
Setelah hampir dua jam Arabella berdiam diri didalam kamar besar ini dan hanya mengandalkan sebuah televisi yang menemani kebosanannya, akhirnya ia mendengar suara decitan pintu yang terbuka. Dengan cepat Arabella menolah kearah Axton yang tengah menutup kembali pintu kamar, sebelah tangan pria itu tampak membawa sebuah paperbag yang tampak mewah, berwarna pink hitam mengkilat yang elegant.
“Kau sudah bangun?” Tanya Axton, pria itu benar-benar tampak tenang, seakan kejadian tadi siang tak berkesan apapun baginya.
“Tadi itu—“
Belum sempat Arabella menyelesaikan ucapannya, Axton memberikan paper bag yang ada ditangannya kepada Arabella. “Ini pakaian untuk malam nanti, kau sudah meminum obat yang aku siapkan?” Tanya Axton. “Kau pingsan saat diperjalanan pulang, mungkin kau terlalu lelah.”
Arabella berdecak pelan, ia menggelengkan kepalanya dengan keras. “Tidak, kau tidak bisa membodohi aku, aku mengingat semuanya,” jawab Arabella, nadanya sedikit meninggi, ia hampir kehilangan nyawanya!
__ADS_1
Axton menunjukkan wajah tampak kebingungan, pria itu duduk dihadapan Arabella dan menatap lurus Arabella dengan ekspresi yang masih sama. “Mengingat apa? Sudahlah Bella, kau hanya bermimpi buruk,” ucap Axton, sebelah tangan pria itu terulur membuka paksa dasinya, ia tampak kelelahan dan bersandar dibelakang sofa.
“Aku yakin itu bukan mimpi, aku masih merasakan bekas cengkraman tangan pria tadi!” Ucap Arabella yang lagi-lagi tak ingin mengalah, ia membutuhkan penjelasan, setidaknya penenangan dari Axton. Arabella khawatir orang-orang itu masih ada dan kembali melakukan hal gila seperti tadi.
Namun Axton hanya mengangkat kepalanya dari sofa, bibir itu tersenyum kecil. “Jadi kau benar-benar tidak meminum obat itu?” Tanya Axton pelan. “Padahal hidup mu akan lebih baik jika meminum obat itu,” lanjut Axton. Ibu jarinya bermain kecil pada jari-jari lainnya, Axton menatap Arabella cukup lama, mengapa susah sekali untuk Arabella menurut? Axton sudah menyiapkan sebuah obat penenang agar Arabella tak mengingat kejadian tadi, namun rupanya Arabella terlalu sulit ditebak, wanita itu tak menyentuh obat itu sama sekali.
Jantung Arabella berdebar tak menentu, tubuhnya mundur keujung bagian sofa saat Axton berpindah duduk disampingnya. “Sekarang tatap aku Bella, lihat baik-baik apakah aku jahat pada mu?” Arabella menelan salivanya dengan cepat, jelas saja Arabella tak bisa melihat wajah tampan itu dari jarak yang begitu dekat seperti ini.
“Ya, kau jahat sudah memisahkan seorang anak dengan ayahnya sendiri,” jawab Arabella, jantungnya semakin berdebar tak menentu. Bodoh, satu kata yang ada dihatinya untuk dirinya sendiri, mengapa ia begitu senang menantang Axton? Bagaimana jika Axton kembali mengeluarkan senjata itu dan mengarahkan padanya.
__ADS_1
Axton hanya tersenyum kecut, mata mereka bertemu dengan tatapan yang sama tajamnya, saling melawan dan juga berani. “Jika aku benar-benar membiarkan mu, saat ini kau sudah bertemu dengan ibu mu, Bella,” desis Axton cukup tajam, ya, bahkan sangat tajam untuk Arabella, ia seakan diingatkan oleh kematian. Perlahan, wajah keras Axton seakan melunak, ia seakan sadar jika ucapannya tidak begitu pantas dilontarkan. “Sudah, lupakan saja apa yang sudah kau lihat, Bella. Kau masih ingin tidur nyenyak bukan?”
Axton tak menunggu Arabella menjawabnya, ia berdiri dan berbalik hendak pergi meninggalkan Arabella. Namun baru beberapa langkah ia pergi, Axton berhenti dan menoleh kearah Arabella. “Jika kau terus mengingatnya, kau akan dihantui oleh bayangan, bahkan saat kau terlelap tidur sekalipun,” ucap Axton lalu kembali pergi kearah kamar mandi dan menutup pintu itu dengan keras.
\~
Guys dingin, kopi kayanya anget🥶
Haha bercanda✌🏻tapi kalo beneran ngasih gpp💃❤️
__ADS_1