
Pagi datang.
Oma Putri dan Kakek Agung hari ini pulang. Ada Ella tinggal di mansion ini pun membuat oma Putri lega juga, pasalnya Ella pun telah jadi salah satu orang kepercayaan di keluarga Aditama.
Selepas mengantarkan pulangnya Oma Putri dan kakek Agung, semua orang pun mulai beraktivitas sesuai tugasnya masing-masing.
Dansel harus segera pergi ke restoran, tapi entah kenapa rasanya ada yang mengganjal di dalam hati sebelum dia melihat Ella. Jadi di saat teman-temannya berjalan keluar dari mansion, Dansel malah masuk sendiri.
"Loh, mau kemana kamu?" tanya Serge.
"Sst! sudah sana pergilah!" balas Dansel acuh, bahkan langsung melengos begitu saja untuk kembali masuk lebih dalam.
"Cih!" balas Serge tak kalah acuh, bahkan berdecih. secara kasat mata mereka memang seperti tidak memperhatikan satu sama lain, tapi percayalah di dalam hati yang paling dalam mereka saling menyayangi.
Bahkan akan rela berkorban nyawa demi keluarga.
Lepas dari rasa penasaran Serge, kini Dansel telah berada di dapur. bibirnya langsung tersenyum ketika melihat Ella ada di sini. Sepertinya dapur ini akan jadi tempat bersejarah bagi mereka berdua, seperti saksi bisu tentang cinta yang perlahan tumbuh.
__ADS_1
"El," panggil Dansel, seraya berjalan semakin dekat, hingga berdiri tepat di samping Ella. wanita cantik ini Tengah menyiapkan sarapan untuk Rilly dan tuan Liam.
"Hem, kenapa Dans? apa ada yang tertinggal?" tanya Ella pula, sejenak dia menghentikan aktivitas kedua tangannya lalu menatap ke arah Dansel. Semua orang sudah pergi jadi Ella bertanya-tanya kenapa Dansel kembali.
"Apa nanti malam kamu ada acara?"
"Tidak."
"apa yang kamu lakukan nanti malam?"
"Tidak ada, mungkin hanya menemani ibu Rilly."
"Tapi aku sudah biasa memanggil seperti itu."
"Baiklah, malam nanti adalah malam minggu, apa kamu ingin pergi denganku?" tawar Dansel kemudian, hingga berhasil membuat Ella seketika mendelik.
Apa? pergi saat malam Minggu? Bukankah itu ajakan kencan? Ya ampun, apa aku tidak salah dengar? Ella jadi sibuk membantin saking terkejutnya, sampai tanpa sempat menanyakan lebih jelas.
__ADS_1
Dan melihat Ella yang diam saja, Dansel justru tersenyum. Sebenarnya dia juga tidak butuh persetujuan Ella, karena mau atau tidak dia akan tetap mengajak Ella untuk keluar malam ini. ini bukanlah tawaran melainkan perintah.
Dansel tidak terima penolakan.
"Bersiaplah, aku akan tiba di mansion saat jam 8 malam. Setelah itu kita akan pergi," kata Dansel, langsung membuat keputusan.
Sebelum pergi dari sana, Dansel juga tersenyum sangat manis.
Membuat Ella makin mematung di tempatnya berdiri.
Ella bahkan masih tetap menjadi patung setelah Dansel pergi dari dapur tersebut.
Sementara Dansel sudah berlari penuh semangat keluar Mansion ini dan menuju mobilnya.
Rasanya sudah sangat tidak sabar untuk menunggu nanti malam.
Dansel tidak sadar, jika dia pergi setelah memporak-porandakan hati seorang gadis. Kini di dapur sana, Ella sudah tersenyum-senyum sendiri tidak jelas, lengkap dengan kedua pipinya yang sudah merah.
__ADS_1
"Astaga, jadi dia mengajakku kencan? Iih ini terlalu lucu. Apa seperti itu caranya mengajak wanita untuk pergi? Aaa, aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri!!" Ella sampai berulang kali menggelengkan kepalanya agar pikiran dia kembali waras.
Tidak boleh terus berdebar karena pekerjaan sudah menunggu di depan mata.