
Ella langsung pura-pura menunduk, lalu memalingkan wajahnya dari Dansel. Mengigit Bibir bawahnya sendiri karena merasa gugup.
Ella tidak melihat saat Dansel tersenyum karena tingkahnya itu, dari gerak-gerik Ella, Dansel sudah bisa menerka bahwa gadis itu gugup.
Ella jadi nampak begitu manis di matanya.
Kedatangan Ella di mansion Black Venom juga jadi pembicaraan para pria di sana. Apalagi setelah ini Ella akan tinggal di sini untuk jadi asisten Rilly.
Dia cantik sekali.
Suaranya juga lembut, tidak seperti Rilly.
Apa dia sudah memiliki kekasih.
Ayo coba kita dekati.
Eh jangan, lebih baik jangan mengusik Ella jika tidak ingin dimarah oleh Rilly.
Benar juga, sedikit saja Ella mengadu pada Rilly, habis kita.
Dan masih banyak lagi pembicaraan para mantan mafia tersebut.
Dansel mendengar semuanya. Kadang dia juga berpikir apakah Ella akan nyaman tinggal di sini.
__ADS_1
Jam 9 malam baru lah mansion terasa sepi.
Baby Jason dan baby Ava sudah terlelap bersama para baby sitternya. Oma Putri dan kakek Agung pun sudah tidur.
Ella juga baru saja keluar dari dalam kamar Rilly setelah dia membantu untuk memompa asi.
Rilly tak ingin ditemani Liam, dia merasa malu. Kini banyak hal yang membuatnya tak percaya diri di hadapan suaminya tersebut, karena itulah dia butuh Ella.
Sebenarnya Liam pun tak ingin seperti ini, dia ingin selalu menemani sang istri selama 24 jam. Tapi malah Rilly yang tidak mau.
Kata dokter yang menangani Rilly, ini adalah gejala baby blues dan cara yang terbaik untuk mengatasinya adalah menyerahkan semua keputusan pada Rilly, terus beri perhatian secara sederhana, sampai akhirnya Rilly percaya bahwa Liam tak sedikit pun terganggu dengan semua perubahan di dalam hubungan mereka.
Bahwa cinta Liam tak berkurang sedikitpun, justru bertambah berkali-kali lipat.
Sementara Ella langsung turun ke dapur untuk menyimpan Asi milik Rilly di dalam lemari pendingin.
Tiba di dapur ternyata masih cukup banyak pria di sana, sekitar 6 orang.
Dansel yang juga ada di sana pun langsung memberi isyarat untuk mereka semua pergi. Karena tak ingin menganggu ketenangan Ella mereka semua pun menurut.
Hingga akhirnya hanya menyisahkan Ella dan Dansel saja di dapur tersebut.
"Kenapa mereka pergi? apa tak nyaman karena ada aku?" tanya Ella, dia pun jadi merasa tak enak hati sendiri.
__ADS_1
"Kami justru berpikir kamu lah yang tidak nyaman ketika melihat banyak pria di sini," jawab Dansel, menjawab dengan sangat jujur.
Ella tersenyum kecil, meski awalnya memang terasa tidak nyaman tapi sebaiknya mereka saling membiasakan satu sama lain.
Ella juga tidak tahu berapa lama dia akan tinggal di sini, jadi menjalin hubungan yang baik adalah keputusan yang tepat daripada terus saling menghindar satu sama lain.
"Maaf karena telah membuat kalian berpikir seperti itu, lebih baik kita semua saling membiasakan satu sama lain, begitu kan?" tanya Ella dan Dansel mengangguk setuju.
Dansel juga tersenyum di antara anggukan kepalanya itu, senyum yang sama seperti yang diukirkan oleh Ella saat ini.
"Ini sudah larut, setelah meletakkan susu itu di lemari pendingin segeralah untuk tidur," kata Dansel.
Ella mengangguk-anggukkan kepalanya patuh.
Sikap patuh yang makin membuat Dansel tersenyum lebar. Dari sini Dansel sadar, bahwa dia telah tertarik pada Ella.
Dansel kemudian pergi lebih dulu dari sana, tapi dia tidak menuju kamarnya melainkan menuju kamar sang Tuan. Dansel harus mempertanyakan satu hal kepada Rilly.
Apakah Ella sudah memiliki kekasih atau belum.
Jika belum maka dia akan maju.
Dansel bukanlah pria yang suka basa-basi, Jika dia sudah memutuskan sesuatu, maka tak akan mengulur waktu lebih lama untuk mewujudkannya.
__ADS_1