Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
TSM Bab 136 - Tidak Ingin Menunggu


__ADS_3

Di rumah sakit.


"Frans, sebenarnya apa yang sudah terjadi? kenapa Rilly dirawat di rumah sakit? padahal kemarin dia masih baik-baik saja, dan kenapa juga wajahmu lebam semua seperti itu?" tanya Oma Putri, banyak sekali pertanyaan yang dia ajukan.


Tadi selama berada di dalam mobil dia menahan diri untuk tidak banyak bertanya, karena tak ingin mengganggu konsentrasi Frans dalam menyetir.


Jadi sekarang ketika mereka semua sudah turun, Oma tak bisa lagi membendung semua rasa penasaran di dalam benaknya.


Saat ini Oma Putri, kakek Agung dan Frans sudah berada di rumah sakit, berjalan menyusuri koridor dan hendak menuju ruang rawat Rilly.


Dan Frans begitu bingung bagaimana caranya menjawab pertanyaan oma Putri tersebut, dia merasa tak punya wewenang untuk menjelaskan semuanya.


Takut salah bicara dan malah semakin membuat masalah jadi runyam.


"Maaf Oma, aku juga bingung bagaimana cara menceritakannya. Nanti tuan Liam yang akan menjelaskannya sendiri," balas Frans.


Oma Putri merasa sangat tidak puas dengan jawaban tersebut, namun saat dia hendak bertanya lagi kakek Agung segera menyentuh lengan sang istri. Sebuah isyarat agar istrinya berhenti bertanya.

__ADS_1


Lagi pula jawaban Frans sama seperti apa yang diucapkan oleh Liam ketika mereka terhubung dalam sambungan telepon tadi.


Bahwa yang akan menjelaskan Ini semua adalah Liam sendiri, bukan orang lain.


Oma Putri membuang nafas kasar, tak bisa membantah perintah samar sang suami yang memintanya untuk diam.


Tiba di ruang rawat Rilly, Oma dan kakek begitu terkejut melihat keadaan sang anak.


Perhatian mereka langsung terkunci pada salah satu tangan Rilly yang terluka.


"Astaghfirullahaladzim Ril, kamu kenapa nak?" cemas Oma Putri, langsung duduk di tepi ranjang dengan gundah.


Tadi malam jelas ada sesuatu yang terjadi pada semua orang.


"Dimana Liam?" tanya kakek Agung, pertanyaan yang dia tujukan kepada Rilly dan Frans, kakek Agung bahkan menatap keduanya secara bergantian.


Sementara Frans dan Rilly tak bisa menjawab pertanyaan itu secara langsung, rasanya lidah mereka begitu kelu untuk mengatakan bahwa saat ini Liam tengah memakamkan Dicki.

__ADS_1


Frans bahkan menunduk, menghindari tatapan kakek Agung tersebut. Sementara Rilly? dia hanya mampu membuang nafasnya perlahan.


"Sebentar lagi mas Liam pasti kembali, kita tunggu sebentar," jawab Rilly.


Oma Putri sudah menangis, sejak tadi hatinya sudah merasa cemas dan ketika berada di sini rasa cemas itu jadi bertambah berkali-kali lipat.


Rasanya akan ada sesuatu hal besar yang terjadi pada keluarga mereka.


"Frans, pergilah keluar, aku akan memanggilmu jika butuh sesuatu," titah Rilly pula. Dia tahu Frans merasa tertekan berada di ruangan ini.


"Baik Ril," jawab Frans patuh, sesuai keinginan wanita itu bahwa Rilly tidak ingin dipanggil dengan sebutan Nyonya, cukup panggil nama saja.


Selepas kepergian Frans, kakek Agung pun ikut duduk di tepi ranjang pula, di sisi lain dari Oma Putri. Kedua orang tua itu memandangi anak perempuannya, melihat jelas kedua mata Rilly yang sembab.


Mengisyaratkan bahwa Rilly baru saja menangis dengan hebat.


"Kakek tidak ingin menunggu Liam, kakek ingin mendengar dari mulut anak kakek sendiri, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya kakek Agung.

__ADS_1


Rilly justru langsung menangis saat mendengar pertanyaan itu.


__ADS_2