Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
Melahirkan


__ADS_3

Hari kelahiran Arabella pun tiba, waktu prediksi kelahiran yang seharusnya beberapa hari lagi terjadi hari ini, sebuah tangan besar masih berusaha menenangkannya, raut wajah Axton tampak begitu panik, siang tadi saat mereka tengah duduk santai bersama James, Arabella merasakan sebuah kontraksi yang begitu hebat, begitu memilukan dan pada akhirnya ia tak sanggup menahan rasa itu hingga meringis dan membuat Axton juga James seketika panik.


"Bisa kah kau lebih cepat mengendarainya Jack?" Tanya Axton tak sabar, mereka sudah di kawal oleh beberapa anak buah Axton dan perjalanan mereka pun sudah begitu cepat, hanya saja yang membuat Axton kesal adalah perjalanan terasa sangat lama.


"Ini sudah sangat cepat sayang, biarkan Jack fokus pada kemudinya!" Protes Arabella sambil mengatur nafasnya pelan, kontraksi awal cukup membuatnya ngilu, namun saat ini tidak separah tadi, hanya saja yang Arabella tahu akan ada kontraksi lainnya yang lebih hebat dari yang awal ia rasakan.


Sesampainya di rumah sakit, Arabella langsung diarahkan pada sebuah kamar VIP yang ada disana, dokter yang biasa menangani Arabella pun rupanya sudah siap saat mendengar kabar Arabella yang merasa akan melahirkan hari ini.

__ADS_1


Setelah di periksa oleh sang dokter, rupanya Arabella memang sudah memasuki pembukaan ke tiga, seorang orang perawat masuk ke dalam kamar dan mengambil sampel darah milik Arabella untuk di cek terlebih dahulu di laboratorium.


Axton tidak mengerti dengan jelas apa yang sedang dilakukan pada Arabella. Hingga sebuah arahan yang membuat ranjang Arabella di pindahkan kembali pada sebuah kamar bersalin yang di ikuti oleh Axton, sedangkan James yang tidak di perbolehkan masuk ke dalam kamar bersalin selain Axton memutuskan untuk menunggu di kamar inap VIP Arabella, ia hanya bisa berdoa dan berharap semuanya berjalan dengan lancar.


Arabella mengikuti beberapa arahan yang di berikan dokter, hari ini rasanya begitu membingungkan, membuat Arabella yang belum menyiapkan diri terasa syok dan hanya bisa mengikuti arahan dari dokter yang ia percaya.


Sebelah tangan Axton terulur menghapus beberapa bulir keringat yang keluar dari kening Arabella. “Tenang sayang, semua akan baik-baik saja,” bisik Axton, padahal dirinya sendiri begitu gelisah dan jauh dari rasa tenang, namun ia tak tega melihat Arabella yang terlihat tidak tenang serta menggigit bibir bawahnya seolah menahan rasa ngilu yang hebat tengah ia rasakan.

__ADS_1


Tiba saatnya proses bersalin dilakukan, Arabella yang memilih jalan persalinan normal membuatnya harus bisa mengatur napasnya dengan baik. Arabella pun lagi-lagi mendengarkan arahan yang diberikan dengan baik, untungnya Axton selalu berada disampingnya, tak pernah melepaskan genggaman tangan Arabella dan selalu mengusap genggaman kuat yang di berikan Arabella.


“Ayo sayang ku, tetap semangat, aku di sini,” ucap Axton lagi-lagi memberikan semangat. Hanya itu yang di ucapkan Axton berulang kali, ia tak bisa merasakan rasa sakit yang di korbankan Arabella, namun Axton berusaha dengan baik memberikan apa yang bisa ia lakukan.


Suara tangis bayi yang pecah memenuhi ruangan membuat Axton menarik napasnya lega, ia tersenyum dengan mata yang sedikit berkaca.


“Kau hebat sayang, kau hebat!” Ucap Axton seraya mencium tangan Arabella beberapa kali lalu mencium kening Arabella dengan begitu lembut.

__ADS_1


Sang dokter menaruh putri kecil meereka di atas dada Arabella. Pemandangan indah yang membuat Axton begitu terharu, tubuh kecilnya masih berwarna merah dan dengan perlahan bergerak mencari sesuatu. Axton menghambuskan napasnya pelan, ia sudah benar-benar menjadi seorang Ayah, ia berjanji akan menjadi Ayah yang baik untuk putri kecilnya itu.


__ADS_2