Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
TSM Bab 148 - Laporan Keuangan Paling Sederhana


__ADS_3

Hari-hari pun bergulir. Rilly yang sudah tidak lagi bekerja di perusahaan Aditama lebih memilih untuk membantu sang suami mengembangkan Restoran Black Venom.


Di antara semua pria berbadan kekar itu Rilly adalah yang paling berpendidikan, dia yang paling mengerti tentang bisnis dan manajemen.


Semua pola salah yang selama ini diterapkan oleh Black Venom, Rilly benarkan satu persatu.


Jika Liam adalah pemimpin di restoran itu maka Rilly sudah seperti owner yang memiliki kuasa lebih penuh.


Apalagi Liam tak pernah banyak bicara, maka Rilly sudah jadi pemberi perintah mutlak saat ini.


Rilly juga mengambil alih untuk persiapan pernikahan Frans dan Zena.


"Frans, setelah restoran tutup ajak semua orang termasuk kamu untuk cukur rambut, kalian harus terlihat rapi di hari pernikahan mu," titah Rilly, dia datang ke dapur untuk mengatakan tentang hal itu.


3 hari lagi Frans menikah, dan semua anggota Black Venom akan kembali menyambangi kota Servo.


"Ku pikir rambut kami masih pendek," Serge yang menyahut.


"Tidak usah membantah," jawab Rilly.


"Hem, nanti aku akan ajak mereka," balas Frans kemudian, mengakhiri perdebatan kedua orang itu.

__ADS_1


Kali ini tak akan ada anggota Black Venom yang tinggal di restoran, selama 3 hari restoran akan tutup. Riko juga sudah tidak sabar untuk mendatangi makam Dicki.


Setelah tidak ada urusan lagi di dapur, Rilly pun keluar dari sana.


Melihat suasana restoran yang ramai sebentar lalu kembali ke ruangan sang suami.


Liam di sana sedang belajar membuat laporan keuangan.


Dan saat Rilly membuka pintu itu, perhatian Liam langsung teralihkan, langsung melihat ke arah pintu.


"Sudah paham?" tanya Rilly.


Liam langsung membuang nafasnya kasar.


Rilly lantas duduk di atas pangkuan sang suami, kini sama-sama menatap ke arah layar komputer.


"Nanti kita akan memperkerjakan orang lain untuk mengurus restoran, bukan lagi anggota Black Venom, jadi kita harus punya perhitungan dan aturan yang tepat agar tidak ditipu orang. Mulai dari restoran pusat, nanti cabang hanya tinggal mengikuti," ucap Rilly.


Liam lagi-lagi membuang nafasnya dengan kasar, dia memeluk Rilly mencari kekuatan dari pikirannya yang lelah.


"Paham tidak apa maksudku?" tanya Rilly.

__ADS_1


"Paham sayang," balas Liam lesu.


Tidak ada adegan penuh gairrah di dalam ruang kerja itu hari ini, Liam benar-benar harus belajar dengan fokus.


Dan Rilly jadi gurunya.


Sampai malam menjelang, mereka masih betah di sana. Sampai akhirnya Liam berhasil memahami meski sedikit-sedikit.


"Sebenarnya ini tidak terlalu sulit, justru semuanya terperinci dengan baik," ucap Liam setelah cukup paham.


Rilly memang sudah berusaha sebisa mungkin untuk membuat laporan keuangan paling sederhana untuk sang suami.


"Hem, setelah pernikahan Frans nanti, aku akan mulai jam belajar malam untuk mereka semua," putus Rilly.


Liam lantas terkekeh, senang juga jika bukan hanya dia yang menderita. Anak buahnya pun akan merasakan hal yang sama.


"Ayo kita pulang," ajak Rilly dan Liam mengangguk.


Liam menggendong Rilly seperti bayi koala saat keluar dari restoran tersebut.


Namun saat tiba di mobil, Liam tidak mendudukkan Rilly di samping kursi kemudi, justru memangkunya.

__ADS_1


"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Rilly.


Dan Liam hanya menjawab dengan senyum miring.


__ADS_2