Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
TSM Bab 130 - 10 Pelluru


__ADS_3

Setelah seluruh anggota Black Venom berkumpul di mansion, bukan hal yang sulit bagi mereka untuk mencari keberadaan Zeon.


Melalui kamera CCTV yang terpasang di sepanjang jalan dan berhasil mereka retas akhirnya terlihat dengan jelas di mana Zeon berada saat ini.


Yaitu di markas Darkness yang telah jadi reruntuhan, hanya beberapa sudut yang nampak masih berbentuk ruangan.


kelompok Dragon pasti berpikir bahwa harta Karun itu ditimbun di markas Darkness, karena itulah mereka membawa Zeon ke sana.


Dragon memiliki anak buah yang jumlahnya lebih banyak dibandingkan anggota Black Venom. Senjata utama mereka merupakan pissau bellati.


Tergores sedikit saja akan menimbulkan luka yang begitu menganga.


Liam kembali menoleh ke arah sang istri, sungguh dia tidak ingin Rilly ikut dalam misi mereka kali ini.


Namun Rilly justru membalas tatapannya dengan lebih tajam, awas aja jika berani memintanya untuk tinggal di Mansion. Begitulah kira-kira arti tatapan Rilly tersebut.


"Serge, Canon, Rock, tetap tinggal di Mansion menjaga Zena," ucap Liam, setelahnya dia pun memerintahkan 3 anak buahnya yang lain untuk mendatangi hotel tempat menginap oma Putri dan kakek Agung.


Meski kecil kemungkinannya anggota Dragon mengetahui tentang keluarga mereka, tapi tetap saja Liam ingin berjaga-jaga, tidak ingin kecolongan meski hanya sedikit.


Servo bukanlah kota yang ramah untuk mereka semua.

__ADS_1


"Baik Tuan!" jawab semua orang patuh.


20 orang Black Venom termasuk Liam dan Rilly akhirnya pergi menuju Markas Darkness.


Mereka telah menyewa beberapa mobil untuk digunakan. Dengan kecepatan tinggi mereka melaju, hingga tak butuh waktu lama akhirnya tiba di sana.


"Dragon tidak akan membunuh Zeon, karena Zeon adalah satu-satunya sumber informasi tentang harta Karun Darkness. Jika Dragon mengancam akan membunuh Zeon, itu hanya caranya untuk melarikan diri. Jadi jangan pernah mundur, bunuh semua anggota Dragon," titah Liam.


Rilly hanya mampu menelan ludah saat mendengar perintah itu, dia telah berulang kali diberi penjelasan pada sang suami.


Di dunia Mafia tak ada istilah maaf dan kesempatan kedua, karena kesempatan kedua bukan untuk memperbaiki hidup, namun untuk balas dendam.


Satu-satunya cara untuk memutus semua dendam adalah mengakhiri hidup musuh.


"Ayo," ajak Liam kemudian, mereka akhirnya memasuki area lawan.


"Hya! Siapa kalian!!" pekik anggota Dragon.


Frans dan Dansel maju menembak dengan sisa peluru yang mereka punya.


DOR!

__ADS_1


DOR!


Mereka hanya memiliki 10 peluru, 5 di senjatta milik Dansel dan 5 di senjatta milik Frans. Uang mereka tak sebanyak dulu lagi, jadi tak memungkinkan mendapatkan amunisi senjata dalam waktu singkat. Uang Rilly pun tak bisa mereka gunakan, karena transaksinya pasti akan terlacak oleh Reza. Jadi Semua yang mereka gunakan sekarang hanyalah sisa-sisa dari pertempuran di masa lalu.


DOR!!


1 tembakan meleset dan Dansel mengutuk dirinya sendiri di dalam hati. 1 tahun hanya memegang ayam membuatnya kehilangan sedikit kemampuan.


DOR!


AHK!!


Suara tembakan dan teriakan itu membuat Dragon seketika siaga. Bagaimana bisa ada kelompok yang menemukan mereka di sini.


"Tuan! Mereka adalah Black Venom!!" lapor Jeromi dengan wajah pias. Dia telah kembali beberapa saat lalu dan begitu terkejut ketika melihat wajah Liam Anderson ada di sini.


"A-apa maksud mu?" tanya Dragon mulai gagap.


Siapa yang tak mengenal Liam Anderson di dunia bawah tanah, kabar terakhir pria itu pun telah meninggal dalam ledakan bom bersama Darkness.


Lalu bagaimana bisa pria itu tiba-tiba ada di sini?

__ADS_1


Liam. Batin Zeon, pria yang sejak tadi hanya bisa membatin kini akhirnya bisa tersenyum.


__ADS_2