Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
TSM Bab 114 - Selamat Datang


__ADS_3

Dengan raut wajah yang nampak begitu ceria Liam akhirnya keluar dari dalam kamar, saat itu waktu sudah menunjukkan jam 8 pagi, semua orang jelas sudah berada di meja makan atau bahkan sudah ada yang pergi entah ke mana.


Kemarin memang hari yang begitu repot karena acara pernikahan itu, tapi hari ini jelas semua orang kembali melanjutkan aktivitas seperti biasanya.


Bahkan anggota Black Venom pun sudah mulai kembali membuka restoran mereka. Pagi tadi Liam sempat menelpon Frans dan membicarakan beberapa hal.


Menuruni anak tangga dengan sedikit berlari akhirnya kini Liam berada di lantai 1, di ruang tengah langsung bertemu dengan kakak iparnya, mbak Ajeng yang sedang menggendong baby Gerald.


Mbak Ajeng usianya lebih muda dibandingkan dia dan Rilly, kadang Liam merasa lebih pantas memanggil wanita itu sebagai adik.


"Selama pagi Mbak," sapa Liam dengan ramah.


"Pagi, kenapa turun sendiri? Rilly mana?" tanya wanita mungil tersebut.


"Rilly sedang mandi," jawab Liam jujur, meski alasan sebenarnya adalah istrinya itu tak bisa berjalan.


"Ya sudah sana ke meja makan, Oma masih menunggu mu," balas mbak Ajeng. Oma memang masih setia duduk di sana untuk menunggu Liam dan Rilly datang, kakek Agung juga ada di sana.


Sementara suaminya dan Sean sudah pergi ke tujuan mereka masing-masing tadi pagi, Reza ke kantor dan Sean ke sekolah.


Melihat sang menantu datang, Oma Putri langsung tersenyum lebar. dia benar-benar memperlakukan Liam layaknya seorang raja, melebihi perlakuannya pada anak sendiri.


"Sini duduk di dekat Oma, minum jamu ini dulu. Kalau sarapannya pasti mau sama Rilly di kamar kan?" ucap wanita paruh baya itu dengan bibir yang setia terus tersenyum. Oma Putri sudah paham bahwa anak perempuannya itu saat ini pasti tidak bisa jalan.

__ADS_1


Badan Liam saja sekekar ini, tak terbayang bagaimana kekuatannya semalam.


"Apa ini? Jamu?" tanya Liam dengan dahi berkerut.


Sumpah dia tidak pernah tahu dengan yang namanya Jamu, warnanya kuning hitam pekat, dari jarak sejauh ini saja dia sudah bisa mencium aromanya. Dan itu sangat tida enak.


"Iya Nak, ini jamu kuat, minumlah, habiskan," titah Oma.


Kakek Agung sudah menahan tawa sejak tadi, makin lucu saat melihat Liam yang bingung dan seolah tak ingin meminum minuman aneh tersebut.


Namun mana bisa Liam menolak keinginan Oma Putri? tentu saja tidak bisa, apalagi di saat dia sudah menganggap wanita paruh baya itu sebagai ibunya sendiri. Maka apapun perintah dan keinginan Oma Putri akan sekuat tenaga dia penuhi.


"Glek! gitu lo, jangan dicium-cium," perintah Oma Putri, gemas sendiri. Rasanya ingin mencekok saja biar cepat.


Dan saat itu juga kakek Agung tak sanggup lagi membendung tawanya.


"Hahaha ya Allah," ucap kakek Agung keceplosan, dan tentu langsung mendapatkan tatapan tajam dari sang istri.


Oma Putri tentu kesal ketika menantu kesayangannya diledek.


"Cepat lah minum, Oma juga membuatkan jamu ini untuk Rilly. sebelum anak itu makan dia juga harus meminum minuman seperti ini," ucap Oma Putri lagi, meyakinkan Liam dengan membawa bahwa nama sang anak.


Ingin Liam tau bahwa jamu Ini aman dan bahkan bukan hanya dia sendiri yang akan meminumnya.

__ADS_1


Dan kali ini Liam benar-benar tak bisa lagi mengelak, dengan terpaksa akhirnya dia meneguk segelas jamu itu.


Glek!


Astaghfirullahaladzim pahitnya.


Glek!


Ya Allah aku seperti mau mati.


Glek!


"Aku tidak sanggup Oma," mohon Liam.


"Habiskan!" titah Oma Putri dan bahkan langsung mencekok Liam dengan jamu itu hingga habis tak tersisa.


Hahahaha, kakek Agung sampai tergelak lebih keras daripada sebelumnya.


Pagi yang begitu lucu bagi pria paruh baya itu.


Pemandangan yang Indah sekali.


Selamat datang di keluarga Aditama. Batin kakek Agung.

__ADS_1


__ADS_2