andai Reza mengetahui yang sebenarnya jelas sikapnya pun akan berubah seperti oma Putri dan kakek Agung.
Itulah yang diinginkan oleh Oma dan Kakek, meski hati mereka hancur Tapi biarlah keluarga ini tetap utuh sebagaimana mestinya.
"Ini Liam, bicara lah," jawab Oma Putri, dia juga langsung menyerahkan ponselnya kepada sang menantu dan Liam menerima uluran ponsel itu dengan segera.
"Halo Mas," jawab Liam. Dia juga sedikit menyingkir saat menjawab panggilan telepon itu.
Asik saling bicara dengan sang kakak ipar dia sampai tidak menyadari jika Oma Putri terus menetap ke arahnya.
Huh! berulang kali Oma Putri menarik dan membuang nafasnya perlahan, sedang berusaha membuang rasa mengganjal yang ada di dalam hati.
__ADS_1
Entah bagaimana lagi caranya agar dia benar-benar bisa memaafkan pria itu, selama dua minggu berada di kota Servo, Oma terus saja memarahi Liam.
Tapi Liam tetap menaruh hormat padanya, bahkan dia baru tau bahwa selama ini Liam lah yang menyiapkan makanan untuk sarapan dan makan malam.
"Ini Oma, sudah teleponnya," ucap Liam, dia kembali menghadap pada Oma Putri dan mengembalikan ponsel itu.
Liam, Oma Putri, kakek Agung, Rilly dan Dansel sedang ada di kamar Oma, beres-beres barang sebelum besok pulang ke Indonesia.
Oma Putri lantas menerima ponselnya kembali.
Sebelum Liam kembali menghampiri Rilly di sebelah sana, Oma lebih dulu bicara.
"Kamu harus bisa bujuk Rilly, buat dia jangan takut untuk hamil lagi," ucap Oma lirih, dia tau sang anak merasa takut untuk hamil kembali. Takut kembali tak bisa menjaga anak yang dikandungnya.
Takut membunnuh anaknya sendiri lagi.
Oma sudah berusaha menenangkan Rilly, tapi kemudian sadar yang bisa melakukannya hanyalah Liam.
"Oma tidak perlu khawatir, tadi malam kami sudah membuatnya," jawab Liam.
"Astaghfirullahaladzim!!" geram Oma Putri, dia langsung mengambil bantal sofa dan memukul tubuh menantunya itu.
Bugh!
__ADS_1
Tapi Liam malah tertawa.
Tawa yang membuat suasana di kamar itu seketika riuh dan hangat.