
Zen. Batin Zeon, terucap satu kata, nama sang adik. Selama ini Zena telah hidup tenang jadi seorang guru di pinggir kota. Namun karena harus mengurus dia, Zena jadi tertarik-tarik ke dalam dunia gelap ini.
Aku mohon Tuhan, jadikan mimpi itu nyata. Batin Zeon lagi. Seumur hidup ini adalah doa yang pertama kali dia buat. Tak tau harus memohon pada siapa lagi selain satu nama itu, Tuhan.
Selama ini Zeon bermimpi bahwa Zena telah berada dalam lindungi Liam.
Bahkan adik perempuannya itu akan segera menikah dengan Frans. Di akhir yang dia ingat Frans akan datang menemui sang adik.
Zeon tidak sadar, bahwa semua itu sebenarnya nyata. Apa yang baginya mimpi adalah apa yang dia dengar selama koma.
Satu yang diyakini oleh Zeon saat ini, nyawanya dan nasib Zena tetap tidak akan aman, bahkan setelah dia mengucapkan kode dan password, serta dimana letak harta karun itu.
Dragon pasti akan tetap membunuhnya dan Zena masih akan tetap terancam dari pria bengis itu.
Jadi keputusannya untuk tetap bungkam adalah yang terbaik.
Liam, aku mohon, datang lah. Batin Zeon.
"Jer! bawa Zena ke hadapan ku!" titah Dragon.
__ADS_1
Bahkan setelah tawanya mereda, dia masih tak mendengar Zeon bicara. Kepalanya mendidih, jika tidak ingat kekuatan yang akan dia dapat dari pria ini, sudah sejak tadi dia habisi Zeon.
Selama ini Dragon hanya menggunakan kelicikan dan kekuatan fisik mereka untuk menguasai wilayah. Dragon tak sebesar Darknes dan Black Venom yang bahkan sampai memiliki sistem untuk meretas banyak data.
Dua kelompok besar telah hancur, karena itulah dia mengambil kesempatan untuk bisa berkuasa.
"Baik Boss!" jawab Jeromi, dia dan lima anggota Dragon yang lain segera pergi dari sana.
Dengan tertawa mereka segera berlari menuju keberadaan Zena saat ini, jika tidak di rumah sakit maka jelas di rumah wanita cantik itu.
"Bukankah kita akan menikmati tubuhnya juga setelah Boss?"
Di tempat lain, Zena tetap bersikukuh ingin melaporkan masalah ini ke polisi, tapi Frans tidak setuju. Dia merasa masalah ini bisa mereka selesaikan sendiri.
Sepasang kekasih itu berselisih di depan rumah sakit.
"Lepas! aku akan pergi sendiri!" sentak Zena dengan kuat, namun Sekuat apapun dia Berusaha tetap saja tak bisa melepaskan cekalan Frans di tangannya. Zena tak bisa menunggu, tanpa Frans dia berniat melaporkan ini semua pada pihak polisi.
"Kamu tidak benar-benar memperdulikan kakak ku, sejak tadi kamu hanya diam dan entah menunggu apa," ucap Zena lagi, diantara rasa putus asa yang mulai menguasai jiwa.
__ADS_1
Frans memang sekarang hanya menunggu, menunggu seluruh anggota Black Venom untuk berkumpul lalu menyerang bersama. Frans tidak bisa bergerak sendiri, justru hanya akan menambah banyak masalah.
"Percayalah padaku Zen, seluruh anggota Black Venom akan datang, setelah itu kita baru bergerak."
"Kapan? kapan mereka akan datang? menunggu kak Zeon mati? hah? seperti itu?!" bentak Zena, dia benar-benar frustasi. Pikirannya sudah melayang keman-mana, tidak tenang.
Dan Frans sungguh tak ingin mereka berdebat seperti ini, lantas tanpa menjawab apapun di segera menarik tangan sang kekasih untuk mengikuti langkahnya, pergi dari sana, menuju markas Black Venom sesuai instruksi Tuan Liam.
"Lepas! aku tidak mau ikut dengan mu! LEPAS!!" pekik Zena, dia bahkan sekuat tenaga menahan kakinya agar tidak beranjak.
"LEPAS!!"
Tanpa aba-aba, Frans pun menggendong Zena di pundaknya.
"HYA! LEPAS!!"
Dan Frans tidak mendengarkan, dia segera menghentikan taksi dan membawa Zena pergi.
Supir taksi tersebut awalnya ragu, namun saat mendengar sang pria bicara dia baru melaju.
__ADS_1
"Dia adalah istri ku," ucap Frans.