
Semalaman mata Namira tak bisa terpejam, entah dari siang dia sudah tertidur atau memang dia kepikiran hanya author yang tau.
Dari semalam Namira mencoba mencari jalan keluar dia mengetuk setiap dinding kamarnya oh lebih tepatnya gudang. Hanya ada Ranjang kecil dan tumpukan kardus-kardus bekas. Entah apa isinya dia tidak melihatnya. Berpikir mungkin ada jalan tersembunyi. Ada-ada saja khayalan Namira. Ini sudah pagi terlihat dari sorot cahaya yang masuk di lubang ventilasi.
"jendela pun tak ada, hanya ada lubang ventilasi. Gak cukup juga aku lewat disitu".
sambil jemarinya mengetuk dagunya.
ayo berpikir Namira..
Lagi enak-enaknya termenung tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Namira masih asyik dengan pikirannya sendiri, hingga tak sadar sudah ada yang berdiri di depannya.
" kau lagi mikir apa?"
seketika Namira terlonjak kaget. Jantungnya berdebar-debar.
Dengan terbata dia menyahut, "ssa..ya ii..ngin pulang tuan". wajah Namira kelihatan memelas.
" Aku sudah bilang urusanku dengan mu belum selesai. Roy, kau jelaskan padanya."
segera Damian melangkah keluar.
"Ikut aku" kata Roy.
Namira pun mengekor pada Roy. Namira melihat ke sekelilingnya, sampai dia di dapur.
"Kau bisa masak? kata Roy.
"Bisa Tuan, aku terbiasa masak untuk adik-adik" jawab Namira.
__ADS_1
"kalau begitu kamu masak disini, tapi kamu tak bisa pulang. Urusan gaji bisa kami transfer".
Namira diam memikirkan tawaran itu.
Baru saja Namira mau men jawab Roy sudah memotongnya,
" Barang di tempat kos mu sudah kami ambil"
Namira memelototkan matanya,
Aku belum bilang dia sudah tau pikiranku., mereka turunan Cenayang atau gimana sih...
Tak lama masuk laki-laki berbaju hitam membawa tas koper kecil. Sudah pasti itu barang- barang milik Namira.
"Jadi gimana? kamu sudah setuju kan?"
"Gimana mau gak setuju coba, kalau kayak gitu" gumam Namira.
"Ngomong apa kamu? tanya Damian.
"eh,.. gak Tuan. Iya saya setuju Tuan. Saya akan memasak disini".
" hhmm"..
Kemudian Roy pun menunjukkan kamar pembantu buat Namira. Tampak seorang wanita tengah menyapu di halaman belakang. Ternyata disini Namira tidak sendiri ada wanita setengah baya juga.
"mbok.. " panggil Roy pada wanita itu.
"enggeh Den". menghampiri sambil menunduk hormat.
__ADS_1
" Dia akan membantu mbok masak disini, jadi jangan sungkan- sungkan menyuruhnya". Roy pun menjelaskan.
"mbok jangan capek-capek, sekarang sudah ada yang membantu".suara Roy lemah lembut menjelaskan.
" hei, kamu turuti perintah mbok warni. Si mbok akan menjelaskan nanti.
Sekarang bereskan barang mu".
Namira segera berlalu masuk ke kamarnya, ya kamar pembantu. Ada Ranjang kecil, meja dan lemari. Tentu ini lebih dari cukup, dulu di panti dia harus berdesakan dengan teman-temannya.
Terlihat bibir mungilnya tersenyum.
Setidaknya disini aku tak perlu membayar sewa...
Setelah membereskan barangnya Namira segera mencari mbok warni.
"ehm, mbok... boleh kan aku ikut memanggil mbok? tanyanya.
" boleh... memangnya mau panggil si mbok apa selain mbok to nduk?
"Terima kasih ya mbok".
mbok warni pun hanya mengangguk.
"Aku bantu ya mbok", sambil mengambil serok sampah, dengan cekatan Namira membantu mbok warni.
"wah, nduk kamu seperti biasa mengerjakan ini".
" hehehe.. iya mbok dulu waktu masih di panti aku biasa bersih-bersih kayak gini" sambil melap keringatnya dengan punggung tangannya.
__ADS_1