Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
Mengakhiri Hubungan


__ADS_3

Seperginya Axton, Arabella menatap Daniel yang mulai dilepaskan oleh dua orang penjaga tersebut, mereka memberikan waktu seperti yang diperintahkan Axton. Terlihat jelas Daniel yang masih kesal oleh perlakuan orang-orang Axton, ia menatap marah kearah orang-orang yang kini mulai mundur mengawasi mereka. “Bella,” panggil Daniel kemudian, ia merentangkan kedua tangannya dan bersiap memeluk Arabella.


Namun, Arabella mundur dengan cepat, ia menolak pelukan Daniel dengan raut wajah penuh penyesalan. Daniel tentu saja kebingungan, ia mengerutkan keningnya dan menatap Arabella dengan khawatir. “Ada apa sayang? Kau tidak merindukan ku?” tanya Daniel.


Arabella menggelengkan kepalanya, ia kesulitan mengeluarkan kata-kata untuk mengungkapkan seluru isi hatinya, “Maaf Daniel, aku—”


“Tidak Bella, aku yang minta maaf karena tak bisa membantu mu, kau pasti sangat ketakukan bersama pria jahat itu. Ayah mu memberikan ku pesan jika kau akan kemari, aku langsung bergegas dan aku ingin membawa mu sekarang juga, kita bisa berlari kencang dan mengelabui orang-orang itu,” bisik Daniel pelan.

__ADS_1


Namun lagi-lagi Arabella menggelengkan kepalanya, ia merasa jika dirinya hanyalah seorang pengkhianat yang menjijikan, ia dengan mudahnya mengalihkan perasaannya pada Axton dan tak memikirkan Daniel yang selalu mengkhawatirkannya. “Aku tidak bisa pergi Daniel,” ucap Arabella pelan. “Bagaimana dengan nasib ayah ku jika kita melakukan hal gila seperti itu. Kembalilah Daniel, jangan mencemaskan aku.”


“Itu tidak mungkin Bella, kau kekasih ku, aku tidak bisa tenang jika kau belum bebas,” balas Daniel. Arabella menghindari kontak fisik yang Daniel berikan, ia tak membiarkan Daniel menyentuhnya sedikit pun.


“Waktu kita tidak banyak Daniel, aku hanya ingin mengatakan terima kasih untuk semuanya, aku harap kau bisa melupakan aku dan memulai kehidupan mu yang baru,” ucap Arabella dengan suara gemetar, ia menahan tangis ketika matanya sudah berkaca.


“Tidak Daniel, aku ingin mengakhiri hubungan ini, kau pria yang baik, aku sudah tidak pantas untuk mu,” isak Arabella mulai terdengar, bagaimana pun Daniel adalah pria paling sabar yang menghadapinya. “A—aku sudah mengkhianati mu,” lanjut Arabella tak berani menatap wajah Daniel.

__ADS_1


Sebuah tangan hinggap di bahu Arabella, Daniel tampak cukup kecewa dengan ucapan yang keluar dari mulut kekasihnya. “Apa maksud mu pria itu sudah menyentuh mu?” tanya Daniel pelan, dan sebuah anggukan yang diberikan membuat Daniel terdiam, amarahnya benar-benar meningkat dan ingin menghancurkan wajah angkuh pria tadi, ia tak bisa membayangkan bagaimana sakit hatinya Arabella ketika di paksa oleh pria itu! Daniel menarik nafasnya dalam, “Aku tidak pernah menganggap mu mengkhianati ku Bella, aku akan tetap menunggu mu dan mencari cara untuk membebaskan mu dari sini.”


“Tidak, aku sudah mengkhianati mu Daniel, aku sudah tak pantas untuk mu, pergilah mencari wanita lain yang jauh lebih baik dari ku,” ujar Arabella.


“Kau pantas untuk ku Bella, dia yang memaksa mu, kata pengkhianatan adalah jika kau melakukan hal itu dengan secara sadar dan mau,” ucap Daniel sambil menelan kenyataan pahit tentang dirinya dan Edlyn, ia yang sudah mengkhianati Arabella, sedangkan Arabella mengatakan dengan jujur atas perbuatan yang tidak ia inginkan. Arabella tetaplah menjadi kekasihnya, ia tak pernah mengecewakan Daniel, hingga sebuah ucapan yang diluncurkan Arabella hari ini mengubah apa yang baru saja ia pikirkan.


“Dan aku mencintainya,” ucapan yang begitu pelan keluar dari mulut Arabella, rasanya dunia hancur seketika, itu semua tak mungkin terjadi,

__ADS_1


__ADS_2