Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
TSM Bab 39 - Keadaan Yang Sangat Berbeda


__ADS_3

Astaghfirullah, batin oma Putri.


Kepalanya mendadak begitu pusing, pandangannya pun kabur dan berakhir dia yang jatuh pingsan.


"Oma!" pekik Rilly.


Pagi itu semuanya benar-benar kacau.


Tak ada yang bisa meredakan semua amarah kecuali waktu.


Jam 2 siang akhirnya Zena siuman, dia bangun lebih cepat dari prediksi semua orang. Dan sebelum Zena banyak bicara, Frans segera membawa wanita itu untuk menemui sang kakak.


Dan di saat kakak beradik itu saling memeluk haru, Frans justru pergi meninggalkan keduanya, pergi dengan raut wajahnya yang nampak begitu dingin.


Kini Frans dihantui rasa bersalah, karena demi menyelamatkan keluarga kekasihnya, dia mengorbankan banyak hal. Dicki, kandungan Rilly dan kebahagiaan sang Boss.


"Frans," panggil Zena saat melihat kekasihnya itu keluar, tapi Frans tak mendengar dia tetap pergi dan menutup pintu.


Kini Zena yang merasa bersalah sendiri.


"Frans dan Tuan Liam lah yang telah menyelamatkan aku," ucap Zeon.


Zena terdiam sesaat, dia selalu meragukan Frans, selalu tak mendengarkan ucapan pria itu. Tapi Frans tetap melakukan semuanya demi dia.


"Tunggu sebentar kak, aku temui Frans dulu ya?" pamit Zena, Zeon pun menganggukkan kepalanya. Sejak dia sadarkan diri beberapa jam lalu dia juga belum melihat satu pun anggota Black Venom datang melihatnya, Liam juga.


Dimana pria itu? pikir Zeon.


Setelah mendapatkan izin sang kakak, Zena pun segera berlari keluar. Saat dia lihat Frans berjalan di ujung sana Zena langsung mengejarnya.


"Frans!" panggil Zena, gadis itu bahkan langsung menahan lengan sang kekasih agar Frans berhenti.


"Kamu mau kemana? maafkan aku karena selama ini tidak percaya padamu, tapi ayo kita temui kak Zeon, kita katakan tentang hubungan kita," jelas Zena langsung. Meski kemarin Zena banyak marah dan memaki, tapi sesungguhnya dia sangat mencintai Frans.


Sungguh, Zena tak ingin kehilangan pria ini.

__ADS_1


Dia bahkan terus memegang lengan Frans, menahan agar Frans tidak pergi.


"Aku adalah anggota Black Venom, salah satu kelompok Mafia di kota Servo. Orang-orang yang telah menculik Zeon sudah ku bunuh semua," balas Frans dengan tatapannya yang begitu dingin.


Tatapan dan kata-kata yang membuat Zena tanpa sadar melepaskan cekalan tangannya di lengan Frans.


Mafia?


Bunuh?


Dua kata itu tentu membuat Zena terkejut. Terlebih selama ini yang dia kenal bukanlah Frans yang seperti itu.


Frans pria baik-baik, bekerja di sebuah restoran ayam goreng crispy di Indonesia.


"Apa katamu Frans? jangan mempermainkan aku," jawab Zena lirih.


"Aku tidak main-main, masa laluku tak sebaik yang selama ini kamu tau," balas Frans. Dia bahkan langsung pergi meninggalkan gadis yang masih terkejut itu.


Frans menghampiri keluarganya di ujung sana, seluruh anggota Black Venom yang masih setia berdiri di depan pintu ruang rawat oma Putri dan Rilly.


Sampai tuan Liam kembali diterima di keluarga Aditama.


Melihat Frans berkumpul dengan para pria bertubuh kekar itu membuat Zena makin tercengang, pemandangan itu seolah membenarkan semua ucapan Frans.


Bahwa pria itu adalah salah satu penjahat yang selama ini selalu jadi pembicaraan warga Servo, kekejaman yang tak kenal ampun.


Zena melangkah mundur, dia akhirnya pilih untuk meninggalkan Frans. Datang kembali ke ruangan sang kakak dengan wajahnya yang pias.


"Hei, kenapa wajah mu seperti itu?" tanya Zeon.


Zena menggeleng perlahan.


"Dimana Frans?" tanya Zeon lagi.


"Dia, dia sudah pergi," jawab Zena lirih.

__ADS_1


Mafia bukanlah dunia yang bisa Zena datangi, dia tak ingin membahayakan orang-orang terkasihnya.


"Apa maksud mu? aku belum mengucapkan terima kasih padanya," balas Zeon, dia bahkan hendak turun dari atas ranjang itu dan mengejar Frans, mencari Liam.


"Kak Zeon apa yang kamu lakukan? jangan turun!" mohon Zena, dia juga menahan tubuh sang kakak agar tidak bangkit.


Zeon yang masih lemah tak bisa melawan kekuatan Zena.


"Minggir Zen, aku harus bertemu dengan Liam."


"Tidak kak, tidak perlu! mereka semua Mafia, kita tidak perlu terlibat dengan mereka."


Mendengar ucapan sang adik, Zeon terdiam sesaat. Mereka saling tatap dengan tatapan yang entah, pada akhirnya Zeon pun mengucap jati dirinya di hadapan sang adik.


"Sama Zen, kakak mu juga seorang mafia. Aku adalah seorang mafia," balas Zeon.


Di saat Zena tergugu, Zeon pun turun dari atas ranjang itu.


"Maafkan kakak Zen, aku bukan kakak yang baik untuk mu," ucap Zeon.


Zena masih terdiam, fakta yang membuatnya benar-benar terkejut. Selama ini dia adalah seorang guru dan mengajarkan banyak nilai baik untuk para muridnya. Tapi ternyata kakaknya sendiri adalah seorang penjahat.


"Apa menjadi Mafia membuat ku bukan lagi jadi kakak mu?" tanya Zeon kemudian.


Zena tak bisa menjawab, hanya bisa menangis.


"Dan yang telah menyelamatkan kakak mu adalah Black Venom, Liam, Frans dan yang lainnya." kata Zeon lagi.


Dia berjalan 1 langkah dan nyaris terhuyung, Zena dengan cepat menangkapnya.


Pada akhirnya Zena membantu sang kakak untuk menemui frans dan yang lainnya di ujung sana.


Akhirnya Zeon bertemu dengan seluruh anggota Black Venom.


Bertemu dengan keadaan yang sangat berbeda dari satu tahun yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2