Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
Black Venom 3 - Dansel Berbeda


__ADS_3

Ya Allah, batin Ella dengan jantung yang masih berdegup hebat.


Ella menunduk untuk menutupi kegugupannya sendiri, menyembunyikan wajah yang sudah terasa panas. Mendapatkan sentuhan kecil seperti itu dari Dansel darrahnya sudah terasa mendidih.


Berdekatan dengan pria itu terasa tak baik untuk jantungnya sendiri.


"Ayo," ajak Dansel, Setelah dia mengambil semua barang-barang di tangan Ella, hanya menyisahkan tas milik Rilly saja. Ella tidak akan keberatan jika hanya membawa tas itu.


Frans juga mengambil beberapa barang di tangan Dansel yang sekiranya bisa dia bawa, lalu langsung pergi lebih dulu dari sana.


Ella hanya bisa mengangguk untuk mengiyakan ajakan Dansel tersebut.


Akhirnya semua orang meninggalkan ruang rawat itu.


Ketika sudah tiba di area parkir semua barang-barang diletakkan dalam satu mobil, mobil yang akan dinaiki oleh Dansel dan Ella.


Sementara tuan Liam dan Rilly akan naik mobil yang dikemudikan oleh Frans.

__ADS_1


"Jika tidak nyaman duduk bersamaku di depan, lebih baik duduk saja di tengah, tidak apa-apa," kata Dansel sebelum dia dan Ella memasuki mobil.


Ella adalah asisten pribadi Rilly, dulu bahkan bekerja di perusahaan keluarga Aditama, jadi Dansel pun sangat menghormatinya juga. jika mereka berdua adu kepintaran Dansel yakin dia akan langsung kalah.


Karena itulah sekarang dia menawarkan kepada Ella untuk duduk di belakang, dia tidak masalah jika duduk sendirian di depan seperti seorang sopir, sungguh dia tidak merasa keberatan sedikitpun tentang hal itu.


"Tidak, aku akan duduk di depan," jawab Ella, suaranya terdengar lembut sekali di telinga Dansel, sangat berbeda dengan suara Rilly yang penuh dengan teriakan.


Suara lembut itu tanpa sadar membuat Dansel tersenyum kecil, rasanya begitu menenangkan di telinga dan menyejukkan hatinya.


"Baiklah, ayo," ajak Dansel kemudian, mereka sama-sama duduk di depan dan mobil pun mulai melaju menyusul mobil Frans yang sudah lebih dulu keluar dari rumah sakit tersebut.


Ella juga berulang kali melihat keluar jendela seolah ingin melihat pemandangan kota Jakarta, padahal kota itu sudah dia hafal di luar kepala. Sebenarnya Ella hanya berusaha untuk menatap ke sembarang arah, asalkan tidak menoleh ke arah Dansel.


Entahlah, kenapa mendadak jadi gugup begini.


Padahal biasanya Ella memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Bahkan dulu dia sering pula bertemu dengan klien seorang diri, tanpa didampingi oleh Rilly.

__ADS_1


Tapi Dansel berbeda, pria itu seolah punya pesonanya sendiri.


Entahlah, pokoknya Ella bingung.


Sepanjang perjalanan itu, tak ada kata-kata diantara mereka berdua. Dansel pun tetap fokus mengemudi.


20 menit kemudian semua orang telah tiba di mansion.


Oma Putri, kakek Agung dan yang lainnya menyambut.


Rilly dan Liam langsung dipertemukan dengan kedua anaknya, baby Jason dan baby Ava.


Rilly yang bahagia menangis lagi, dia ciumi anaknya berulang kali. Dan melihat pemandangan itu Liam adalah yang paling bahagia.


Meski ada sedikit luka di dalam hatinya yang belum sembuh, mengingat anak pertamanya yang sudah lebih dulu pergi ke surga.


Adik-adik mu sudah lahir sayang, ayo kita rayakan bersama. Batin Liam, dia tersenyum seraya mengenang.

__ADS_1


Ella yang melihat pemandangan itu pun tersenyum juga, bahagia akhirnya melihat Rilly bahagia.


Masih tersenyum seperti itu, Ella menoleh ke kanan dan tak sengaja kedua matanya bersitatap dengan dua mata milik Dansel.


__ADS_2