Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
TSM Bab 128 - Posisi Semula


__ADS_3

"Jahat," ucap Zena dengan suara yang lirih, bicara di saat mobil taksi yang mereka naiki mulai melaju.


Akhirnya Zena hanya mampu menangis, menahan sesak di dadda seorang diri. Frans yang dia kira bisa jadi sandaran dan penolong dalam keadaan ini nyatanya tak berguna, justru membuatnya hilang kesempatan untuk menemukan sang kakak lebih cepat.


Selama ini Zena memang tidak tahu tentang Darkness dan Black Venom, dia hanya tau kakaknya bekerja di kota. Frans pun selama ini hanya mengaku sebagai teman Zeon, sedikitpun tak mengangungkit tentang dunianya yang kelam.


Dia pikir masa lalu tak akan menghantuinya lagi, lalu hidup untuk hari ini dan masa depan saja.


Tapi ternyata di dunia ini tak ada rahasia yang bisa tersimpan rapat, akan ada masanya semua rahasia itu terkuak.


Dan dalam keadaan seperti ini, mau tak mau Frans pun harus menjelaskan semuanya, siapa dia, siapa Zeon dan siapa Black Venom.


Mendengar tangis Zena tersebut, Frans hanya mampu membuang nafasnya dengan kasar.


Entah berapa menit mereka berada di perjalanan, sampai akhirnya tiba di sebuah mansion yang nampak tak berpenghuni.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan Frans? kenapa mengajak ku ke tempat seperti ini? lepas!" pekik Zena, mulai takut dengan apa yang akan dilakukan oleh Frans padanya.


Dan tak ingin Zena makin berontak, akhirnya dengan terpaksa Frans memukul tengkuk Zena sampai gadis itu kembali jatuh pingsan di dalam dekapannya.


Di dalam mansion, akhirnya Frans bertemu dengan sang Boss, Rilly dan juga Dansel yang sudah lebih dulu tiba.


Dansel baru saja mengumpulkan sisa senjata yang mereka punya.


Ini adalah kali pertama pertemuan Rilly dan Zena, sangat terkejut saat melihat Zena tak sadarkan diri di gendongan Frans.


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Rilly cemas.


"Astaga." Rilly sampai tak bisa berkata apa-apa, sudah pingsan seperti itu tapi Frans malah menjawab semuanya baik-baik saja.


"Tuan, apa masih ada obat tidur? suntikan kepada Zena," pinta Frans pula pada sang Boss.

__ADS_1


Rilly makin tercengang dan lebih tercengang lagi saat dilihatnya sang suami yang mengangguk, tidak menyalahkan Frans akan hal itu.


"Suntik lah, ini akan membuatnya tertidur sampai besok sore, pasang infus agar dia tidak kekurangan cairan," terang Liam.


Rilly sungguh tercengang, dia tersenyum dengan bibir yang terbuka. Kaget saat melihat Frans begitu fasih menyuntik Zena dan memasang infus tersebut.


"Aku tidak akan mengampuni kalian jika memperlakukanku seperti itu," ucap Rilly dengan tegas, ucapannya penuh dengan penekanan. Bukan hal yang tidak mungkin jika tiba-tiba Liam dan semua orang memperlakukannya seperti Zena.


Membuatnya tak sadarkan diri hingga pada akhirnya tidak mengikuti perang itu.


"Kalau begitu tetap lah siaga, jangan lengah sedikit pun," balas Liam pula, bahkan bersikap seolah-olah sedang menakuti sang istri, dia menunjukkan jarum yang saat ini sedang dipegangnya.


Rilly lantas menatap dengan sangat tajam, tak ada sedikitpun cinta yang ditunjukkan dari sorot matanya tersebut.


Dalam keadaan seperti ini, mereka berdua tidak terlihat seperti sepasang suami dan istri.

__ADS_1


Semuanya seperti kembali pada posisi masing-masing beberapa tahun silam. Saat semua orang masih berada di Black Venom. Posisi semula, Liam pemimpin dan Rilly berserta yang lain hanya anak buah.


Jam 10 malam, Serge dan yang lainnya akhirnya tiba di Mansion, Servo.


__ADS_2