Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
TSM Bab 151 - Entahlah


__ADS_3

Riko langsung bergegas naik ke lantai 2 dan mendatangi sang Tuan, ingin melaporkan apa yang terjadi pada Rilly di dapur.


Sementara Serge langsung pergi ke apotek untuk membeli beberapa test pack yang bisa digunakan secara pribadi oleh Rilly, untuk memeriksakan diri apakah benar dia hamil atau tidak.


"Aku beli 5 test pack, harus beda-beda merknya ya," pinta Serge pada petugas apotek tersebut.


"Maaf Pak, tapi di sini hanya ada 3 merk," jawab wanita itu, dia menatap pria di hadapannya ini dengan lekat. Nampak begitu tampan dan bertanggung jawab pada istrinya, diam-diam wanita itu tersenyum kecil dan mengatakan di dalam hati bahwa beruntung sekali istrinya tersebut memiliki suami seperti ini.


"Ya sudah beli 6, tiap merk 2," putus Serge. Kalau beli hanya satu nanti dia takut salah, antisipasi dari kemarahan Rilly Karena itulah sekarang dia membeli banyak.


"Baik Pak," jawab wanita itu.


Serge bahkan langsung berlari keluar dari apotek tersebut ketika dia sudah mendapatkan barang yang dia cari. Buru-buru ingin segera kembali ke mansion takut Rilly menunggunya terlalu lama.


Dan benar saja, saat dia sudah tiba ya di Mansion dan menuju ke dapur di sana sudah ramai dengan kedatangan Tuan Liam juga.


"Ayo kita ke dokter langsung," ajak Liam, tapi Rilly menggeleng. Takut jika sebenarnya tidak hamil dan malah mengecewakan semua orang.


"Serge sudah ke apotek untuk membeli test pack, kita tunggu saja dia. biar aku periksa sendiri dulu," putus Rilly.


"Ini test packnya," sahut Serge langsung, dengan segera dia menampakkan diri dan mengulurkan kantong plastik yang dia bawa.

__ADS_1


Rilly menerima uluran kantong plastik itu dan membukanya melihat begitu banyak tespek di dalam sana.


"Astaghfirullahaladzim Sergeee, ini banget banget, boros!" ketus Rilly.


Nah kan salah lagi, batin Serge.


Yang lain hanya mampu geleng-geleng kepala saja melihat kelakuan Serge tersebut.


"Ya sudah jangan dipakai semua, nanti sisanya berikan saja pada Zena," balas Serge kemudian dan kini Rilly hanya mampu membalasnya dengan tatapan tajam.


"Ayo sekarang kita periksa," ajak Liam. dia bahkan langsung menggendong sang istri seperti pengantin baru, membawanya untuk menuju kamar mandi yang ada di dapur tersebut.


Semua anggota Black Venom yang melihat pemandangan itu sudah tidak heran lagi, mereka bahkan terus menyaksikan sampai sepasang suami istri tersebut benar-benar hilang masuk ke dalam kamar mandi itu.


Dengan begitu akan banyak kebahagiaan yang mereka dapatkan.


Bahkan mungkin akan membuat Oma Putri dan kakek Agung yang akan benar-benar memaafkan mereka semua.


Di dalam kamar mandi. Rilly memeriksakan dirinya di hadapan sang suami langsung, tak ada canggung sedikit pun bahkan Liam ikut membantunya.


Saat Rilly membersihkan diri, Liam yang memegang test pack itu. Dengan mata kepalanya sendiri dia melihat secara langsung ketika dua garis merah muncul secara perlahan di test pack tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana Mas? apa hasilnya?" tanya Rilly, dia masih mengeringkan kedua tangannya di alat pengering otomatis.


Liam tidak menjawab pertanyaan sang istri dengan kata-kata, dia langsung menarik Rilly dan mencium bibir saat istri dengan begitu mesra.


Ciuman yang begitu dalam.


Namun Rilly malah salah paham, dia kira dia tidak hamil dan karena itulah sekarang Liam coba menghiburnya dengan ciuman ini.


Jadi diantara ciuman mereka, Rilly menangis.


"Hei, kenapa menangis?" tanya Liam.


"Maaf, aku tidak hamil ya?" balas Rilly, balik bertanya.


Liam terkekeh pelan, kini dia gendong Rilly seperti bayi koala.


"Tidak sayang, kamu hamil, 2 garis merah, kamu hamil anak kedua kita," jelas Liam.


Rilly jadi makin menangis, haru, senang, sedih, entahlah.


Di sana dengan posisi seperti itu mereka saling memeluk erat.

__ADS_1


Tak peduli jika diluar sana banyak orang yang sedang menunggu mereka keluar.


__ADS_2