
"Dansel mana?" tanya Rilly, dia benar-benar ingin menyelesaikan masalah dengan pria itu. Ingin bertanya nomor siapa yang sebenarnya Dansel berikan padanya. Dan siapa yang memerintahkannya berbuat kurrang ajjar seperti itu.
Dan Dansel yang namanya disebut langsung memejamkan mata, rasanya dia ingin pergi jauh meninggalkan dunia ini, kemana pun asal tidak bertemu Rilly lagi.
Saat itu Dansel ada di paling ujung, paling jauh dari posisi Rilly berdiri.
Sstt! isyarat Dansel pada Serge yang ada di sampingnya, dia ingin bersembunyi saja dan tak ingin bertemu dengan wanita itu.
Tapi siapa sangka, teman yang selama ini sudah dia anggap keluarga ternyata berkhianat dengan begitu tega.
"Ini Dansel!" ucap Serge dengan kuat, bahkan sampai semua orang membuka jalan untuknya.
Huh syukurlah! batin semua orang, tidak apa Dansel jadi tumbal, dia telah berkorban untuk banyak orang.
Dansel makin tak bisa menghindar saat Serge menariknya ke depan.
"Ini Nyonya, kami permisi," ucap Serge, seolah baru saja menyerahkan hasil tangkapannya.
Rilly langsung tersenyum miring, sementara Dansel hanya bisa pasrah.
"Urusan kita belum selesai kan?" tanya Rilly, saat di ruang tengah itu hanya ada mereka berdua.
"Kemarin saat bertemu kita belum banyak bicara, aku sudah terlalu merindukan Liam lalu sibuk dengan pernikahan," tambah Rilly.
Dansel sudah was-was.
__ADS_1
"Jadi sekarang katakan, nomor ponsel siapa yang waktu itu kamu berikan padaku?" tanya Rilly, dalam sekejap suaranya berubah jadi dingin, suasana di sana mendadak jadi mencekam.
"Tau kah kamu, tiap hari aku terus menelpon nomor itu hingga beberapa bulan," kata Rilly kemudian.
Dansel sontak bersimpuh di hadapan wanita tersebut, dia tau telah salah, memberikan harapan tanpa jawaban.
"Maafkan saya Nyonya, maafkan saya," jawab Dansel, dia menundukkan kepala dan hanya berani menatap lantai.
"Apa Liam yang meminta mu untuk memberiku nomor palsu itu?"
"Tidak, itu hanya inisiatif saya sendiri. Setelah misi selesai Anda bukan lagi bagian dari Black Venom."
"Berdiri," titah Rilly, amarahnya benar-benar diuji.
Saat itu juga Rilly memutar setengah tubuhnya dan melayangkan sebuah tendangan kuat di Dadda Dansel, sampai pria itu jatuh ke lantai.
Brug!
Seluruh anggota Black Venom yang mengintip sontak mendelik.
"Harusnya katakan saja seperti itu, katakan aku bukan lagi bagian dari kalian, tapi kamu justru memberiku nomor palsu, kamu memberiku harapan," balas Rilly.
Dansel bangkit dan berdiri lagi di hadapan Rilly.
"Maafkan saya Nyonya, saya salah, saya akan terima semua hukuman," ucap Dansel.
__ADS_1
Rilly kembali menyerang pria itu dan Dansel hanya menerima tanpa perlawanan.
Liam yang datang ke ruang tengah dan membawa segelas air putih cukup tercengang, namun dia diam saja, tak ingin ikut campur urusan keduanya.
Lagi pula Liam tak pernah memerintahkan Dansel untuk memberi Rilly nomor palsu. Liam hanya mengatakan bahwa setelah misi ini selesai Rilly bukan lagi bagian dari Black Venom.
Dansel menggunakan perasaannya, melihat Rilly menangis dia tak tega, karena itulah Dansel beri nomor palsu itu agar Rilly diam.
Dan inilah hasil dari menggunakan perasaan, yaitu di hajar.
Malam ini Rilly menumpahkah semua kekesalannya pada Dansel, mulai esok tak akan ada lagi yang menganjal di dalam hati wanita tersebut.
Seluruh anggota Black Venom hanya mampu menelan ludah melihat adegan itu, mereka baru saja pensiun jadi Mafia. Tapi sekarang malah wanita itu yang baru masuk jadi mafia.
Astaga, batin semua orang kompak.
Setelah Dansel babak belur, Rilly membantunya untuk bangun.
"Aku tidak mau dipanggil Nyonya, panggil saja Rilly," ucap wanita itu.
"Tidak masalah, yang masalah adalah tangan mu, jangan sentuh pria lain." Liam yang menyahut, pria itu bahkan menarik Rilly hingga akhirnya Dansel jatuh lagi.
Brug!
Astagaa dobel sial, batin Dansel dan orang-orang yang mengintip.
__ADS_1