Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
TSM Bab 152 - Masam Sekali


__ADS_3

"Kenapa mereka lama sekali? apa Rilly tidak hamil ya?" tanya Serge, bertanya pada semua orang. Padahal di antara mereka semua tidak ada satupun yang tahu jawabannya.


Jadi semua orang hanya mampu mengedikkan bahu dan terus menatap ke arah pintu toilet itu.


Sampai entah di menit keberapa akhirnya pintu itu pun terbuka, dilihat jelas oleh mereka semua sang tuan dan Rilly yang keluar dengan tersenyum lebar.


Bahkan nampak jelas jika bibir wanita itu begitu basah dan sedikit merah, menandakan bahwa di dalam sana tadi jelas keduanya saling berciuman.


Astaga, Dansel hanya mampu geleng-geleng kepala. Sejak tadi mereka semua menunggu dengan cemas, tapi sepasang suami istri itu tetap merasa dunia ini hanyalah milik mereka berdua.


Jika sudah seperti ini yang mereka lihat, maka tidak perlu dipertanyakan lagi, jelas saja Rilly pasti hamil.


"Bagaimana Tuan? apa Rilly hamil?" tanya salah satu anggota Black Venom.


"Iya, Rilly hamil," jawab Liam dengan bangga.


Dan setelahnya kata Alhamdulillah menggema di dapur itu.


Alhamdulillah hari ini yang kemudian jadi Astaghfirullahaladzim seminggu kemudian.


Pasalnya Rilly mendadak berubah jadi sangat sensitif gara-gara kehamilannya tersebut.


"Ya Allah, ini kan cuma rumus dasar, ditambah langsung total, jadi kalian nggak mungkin salah hitung," ucap Rilly dengan menangis, sampai lelah hatinya jadi guru para anggota Black Venom tersebut.

__ADS_1


Di depan mereka semua nampak jelas layar monitor Microsoft Excel, sudah 3 kali Rilly menjelaskan namun semua orang mengeluh belum paham.


Hatinya yang lembut merasa seperti dibodohi, orang-orang itu jelas hanya berbohong saja, hanya untuk mempermainkan dia, lantas pura-pura tidak memahami semuanya, memiliki pemikiran seperti itulah akhirnya kini Rilly menangis.


Dan seketika membuat semua orang kelabakan. Mereka belajar di ruang pertemuan yang tersedia di mansion tersebut. Jadi was-was sendiri, bagaimana jika tiba-tiba tuan mereka mendatangi ruangan ini.


"Ini salahmu!" bisik seseorang, menyalahkan Serge, pasalnya yang terakhir bicara tentang tidak paham adalah pria itu.


"Enak saja aku yang salah, kan kalian juga tidak paham," bela Serge, menjawab dengan suara yang pelan namun penuh penekanan, Dia pikir Rilly tidak mampu mendengar ucapannya itu. Tapi nyatanya Rilly mampu mendengarnya dengan jelas.


"Sudah lah, memang aku yang salah. aku yang bodoh, tidak bisa menjadi guru kalian," ucap Rilly, kini menangisnya jadi sesenggukan dan menyalahkan diri sendiri.


Rasanya sedih sekali ketika tidak dihargai seperti ini, padahal dia sudah melakukan yang terbaik agar semua orang bisa mengerti apa yang dia ajarkan.


"Tidak usah, kalian pergi saja, aku mau sendirian," tolak Rilly.


Semua orang menggaruk kepalanya frustasi, lebih baik mereka menghadapi Rilly yang suka marah-marah dibandingkan Rilly yang seperti ini.


"Cepatlah bujuk Rilly agar diam, jangan sampai


Rilly masih menangis ketika Tuan Liam datang nanti," bisik yang lain, sangat was was.


Serge yang paling was was pun akhirnya maju paling depan.

__ADS_1


"Maafkan kami Ril, sebagai permintaan maaf aku akan mengabulkan semua keinginanmu. Katakan, Sekarang kamu mau apa?" tanya Serge langsung.


Dan benar saja, ketika mendengar ucapan Serge itu tangis Rilly seketika berhenti.


Dengan kedua tangan yang menghapus air matanya sendiri Rilly pun bicara ...


"Benar?" tanyanya dengan suara yang terdengar begitu lembut, menuntut kepastian.


"Iya," balas Serge mantap.


"Aku tidak mau apa-apa, hanya ingin makan sesuatu yang masam. Tapi aku tidak mau buah, aku tidak mau tanganku kotor," jelas Rilly.


"Jadi apa?" tanya Serge pula.


Permen-permen, bisik yang lain dari belakang kata permen itu sampai maju ke telinga Serge.


"Permen?" tanya Serge dan Rilly langsung mengangguk.


"Tapi belinya di apotek, warnanya kuning, aku lupa namanya apa, cep cep masam sekali," balas Rilly, seraya membayangkan permen itu.


Tapi semua orang malah ingin muntah ketika membayangkannya, di apotek dalam bayangan mereka hanya ada permen obat yang sangat pahit.


Huwek! batin semua orang.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan belikan untuk mu sekarang," jawab Serge, meski dalam ottaknya masih sangat ragu benarkah ada permen di dalam apotek, tapi tetap saja dia pergi ke sana.


__ADS_2