
Malam ini Serge lelah sekali.
Setelah dia meletakkan botol Asi di kursi samping kemudi, dia pun segera melajukan mobilnya.
Di tengah-tengah jalan Serge pun mendengarkan lagu Rock agar tidak mengantuk.
Ketika tiba di apotek langganannya, Serge menghentikan mobil. Dia berniat untuk membeli obat penambah stamina.
Pasalnya dia tidak boleh lelah ataupun sakit, besok juga masih harus bekerja di restoran.
"Sepertinya aku harus belikan yang lain juga," gumam pria itu, seraya membuka dompetnya dan melihat uang tunai yang ada di dalam sana. Tapi ternyata jumlahnya tidak banyak.
Namun untunglah, dia membawa kartu debit yang isinya lumayan.
Serge lantas segera turun, malam itu gerimis turun jadi dia sedikit berlari untuk masuk ke dalam apotek tersebut.
Langsung disambut dengan tatapan sendu penjaga apotek tersebut-Cindy.
Serge memgerutkan dahi, bertanya-tanya kenapa wanita itu menatapnya seperti ini.
Serge tidak tahu jika Cindy iba sekali melihat dia, tiap malam selalu repot untuk mengurus istri orang.
Memang suaminya kemana?
Memang tidak ada pelayan yang diminta untuk ke apotek, kenapa harus pria ini?
__ADS_1
Lama-lama Cindy benar-benar terganggu dengan hal itu, sudah hampir 1 tahun dia berpikir seperti ini.
"Mbak, beli obat penambah stamina. 1 box besar yang isinya banyak," ucap Serge.
"Mau yang bagus atau yang biasa?" tanya Cindy, karena banyak pilihannya. Membeli dalam jumlah besar seperti itu biasanya orang-orang akan pilih yang biasa saja.
"Yang bagus," kata Serge, untuk kesehatan dia tidak pilih-pilih.
Sebuah jawaban yang membuat pergerakan Cindy sejenak terhenti, namun kemudian dia tetap melanjutkan aktivitasnya untuk mengambil obat tersebut, penambah stamina yang paling bagus.
"Maaf Pak, kenapa belinya banyak sekali?" tanya Cindy, dia telah meletakkan obat itu di atas etalase.
"Karena yang minum bukan aku sendiri, kamu selalu dapat shift malam jangan lupa juga jaga kesehatan," balas Serge pula.
Saling bertanya dan memberi perhatian kecil seperti ini.
Cindy tersenyum kecil dan mengangguk.
Setelah melakukan pembayaran, tiba-tiba hujan turun deras.
Serge sampai tercengang melihatnya, meski pun dia berlari jelas akan basah untuk masuk ke dalam mobil sana.
"Tunggu pak!" pekik Cindy, saat dilihatnya pria itu hendak menerobos hujan saja. Seolah tidak peduli dengan banyaknya air yang tumpah dari atas langit.
"Ada apa?" tanya Serge, dia menoleh dan melihat wanita apotek itu berlari ke arahnya.
__ADS_1
"Bapak mau nekad? nanti basah, kenapa tidak tunggu sedikit reda dulu," tanya Cindy, lagi-lagi dia tidak tega saat melihat pria ini tersiksa. Karena dia yakin obat penambah stamina juga pasti untuk istri orang itu.
"Tapi aku harus segera pulang, aku membawa Asi untuk anak bossku," jawab Serge.
"Hem, di mobil sana ada Asinya Rilly, setelah memompanya di rumah sakit aku membawanya pulang," terang Serge.
Pikiran Cindy makin melayang kemana-mana, mulai membayangkan jika pria ini lah membantu untuk memompa Asi.
Hubungan terlarrang itu sudah sangat jauh, tak bisa diselamatkan lagi.
Cindy benar-benar kecewa, lantas tanpa sadar dia pun mendorong pria tersebut.
"Ya sudah sana pergi!" kesal Cindy.
Padahal dia punya payung, jadi kesal untuk meminjamkannya.
Serge yang tidak tahu apa-apa pun segera berlari setelah di dorong.
Dia memang harus segera tiba di mansion.
"Boddoh!" kesal Cindy setelah mobil itu menjauh.
Hih! dia bahkan menghentakkan salah satu kakinya di lantai lalu masuk ke dalam apotek.
Hai hai hai, ini buat seru-seruan aja ya. Nemuin jodoh semua anggota Black Venom, hihi
__ADS_1