
Liam dan Rilly hanya tinggal selama 1 minggu di rumah utama keluarga Aditama, setelahnya mereka akan tinggal di rumah sendiri.
Saat pindahan, seluruh keluarga pun ikut mengantar, termasuk mas Ryan dan kak Alika.
Saat selesai berbenah dan hanya tinggal istirahat, para wanita berkumpul di dapur dan membuat makanan. Sementara para pria duduk di ruang tengah menikmati minuman hangat mereka dan siaran televisi yang menayangkan sebuah berita.
Anak-anak jelas ada dalam pengawasan Nia, si baby sitter dadakan karena dia belum mulai kuliah.
"Ku dengar, kamu sedang berencana membuka cabang baru lagi untuk restoran, apa benar seperti itu?" tanya Ryan pada Liam, dia adalah yang paling jarang bertemu dengan sang adik ipar, Karena itulah saat sedang bersama seperti ini Ryan yang paling banyak bertanya.
"Iya Mas, mau ku di tiap kota ada 10 cabang Restoran," jawab Liam penuh percaya diri.
"Kenapa berambisi seperti itu? kamu kan baru menikah, jangan terlalu fokus pada pekerjaan." Kakek Agung si pendiam akhirnya ikut buka suara.
Reza hanya melirik, dia ingat betul ucapan Liam sebelum menikahi sang adik, bahwa pria itu akan lebih fokus pada keluarga dibandingkan dengan bisnisnya, tapi sekarang sepertinya kalimat itu telah berubah padahal Baru beberapa hari Liam mempersunting sang adik.
__ADS_1
"Maaf Kek, bukan seperti itu maksud ku. Hanya saja itu memang cita-cita ku. Seluruh orang yang saat ini bekerja di restoran pusat bukanlah karyawan, mereka adalah keluarga bagiku. Jadi aku ingin mereka memegang restoran masing-masing. Setelah itu aku akan merasa misi ku telah benar-benar tuntas," jelas Liam.
Kakek Agung, Reza dan Ryan hanya terdiam, lantas menganggukkan kepalanya setuju. Mereka tahu selama ini Liam hanya hidup bersama orang-orang tersebut, tak memiliki keluarga ataupun sanak saudara.
Liam tak ingin sukses sendirian, namun dia juga ingin mengangkat derajat semua orang hingga pada akhirnya memiliki posisi yang sama seperti dia.
Liam juga menolak saat kakek Agung menawarkan dia bantuan, biar lah dalam misi ini Liam akan berjuang sendirian.
Banyak sekali hal yang mereka bicarakan sore itu, tentang Liam juga yang menolak tegas untuk masuk di perusahaan Aditama.
"Kakek bangga padamu," ucap kakek Agung, bahkan menepuk pundak Liam cukup kuat.
Namun Liam tidak merasa sakit dengan pukulan tersebut, justru menghangat hatinya. Seolah yang mengatakan kalimat bangga tersebut adalah sang ayah.
Liam sampai harus membuang nafas kasar untuk meredakan rasa haru yang dia rasa. Bertemu Rilly adalah sesuatu hal yang paling dia syukuri.
__ADS_1
Karena berkat wanita itu, dia menemukan jalan kebenaran.
"Saat kalian pergi ke Servo nanti, kakek dan oma akan ikut," ucap kakak Agung kemudian..
Beberapa hari lalu dia dan Liam pun pernah berbincang, kakek Agung tau rencana Liam dan Rilly yang ingin mengunjungi makam seluruh keluarga Liam. Karena itulah dia dan oma ingin ikut.
"Baik Kek," jawab Liam patuh.
Setelah makan bersama, akhirnya seluruh keluarga pulang meninggalkan Liam dan Rilly di sana. Sepasang pengantin baru itu saling memeluk di teras rumah saat menyaksikan mobil-mobil itu keluar dari halaman rumah mereka.
"Sekarang bagaimana? mau menikmati malam ke delapan disini atau di mansion?" tawar Liam, malam ke delapan yang masih terasa panas.
"Tentu saja mansion," balas Rilly manja.
Dan saat itu juga Liam langsung menelpon sang tangan kanan.
__ADS_1
"Frans, kami datang," ucap Liam.