
Arabella keluar dari mobil, dengan tatapan bingung ia menoleh ke arah Axton. “Pemakaman?” Tanya Arabella.
Axton menganggukkan kepalanya cepat, ia tersenyum sambil menggenggam tangan Arabella. “Kau orang pertama yang akan aku kenalkan pada Mom, sayang,” ucap Axton.
Mendengar hal itu Arabella terdiam, ia tak bisa berkata dan mengikuti langkah Axton yang mulai memasuki area pemakaman. Rumput hijau yang begitu subur tumbuh disetiap makam. “Dulu, saat aku berhasil memecahkan satu misi, aku mendapatkan satu permintaan yang akan Mr. Matthew kabulkan, terdengar seperti sebuah Aladin bukan?” Tanya Axton sambil tertawa kecil.
Arabella hanya terkekeh pelan, jemarinya mengusap pelan tangan Axton. “Lalu apa yang kau minta?” Tanya Arabella penasaran.
Senyuman di wajah tampan itu masih terlihat menenangkan, mereka masih berjalan kearah tengah pemakaman. “Aku meminta untuk memindahkan pemakaman Mom ke tempat yang lebih layak dan pemakaman ini 10 tahun yang lalu sangat mahal bagi ku. Dulu, untuk biaya kremasi bahkan upacara pemakaman aku benar-benar tak sanggup, mereka memilihkan lahan pemakaman umum yang bisa saja diratakan dan di jadikan bangunan kedepannya.”
“Ibu mu pasti sangat bangga pada mu sayang, kau anak yang benar-benar berbakti,” ucap Arabella.
__ADS_1
Axton menggelengkan kepalanya lemah. “Aku hanya anak yang tidak berguna saat Mom masih hidup dan semua cara untuk menyembuhkannya saat itu sangatlah sia-sia,” ucap Axton kemudian. “Disana,” lanjut Axton sambil menatap sebuah makam bertuliskan Jeniffer.
Mereka pun duduk disamping makam, Axton menyentuh nisan tersebut dengan lembut. “Hai Mom, besok aku akan menikah dan aku kemari ingin memperkenalkan kekasih ku, Arabella.” Arabella tersenyum mendengar itu, benar-benar tersentuh dan mengusap lengan Axton pelan. “Tidak hanya kami yang datang Mom, cucu mu pun turut hadir di sini,” lanjut Axton.
\~
Sementara di lain tempat, Aurora baru saja menginjakkan kakinya di Mexico, tempat tinggal yang menyimpan penuh kepedihan dan penyesalannya. Penyiksaan yang selalu dilakukan mantan suaminya membuat Aurora selalu mengingat Axton, menyesal karena memilih seorang pria kasar dan meninggalkan kekasih yang selalu memperjuangkan apa yang diinginkan nya.
“Kau sudah mendapatkan lokasi Cassino yang biasa Axton datangi?” Tanya Aurora pada seorang pria disampingnya.
Pria itu adalah Samuel, biasa di panggil Sam, memiliki perawakan yang tidak terlalu besar namun gagah. “Tentu saja Nona, Cassino nya berada di pusat Kota, kita langsung menuju kesana?” Tanya Sam.
__ADS_1
“Tentu saja,” jawab Aurora, ia tersenyum dengan puas, sekilas menatap riasan wajah melalui cermin depan.
Aurora sangat yakin jika Axton masih menaruh hati pada Aurora, ia tak pernah mendapatkan informasi mengenai Axton yang memiliki kekasih, bahkan sudah beberapa minggu ini ia tak mendengar kabar pertunangan yang dulu Axton ucapkan, semua itu hanyalah omong kosong dan sangat tidak mungkin Axton benar-benar memilliki hubungan bersama wanita semiskin Arabella.
“Apa menurut mu aku cantik Sam?” Tanya Aurora dengan begitu percaya diri membuat Asistennya yang melirik melalui cermin depan.
“Sangat cantik dan memukau Nona, aku yakin pria itu tidak akan berani menolak mu,” jawab Sam. Aurora tersenyum dengan lebar, rasanya ia semakin tak sabar bertemu Axton dengan penampilan terbaiknya.
-
Makasih ya semuanya buat saran dikomentar, sangat membantu🥰
__ADS_1