Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
TSM Bab 133 - Keadaan Rilly


__ADS_3

"Permisi Tuan Liam, mari ikut saya ke ruangan. Ada sesuatu hal yang ingin saya sampaikan mengenai kondisi istri Anda," ucap seorang dokter wanita yang baru saja keluar dari ruang rawat Rilly.


Ucapan dokter itu sontak mengambil atensi ketiga pria di sana, Liam, Frans dan Dansel.


Saat itu Liam langsung bangkit tanpa menjawab sepatah kata pun.


Sementara Frans dan Dansel kembali saling pandang.


"Ada apa ini? bukankah luka Rilly hanya di bagian tangan?" tanya Dansel, sementara Frans yang ditanya pun tidak tahu apa-apa. Setahu dia memang hanya tangan Rilly saja yang terluka, tidak ada yang lain.


Jadi Frans hanya bisa menganggukan kepala untuk menjawab pertanyaan tersebut, meski hatinya mulai berbisik ada sesuatu yang tak beres.


Terlebih saat melihat wajah gamang sang Boss.


"Ayo ikuti mereka, kita menguping saja," ajak Dansel, dia paling tidak betah memiliki rasa penasaran. Jadi bagaimana pun caranya dia harus tau tentang kebenaran ini.


"Ayo," Ajak Frans kemudian.


Dengan jarak aman mereka mengikuti Liam dan dokter itu, lalu menempelkan telinga tepat di pintu ruangan sang dokter. Mengerahkan semua kemampuan untuk menguping.

__ADS_1


"Istri Anda mengalami keguguran, kandungannya masih sangat muda jadi ini hanya seperti Nyonya Rilly sedang mengalami datang bulan. Tidak perlu mencemaskan apapun, semuanya baik-baik saja. Hanya saja, anda harus tetap mendukung nyonya Rilly agar mentalnya kuat. Yakinkan bahwa semuanya baik-baik saja dan kalian masih bisa merencanakan program hamil lagi," terang sang dokter. Dia bukan hanya menjelaskan tentang keadaan Rilly, tapi juga tentang peran Liam dalam kesembuhan wanita itu.


Suami adalah garda terdepan untuk jadi penyembuh, karena keguguran yang terluka bukan hanya fisik tapi juga batin.


Liam seketika tergugu.


Dia terdiam tak bisa menjawab apapun.


Sang istri hamil lalu keguguran, sementara dia tidak tahu apa-apa.


Lalu, apa perannya sebagai seorang suami? ketika kondisi istrinya sendiri pun tidak dia ketahui.


Tak lama kemudian Liam memutuskan untuk keluar dari ruangan dokter tersebut, di sana langsung bertemu dengan Frans dan Dansel yang sejak tadi menguping namun tak bisa mendengar apa-apa.


Ada dua anak buahnya di sana tapi Liam seperti tak melihat, dia berjalan begitu saja mengacuhkan keduanya.


Sebuah sikap yang membuat Frans dan Dansel benar-benar bingung.


"Astaga, ini pasti ada sesuatu Frans," ucap Dansel.

__ADS_1


"Tapi kita tidak bisa menanyakannya langsung pada Tuan Liam, lihat lah, dia nampak begitu terpukul."


"Ada apa dengan Rilly?" tanya Dansel lagi. Sudah tau Frans tidak bisa menjawab namun dia tetap saja bertanya.


Jam 2 dini hari, Liam akhirnya duduk di samping ranjang sang istri. Melihat Rilly yang tertidur pulas, tangan kirinya di pasang infus sementara tangan kanannya dipasang perban cukup lebar untuk menutupi semua luka.


Getar ponselnya di saku celana membuat lamunan Liam sedikit buyar.


Dia ambil ponsel itu dan melihat ada pesan masuk dari oma Putri.


Liam, kalian menginap dimana? apa tidak pulang ke hotel? Oma terbangun dan membuka kamar kalian, tapi ternyata kalian tidak ada.


Tulis oma Putri dalam pesan singkatnya.


Liam mengabaikan pesan itu dan kembali memasukkan ponselnya ke saku celana.


Dia kembali tatapi sang istri.


"Ril," panggil Liam lirih.

__ADS_1


__ADS_2