
Zeon dan kakek Agung masih berbincang di luar sana, sementara Rilly dan Liam sudah pamit untuk masuk ke dalam.
Mulai menaiki anak tangga, Liam langsung menggendong istrinya seperti koala, ini seperti sudah jadi kebiasaan mereka berdua. Liam yang tak ingin Rilly kelelahan, dan Rilly yang selalu ingin dimanja.
Frans dan Zena yang baru menikah, tapi Liam dan Rilly yang nampak seperti pengantin baru.
"Memangnya aku tidak berat?" tanya Rilly, dia juga membenahi posisinya sendiri di dalam gendongan itu.
"Tidak, berapa berat tubuh mu? Kenapa seringan ini?" jawab Liam, balik bertanya.
Rilly mendengus, tiba-tiba wanita itu kesal sendiri tidak jelas. Padahal tadi dia yang membicarakan tentang bobot tubuh, tapi sekarang ketika ditanya seperti itu Rilly malah tidak suka.
"Hei, kenapa wajahmu seperti itu? aku tidak bisa menebak apa yang ada di dalam hatimu," kata Liam, dia bahkan langsung mengigit dagu Rilly.
Sampai wanita itu menjerit kecil.
"Awh Liaaam," rengek Rilly.
"Mana Mas nya?" tuntut Liam pula.
Rilly terkekeh.
__ADS_1
"Maaf Mas," ucapnya, kadang masih sering lupa memanggil dengan sebutan Mas.
Kali ini mereka tidak terlalu lama di kota Servo, besok hari semuanya sudah kembali ke Indonesia.
Frans dan Zena menempati rumah milik Liam yang dulu dia akui akan jadi tempat tinggalnya bersama Rilly pada semua keluarga Aditama, tapi pada kenyataannya mereka tidak jadi tinggal di sana dan tinggal di mansion.
Dan sekarang rumah itu ditempati oleh Frans.
Di mansion, orang-orang mulai merasa kehilangan saat pria berwajah datar itu tidak ada di sini lagi, ternyata mereka merindukan Frans yang menyebalkan itu.
Di dapur saat pagi hari, Dansel bahkan berulang kali melihat ke arah kursi duduk meja makan yang biasa digunakan oleh Frans.
Diam-diam Dansel membuang nafasnya perlahan. Jadi ingat ucapan sang Tuan bahwa kelak satu per satu dari mereka semua pun akan menghadapi takdirnya masing-masing, mereka tidak akan terus bersama.
"Astaghfirullahaladzim, kamu mual Ril? hamil ini aku yakin!" ucap Serge, ceplas ceplos, Rilly yang kesal bahkan mengambil sendok di dekatnya dan langsung memukul pria itu. Rilly tidak boleh memukul secara langsung menggunakan tangan kosong, dilarang ada sentuhan dengan pria lain oleh Liam.
"Awh! sakit Ril!" ketus Serge, bicara dengan suara yang tinggi, padahal mereka semua tidak ada yang boleh membentak Rilly.
Jadi Dansel menghukum dengan memukul dadda pria itu.
Bugh!
__ADS_1
"Astaga," rintih Serge, dua pukulan dia dapatkan sekaligus.
Dan kini jadi terdiam seribu bahasa, tutup mulut. Karena tiap kali dia buka mulut yang ada hanya masalah.
Huwek! muntah Rilly lagi, dia mual sekali. Tiba-tiba tak suka mencium aroma sambal yang di masak oleh Jimmy.
"Jim, matikan kompor mu," pinta Rilly.
Secepat t kilat Jimmy mematikan kompornya.
"Sepertinya memang hamil," ucap Dansel kemudian. Mereka semua sudah mempelajari bagaimana ciri-ciri wanita hamil dan penanganannya.
Liam yang memerintahkan mereka untuk belajar semua itu.
Dan Rilly yang mendengar ucapan Dansel hanya terdiam, hatinya seketika gamang. Ada senang, juga ada sedih andai benar dia hamil.
"Tuan Liam belum bangun?" tanya Riko.
"Sudah, dia sedang mandi," jawab Rilly.
"Duduk lah, biar nanti aku yang panggil Tuan Liam," balas Riko kemudian.
__ADS_1
Rilly duduk dan Dansel segera memberinya minum air hangat.