Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
Rencana Jahat


__ADS_3

Sam yang tengah asik menikmati kopi panasnya tak sengaja melihat Axton yang berjalan dengan begitu angkuh diiringi beberapa pengawal, kening Sam berkerut samar, apakah Aurora kembali gagal dalam rencananya kali ini? Dengan cepat Sam berdiri dari duduknya dan berjalan kearah ruangan VVIP di mana seorang wanita tegah berdiri seorang diri dengan wajah merah menahan kemarahan.


Belum sempat Sam bertanya, amarah Aurora pecah terlebih dahulu, wanita itu menatap Sam dengan tatapan tajam. “Semua rencana ku gagal Sam! Apa tidak bisa sekali saja kau bekerja dengan baik? Selain informasi Axton yang akan menikah kau juga tak mendapatkan informasi mengenai kehamilan Arabella!”


“A—Apa?” Gugup Sam. Ia menelan salivanya dengan keras, tamat sudah riwayatnya, Sam yakin setelah ini pasti ada kata-kata pemecatan untuk dirinya dan ini semua berawal dari Max yang tidak sehandal di profilnya. “Tenang Nona, pasti ada rencana lain, acara pernikahannya besok, kita masih memiliki waktu,” ucap Sam dengan cepat tanpa memikirkan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


Aurora menggelengkan kepalanya, menolak rencana Sam mentah-mentah. “Aku tidak akan lagi mendengaran ucapan mu Sam! Hentikan Max yang tidak berguna itu, cari orang baru untuk melancarkan rencana ku,” desis Aurora di samping telinganya.


Sam dengan cepat menganggukkan kepalanya, “Apapun akan aku lakukan sesuai perintah mu Nona, apa yang kau rencanakan?” Tanya Sam.

__ADS_1


Terlihat senyuman licik dari wanita cantik itu sekilas sebelum dia memberikan sebuah kartu nama ke tangan Sam. “Cari tahu orang yang bekerja di sana, aku tidak ingin kembali dengan tangan kosong. Jika aku tak bisa memiliki Axton, maka siapa pun tidak bisa memilikinya,” ucap Aurora kemudian.


Kebingungan seakan mengelilingi Sam, ia sangat mencurigai jika Axton bukan lah pembisnis biasa, banyak hal mencurigakan dengan kepribadiannya. “Kau tidak bermaksud membunuh wanita itu bukan?” Tanya Sam gugup, karena jujur saja, ia sendiri seakan ragu jika hal itu yang benar-benar ada dipikiran Aurora, Sam takut jika masalah besar akan muncul jika—


“Bukan wanita miskin itu yang akan ku bunuh, tapi bayi mereka. Jika mereka berhasil merebut kebahagiaan ku, maka aku pun akan merebut kebahagiaan mereka,” lirih Aurora.


“Kau sudah memikirkan bagaimana cara menggugurkan kandungan itu Nona?” Tanya Sam kembali.


Mau tak mau Sam harus mulai memikirkan semuanya dengan cepat, ia hanya bisa mengikuti semua rencana yang Aurora inginkan dari pada harus kehilangan pekerjaannya. “Ada seseorang selain Max yang lebih profesional dalam masalah ini Nona, tapi pasti ada bayaran tinggi yang harus keluarkan. Apa tidak masalah?” Tanya Sam meyakin kan.

__ADS_1


“Aku tak peduli berapa banyak uang yang harus aku keluarkan, yang terpenting menurut ku adalah rencana yang aku inginkan berhasil,” ucap Aurora sambil berjalan terlebih dahulu keluar dari restoran, sedangkan Sam berjalan kearah kasir dan membayarnya dengan kartu milih Aurora. Semua pin dari deretan kartu itu sudah Sam ketahui, ia bisa saja kabur dan berbuat jahat, namun kapan lagi ia bisa bekerja dengan mendapatkan boss muda dan secantik Aurora yang begitu ambisius dan selalu tak ingin terkalahkan.


“Terima kasih Tuan,” ucap kasir tersebut sambil mengembalikan kartu kepada Sam.


Sam membuka kan pintu mobil untuk Aurora dan berjalan memutari bagian depan mobil lalu duduk di kursi supir. “Kau tidak ingin kemana-mana lagi Nona?” Tanya Sam.


Aurora menggelengkan kepalanya, “Aku ingin kau datang ke kamar ku malam ini, bawakan wine terbaik dan makan malam untuk ku,” ucap Aurora.


“Baik Nona.”

__ADS_1


“Dan jangan lupa mulai siapkan semuanya untuk besok, aku tidak ingin ada rencana gagal lagi Sam!” Pekik Aurora sebagai peringatan untuk Sam.


__ADS_2