
Axton baru saja mendapatkan info yang menarik tentang Daniel, ia mendapatkan sebuah foto dimana Daniel baru saja memeluk seorang perempuan dan cukup lama berada di dalam rumah itu. Namun bukan itu yang membuat foto tersebut menarik, ada satu hal yang janggal, mengapa Daniel harus menemui Edlyn, sahabat Arabella sendiri, Axton yakin di antara mereka berdua bukan hanya antara teman melainkan ada sebuah perasaan yang terikat, orang suruhannya pun mengatakan jika satu bulan ini Daniel memang cukup sering bertemu dengan Edlyn, sedangkan saat ia mencari informasi mengenai Arabella saat dulu, ia tak mendapatkan informasi jika Edlyn cukup dekat dengan Daniel, lalu mengapa akhir-akhir ini mereka menjadi dekat?
“Apa kau tidak dingin duduk disini sepanjang malam?” Suara Arabella yang menyadarkan Axton dari pikirannya sendiri membuat Axton menoleh kearah Arabella, ia cantik dengan wajah polosnya, tapi Axton masih ingin memberikan hukuman kecil untuk perempuan ini.
Axton memasang wajah seacuh mungkin, ingin mengetahui sejauh mana Arabella akan membujuknya. “Tidurlah, sudah malam,” jawab Axton kemudian, ia mengambil kopi dan meminumnya pelan. Tak lama, Arabella duduk disampingnya, menatap wajah Axton yang kini baru saja kembali membaca informasi lainnya.
“Aku tidak ingin kita bertengkar seperti ini,” ucap Arabella pelan, sangat pelan bahkan nyaris hilang dibawa angin malam.
Axton menahan dirinya untuk tersenyum, Arabella tampaknya sudah putus asa dan mulai membujuk Axton. “Siapa yang bertengkar?” Tanya Axton polos, ia menaruh ponselnya dan mulai menatap wajah Arabella yang tampak lelah.
__ADS_1
“Kita. Sahabat ku pernah berkata, pasangan tidak boleh pergi tidur sebelum menyelesaikan pertengkaran mereka, aku ingin kita berbaikan terlebih dahulu, Axton.”
Axton mengerutkan keningnya pelan, matanya menatap Arabella seakan menggodanya. “Jadi menurut mu kita pasangan?”
“Tentu saja, apa kau keberatan?” Tanya Arabella. Ini yang Axton mau, Arabella bersikap lembut dan tidak menyebalkan serta keras kepala, apalagi sampai menangisi seorang pria yang tidak setia. “Sudahi pertengkaran ini,” lanjut Arabella memohon, bahkan kini tangannya menggenggam tangan Axton yang berada di atas meja.
“Kita tidak bertengkar Bella, kita tidak sedang berdebat bukan?” Tanya Axton masih berpura-pura tak mengerti dengan maksud yang Arabella ucapkan.
“Aku sedang berbicara dengan mu,” jawab Axton santai. Menikmati wajah cantik yang tengah putus asa itu.
__ADS_1
“Bukan begitu maksud ku! Mengapa kau mendiami ku dari siang tadi? Apa aku melalukan kesalahan?” Tanya Arabella.
Axton menaikan sebelah alisnya, “Apa kau tidak merasa berbuat salah?” Tanya Axton kembali.
“Baiklah, aku memang bersalah, tapi hanya itu cara yang aku punya untuk menangkan diri, aku minta maaf jika itu membuat mu marah, aku sudah memilih mu bukan? Seharusnya kan mengerti posisi ku.”
Axton menarik tangannya dari kedua telapak halus itu, ia menatap Arabella dengan serius kali ini. “Begini Bella, kau memang membutuhkan waktu untuk bersedih, dan tanpa sadar kau mengingat kenangan baik antara diri mu dengan mantan kekasih mu. Tapi apa yang kau lakukan? Kau menangis di depan ku, membela pria itu seolah kau keberatan dengan keputusan mu sendiri.” Axton kini mengambil kedua tangan Arabella, “Cara mu menuangkan kesedihan tidaklah normal, kau sudah memilih ku, tapi pikiran mu pada pria lain, dan kau harus tahu aku cemburu dengan hal itu, aku tak ingin kau membagi hati mu pada orang lain, sudah hampir 10 tahun aku menutup hati ku untuk wanita lain, dan kau wanita pertama yang berhasil meluluhkan ku.”
__
__ADS_1
Like komen jangan lupa