
"Frans, kami datang," ucap Liam.
Sebuah kalimat yang seketika membuat Frans mendelik, kata 'kami datang' di telinganya terdengar seperti 'Cepat pergi'. Dia yang sedang duduk bahkan langsung bangkit berdiri tegap, sampai beberapa anggota Black Venom yang sedang bersama dia menatap ke arahnya.
"Baik Tuan!" jawab Frans patuh, bahkan terkesan buru-buru.
Dan tanpa ada kata-kata lagi Liam pun segera memutuskan sambungan telepon itu.
"Ada apa?" tanya Dansel, saat dilihatnya Frans baru saja mengakhiri telepon itu. Ketika mendengar Frans menyebut panggilan Tuan, dia langsung tau bahwa itu adalah telepon dari Liam.
"Gawat, Tuan akan datang, itu artinya Rilly juga akan ikut kan?" balas Frans, malah balik bertanya.
Plak! secepat kilat Serge memukul pria lancang itu, bagaimana bisa dengan entengnya memanggil Rilly, harus ada Nyonya nya dong, karena sekarang wanita itu telah menikah dengan Tuan mereka.
"Jaga mulut mu, mulai biasakan memanggil beliau dengan sebutan Nyonya, jika tidak Tuan Liam pasti akan mengirris bibir mu," ucap Serge begitu mengerikan, sampai semua orang yang ada di sana bergidik ngeri.
Saat ini mereka semua sedang berkumpul di ruang tengah, ada yang menonton televisi ada pula yang bermain biliar. Sebagian lagi masih berada di dapur dan ada juga yang sudah masuk ke dalam kamar.
Setelah makan malam bersama tadi mereka semua berpencar.
__ADS_1
"Jadi bagaimana ini? apa kita pergi saja?" tanya Dansel pula, dia adalah satu-satunya yang selalu ingin pergi jika ada Rilly.
Entahlah, Dansel selalu merasa hidupnya tak aman. Kesalahan dia hanya 1, hanya gara-gara nomor palsu, namun sialnya dia harus menanggung beban seumur hidup.
"Jangan. Tidak sopan kalau kita pergi, lebih baik kita sambut kedatangan mereka berdua," jawab Riko, si paling cerdas.
Beberapa orang mengangguk setuju atas ide Riko tersebut.
"Baiklah kalau begitu, panggil semua orang dan kita bereskan dulu ini," putus Frans, seraya menunjuk ruang tengah yang nampak sedikit berantakan.
Entahlah, Frans juga mendadak gugup, sampai jantungnya berdegup tidak karuan. Rilly adalah satu-satunya orang yang tak bisa dia tebak, apalah wanita itu akan terlihat begitu anggun seperti saat di hari pernikahan, ataukah justru terlihat mengerikan layaknya Ratu Mafia.
Pasrah adalah satu-satunya jalan yang bisa mereka tempuh, bersyukur masih ada Dansel, karena baginya Dansel memiliki kesalahan yang lebih besar.
Kesalahan Dansel itu seperti bisa menutupi kesalahan semua orang.
Hampir jam 9 malam akhirnya mobil Liam tiba di mansion, beberapa anak buah yang bertugas menjaga keamanan langsung berlari menghampiri mobil tersebut.
Mereka berbaris menyambut kedatangan sang Tuan beserta istrinya.
__ADS_1
Ketika sudah masuk ke dalam mansion, Frans dan yang lainnya pun berbaris rapi pula, benar-benar sebuah sambutan yang cukup spesial. Berbaris seperti ini adalah idenya Serge.
Rilly sejak tadi sudah mengulum senyum. Sementara di dalam hatinya dia tertawa terbahak-bahak. Akhirnya kini resmi jadi istri Liam, itu artinya semua orang menyebalkan ini adalah anak buahnya.
"Selamat datang Tuan, Nyonya, selamat atas pernikahan kalian," ucap Frans mewakili smuanya.
Liam biasa saja, tidak pula tersentuh dengan kata-kata tersebut. Justru ingin ke dapur karena dia haus.
"Bubar lah, untuk apa berbaris seperti ini," balas Liam.
Semua orang langsung melirik Serge dengan tajam, katanya Tuan Liam akan tersentuh, mana? mana? mana?
Serge hanya bisa menunduk menghindari semua tatapan menjengkelkan itu.
Liam lantas berkata pada sang istri bahwa dia ingin ke dapur, Rilly mengangguk. Frans dan yang lainnya pun mulai bubar sendiri-sendiri.
Namun langkah kaki semua anggota Black Venom itu seketika terhenti saat mendengar Rilly bicara.
"Dansel mana?" tanya Rilly.
__ADS_1