
Sesampainya di rumah, Axton mengantarkan Arabella menuju kamar, ia kembali berjalan keluar kamar dan mencari Sarah. "Siapkan sup untuk Bella," perintah Axton yang langsung pada intinya, setelah mendapatkan anggukan dari Sarah ia kembali berjalan ke arah kamar dan melihat Arabella yang tengah duduk diatas ranjang.
"Sudah aku katakan aku tidak apa-apa Axton, aku hanya merasa mual dengan bau wine tadi," ucap Arabella pelan, ia turun dari ranjang dan berjalan mendekati Axton.
Pria itu tak mengindahkan ucapan Arabella, ia menarik tangan Arabella dengan lembut kembali ketepi ranjang. "Jika kau merasa mual dengan bau wine, seharusnya aku juga merasakannya jika ada yang berbeda dengan wine itu. Sekarang, kau beristirahatlah, Sarah sedang membuat kan mu sup, aku akan mandi dulu,” ucap Axton lembut, tangannya mengusap pelan kepala Arabella.
“Maafkan aku, tadi membuat mu cemas,” ucap Arabella kemudian, garis bibir Axton mulai menarik ke atas, tersenyum dengan lembut dan membuat Arabella merasa bertambah jatuh cinta terhadap sosok pria didepannya.
__ADS_1
Axton menangkap jelas apa yang menjadi pusat perhatian Arabella, ia pun mendekatkan wajahnya dan bibir mereka pun bertemu, permukaan halus yang membuat darah keduanya berdesir halus seiring dengan usapan lembut yang Axton berukan di bahunya.
Axton memperdalam ci-umannya, Arabella benar-benar membuatnya candu, rasanya Axton tak pernah cukup merasakan wanita itu. Balasan yang diberikan Arabella membuat Axton cukup frustasi, ia ingin melakukan hal yang lebih namun ia mengerti dengan kondisi tubuh Arabella yang sedang lemah.
Dengan kesadaran yang masih tersisa dikepala Axton, ia mulai menjauh dengan perlahan, memperhatikan wajah Arabella yang begitu menggoda dan menambah kecantikannya. “Tidak perlu meminta maaf Bella, aku ingin selalu melihat mu sehat dan aku harap jangan pernah membuat ku cemas kembali,” ucap Axton.
Tak berapa lama, seorang pelayan datang membawa sebuah nampan berisikan sup yang masih mengepul dengan panas, segelas air juga buah-buahan. “Makanlah, aku harap kau menghabiskannya,” ujar Axton. Ia pun berjalan menuju sofa panjang di bagian ujung kamar, membuka jas nya dan menaruh jas dengan sembarangan, Axton lalu berjalan kearah kamar mandi dan melepaskan semua pakaian yang melekat ditubuhnya. Axton mulai merasakan dinginnya air yang terasa segar membasahi tubuhnya.
__ADS_1
Ditempat lain, Aurora menatap layar ponselnya dengan raut wajah yang sulit diartikan, keningnya berkerut namun bibirnya tersenyum dengan samar. “Wanita ini hanyalah anak dari seorang penjudi?” Tanya Aurora penuh ejekan diwajahnya, ia mengangguk pelan, pantas saja Arabella cukup berani melawannya, ia tak seberharga yang Aurora bayangkan.
“Kau bisa menghempaskan wanita itu seperti semut sayang, rupanya Axton sudah memiliki banyak Casino diberbagai kota, ini bisa menjadikan keluarga kita kembali dipandang,” ucap seorang pria yang sangat mendukung Aurora dalam mendekati Axton. Siapa lagi jika bukan sang ayah yang gila harta.
“Tentu saja Dad, aku tak akan membiarkan Axton pergi dari ku lagi, aku harus mendapatkannya sekarang juga, cepat atau lambat Axton hanya akan menjadi milik ku, dan aku sangat yakin Axton masih mencintai ku Dad, bahkan pertunangan yang Axton ucapkan saat itu hanyalah bualan belaka, dia hanya tak ingin menunjukkan rasanya yang masih tersimpan pada ku,” desis Aurora pelan.
Aurora mengambil ponselnya dengan cepat, ia sudah mendapatkan nomor ponsel Axton. Semua penantian yang ia rasakan bertahun-tahun ini sepertinya tak sia-sia.
__ADS_1
\~
Kita hadirkan lagi orang dari masa lalu ya biar rame..