
Arabella merasakan aroma menenangkan yang membuat tubuhnya sedikit relax, kini ia sedang memanjakan diri dengan Sarah yang membantunya memberikan sebuah pijitan ringan di bahu Arabella, sedangkan satu orang lainnya meminjat bagian betis Arabella. “Apa anda masih selalu mual Nona?” tanya Sarah memecahkan kesunyian terlebih dahulu.
“Masih, hanya saja tidak separah dua hari yang lalu Sarah, aku bisa menahannya sedari kemarin,” jawab Arabella.
Selesai dengan pemijatan kini Arabella mengenakan masker wajah dan dua orang lainnya membantu Arabella memperindah kuku-kuku nya. Perlahan Arabella melirik kearah jam dinding yang baru menunjukkan pukul 8 malam, namun Arabella belum melihat Axton kembali yang sudah keluar dari rumah 3 jam yang lalu selesai mengenakan baju pengantin mereka tadi, tanpa memberitahu kemana dia akan pergi, Axton hanya memerintahkan Sarah untuk memberikan perawatan pada Arabella.
Arabella mencoba untuk memejamkan matanya dan menikmati apa yang sedang ia rasakan, namun pikirannya selalu saja beralih untuk mencemaskan Axton, kemana pria itu pergi? Bersama siapa dan sedang apa? Bukan kah disetiap perjalanan Axton selalu ada bahaya yang mengintai? Mengapa pula pria itu harus pergi di malam menuju pernikahan mereka. “Kau sedang mencemaskan Tuan Axton?” tanya Sarah yang sepertinya tahu betul setiap gerak gerik Arabella.
“Dia belum juga kembali dan tidak seperti biasanya tanpa memberitahu ku kemana dia akan pergi,” jawab Arabella dengan hembusan napas pelan.
__ADS_1
Sarah hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. “Tuan Axton memang selalu begitu Nona, tidak perlu di cemaskan, ada beberapa pengawal yang menjaganya, Tuan Axton pasti akan baik-baik saja,” ujar Sarah lembut.
“Tapi aku benar-benar mencemaskannya,” lirih Arabella.
“Itu perasaan yang wajar Nona, mengingat acara pernikahan mu besok kau pasti merasakan khawatir yang berlebihan, namun percaya padaku semua nya akan baik-baik saja,” ujar Sarah.
James tersenyum dan menepuk sebelah kursi yang masih kosong. “Duduklah Bella, aku ingin berbincang kecil dengan putri cantik ku sebelum besok aku menyerahkan mu seutuhnya pada Axton.”
Arabella mengerutkan keningnya dalam, ia duduk disamping James dan menatapnya dengan penuh tanda tanya. “Apa maksud mu Dad? Kita masih akan bersama, tidak ada kata menyerahkan seutuhnya.”
__ADS_1
“Tapi aku takut Axton akan mengusir ku setelah menikahi mu Bella, aku hanyalah pria yang berhutang padanya dan kau orang yang berhasil membuatnya jatuh cinta, aku takut jika bukan besok atau beberapa hari lagi Axton akan memisahkan kita.”
Arabella menggelengkan kepalanya. “Tidak Dad, apa yang kau bicarakan?” Tanya Arabella.
“Dad hanya ingin melihat mu bahagia, Dad juga ingin meminta maaf sekali lagi karena tidak berhasil menjadi Ayah yang baik untuk mu. Dad sudah mengenal Axton sejak lama, dia sangat ditakuti, licik dan selalu menghabisi siapa saja yang ia tak suka. Dad hanya takut ini semua akan berakhir dan Axton merebut mu—“
Arabella tersenyum lembut, ia menarik tangan James dan mengusapnya pelan. “Kau Ayah yang baik Dad, ingat saat aku sekolah dulu? Kau selalu memaksakan diri untuk membelikan aku tas dan mainan baru agar bisa bergabung dengan teman-teman perempuan dikelas,” kekeh Arabella. “Dan tentang Axton, Axton kini sudah berubah Dad, dia pria yang baik, aku sangat yakin Axton tidak akan memisahkan kita, semua ini nyata, Axton pria lembut dan aku sangat yakin itu. Tidak tak pernah berbuat kasar pada ku, selalu memikirkan kepentingan ku dan jangan mengkhawatirkan ini lagi Dad.”
James membalas senyuman Arabella, “Ya, aku baru melihat sisi lain dari Axton saat kita bertiga dirumah itu kemarin, aku benar-benar tak percaya dia cukup menyenangkan dan aku selalu berharap jika semua itu tidak akan pernah berubah.”
__ADS_1