Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
Emosi


__ADS_3

Keesokan harinya, Jack sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumah Axton, “Turunlah,” ucap Jack dengan suara tegas seakan memerintah, Jack keluar terlebih dahulu dan menghampiri Sarah yang sudah menanti kehadiran mereka dekat pintu.


James menatap bangunan besar itu, ia memperhatikan semua yang ada disekelilingnya. “Selamat siang Tuan, Nona Arabella sudah menunggu mu di dalam,” ucap Sarah begitu ramah. Jack berjalan terlebih dahulu ke dalam rumah, sedangkan James berhenti dihadapan Sarah.


“Apa kau Sarah? anak ku sering menceritakan kebaikan mu padaku, terima kasih sudah menjadi teman Bella, dia memang sedikit rewel tapi Bella begitu peduli pada orang-orang di sekitarnya,” ujar James sopan, ia tak menyangka pekerjaannya tidak selama yang ia kira, semua hutang pada Axton sudah lunas, bahkan ia sudah menerima gajinya dalam bentuk cash yang begitu banyak di dalam tas ranselnya.


Sarah membalas senyuman itu dengan tenang sambil menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu berterima kasih Tuan, Nona Arabella pun sangat baik pada ku.”


“Apa kau masih ingin berbincang disana?” Ucapan ketus dari Jack membuat James menoleh kearahnya, ia langsung bergegas menghampiri Jack yang sudah tampak kesal. “Ayo cepat, kita tidak memiliki banyak waktu,” ujar Jack kemudian.

__ADS_1


Mereka pun menaiki anak tangga dengan langkah lebar, sebuah kamar dengan pintu sedikit terbuka membuat James dapat melihat Arabella yang tengah duduk ditepi ranjangnya. “Silahkan Tuan,” ucap pelayan yang sudah berjaga didepan pintu kamar Arabella dan membukakan pintu kamar itu lebih lebar lagi.


James tersenyum begitu lebar, ia berjalan masuk dan melihat Arabella yang kini sudah menyadari keberadaannya. “Bella!” Pekik James sambil memeluk Arabella erat, raut wajah Arabella tampak begitu sedih, hanya senyum lemah yang ia tampilkan, seakan mengartikan betapa menderitanya Arabella ada disini. Oh, betapa James merindukan Arabella.


“Maafkan Dad, Bella, semua ini sudah berakhir, aku berjanji akan menjadi ayah yang baik untuk mu.” Dengan enggan James melepaskan pelukannya pada Arabella, sedikit merapikan rambut Arabella dan tersenyum bisa menatap kembali wajah cantik anak perempuanya.


“Ada apa sayang? Kau bersedih? Ini semua sudah berakhir, kita bahkan mendapatkan rumah baru dari Mr. Matthew, kita bisa kembali seperti dulu, aku akan menghubungi Daniel saat kita sudah sampai disana, Jack masih menyita ponsel ku karena pernah menghubungi Daniel kemarin lusa,” ucap James sambil tertawa kecil berusaha menghibur Arabella.


Namun jawaban Arabella hanyalah gelengan kepala yang begitu lemah, ia kembali menangis dan memeluk James, Arabella terisak cukup menyakitkan bagi James. “Dad, maafkan aku,” ucap Arabella disela isakannya.

__ADS_1


James menepuk pelan punggung Arabella beberapa kali. “Kau tidak pantas untuk meminta maaf Bella, ini semua salah ku, aku yang harusnya meminta maaf pada mu.”


Arabella semakin terisak dengan kencang, ia menumpahkan segala keperihannya pada James. “Aku sedang hamil Dad, Axton sekarang membuang ku, dia membebaskan kita untuk menjauhkan ku dari hadapannya,” lirih Arabella. “Aku mencintainya,” lanjut Arabella yang diikuti isak tangis yang semakin dalam.


Mendengar itu sontak James mengepalkan tangannya, ia tidak terima dengan apa yang sudah Axton lakukan. Wajahnya berwarna merah menahan amarah yang ingin secepatnya harus ia keluarkan untuk Axton, tidak perduli apa yang akan James dapatkan nantinya, yang terpenting saat ini adalah menghajar wajah tampan itu hingga babak belur!


\~


Mau bantu hajar si ganteng juga?

__ADS_1


__ADS_2