Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
bab 5


__ADS_3

Begitu pintu terbuka, berdirilah makhluk yang amat sempurna di mata Namira. Kulit nya Putih bersih, hidung mancung mata setajam elang. Damian berdiri dengan gagah seraya tangan masuk ke dalam saku celananya. Reflek membuat Namira melongo,


Artiskah ini, tapi kenapa bisa ada disini. seperti pernah melihat nya tapi dimana.


"Siapa nama mu?"


Namira masih melongo tak menjawab.


Brak....


Namira terlonjak kaget seketika karena Damian menggebrak pintu.


"Na.. Namira.".


"Bawa dia keluar, keruang bawah".seraya melangkah keluar menuju ruang bawah.


Namira tak bergeming di tempatnya. Dua orang laki-laki langsung menarik dan menyeretnya menyusul sang bos besar.


Namira melihat sekeliling seperti rumah besar hanya terlihat orang berlalu lalang, ada yang membawa senjata, terdengar juga suara orang berlatih. Ada jalan lorong gelap lurus ke depan tetapi Namira tak dibawa kesana.


Di sini disebuah ruang kecil mirip ruang interogasi Namira di duduk kan di sebuah kursi. Tampak Damian Dan Roy siap menginterogasi Namira.


" Namira kan nama mu". kata Roy sambil menyerah kan selembar kertas kepada Namira.


Namira mengangguk dan mengambil selembar kertas tersebut dan membacanya ternyata berisi biodatanya. Mulai nama, sampe kegiatan sehari-hari nya.


" Aku ingin tau bagaimana bisa kamu Ada di rumah Sheila". Kata Damian


"A.. ku menolong tante Sheila saat terluka di taman dua hari yang lalu".

__ADS_1


"Dan belum sempat Aku pulang Tuan datang'.


"Kenapa kamu bisa Ada di ruang kerja Sheila? Apa yang kamu cari?


Namira pun bingung mau menjawab apa tak mungkin juga mau bilang Ditawari sebagai istri ke tiga.


" ehm... penjaga bilang tante Sheila mau ketemu Aku, Dan Aku diarahkan ke ruangan itu."


"lalu Kemana Sheila?


"Saat sedang ngobrol tiba-tiba terdengar ribut-ribut, trus Tante Sheila yang menyuruh ku sembunyi, tapi sampai Tuan tiba Aku tak melihat dia".


Damian dan Roy saling pandang.mereka berdua tersenyum menyeringai.


Roy pun berkata "Aku tanya sekali lagi, apa yang di bicarakan Sheila?


Namira terdiam, dia terlanjur bilang ngobrol.


"Hei, kau dengar Aku bicara tidak? Bentak Roy.


Namira menundukkan wajah Dan menjawab "Tante Sheila ingin Aku memberi keturunan pada suaminya."


Akhirnya Namira menceritakan semua. Di saat dia bercerita tiba-tiba perut Namira ber bunyi.


krucuk.... krucuk.... krucuk


Namira menekan perutnya, takut terdengar orang lain. tentu saja tak bisa karena dua orang itu terlanjur mendengarnya.


Roy melirik arloji di tangannya, sudah dini hari .

__ADS_1


"antarkan makanan ke ruang bawah" kata Roy pada penjaga.


Damian pun berdiri dari tempat duduknya sambil berkata "Apa kau menerima tawarannya?"


"Saya belum sempat menjawab Tuan" jawab Namira


"kenapa? Apa kurang bayarannya?"


kok dia tau aku dibayar ya..


"ehm... sebenarnya itu aku belum sempat jawab Tuan.


terdengar bunyi perut Namira lagi


krucuk.. krucuk.... krucuk...


"emang kamu gak dikasih makan sama sheila? tanya Roy.


"maaf Tuan aku belum sempat makan apa-apa saat ditempat tante sheila." jawab Namira.


Ruangan terbuka, seorang laki- laki berpakaian hitam-hitam tengah membawa makanan.


"Berikan padanya" menunjuk ke Namira.


Makanan pun diletakkan di meja, persis di depan Namira. Betapa senang nya Namira air ludah seakan mau keluar. walaupun menunya sederhana.


"makanlah dulu, setidaknya kami bukan sheila yang membiarkan tamunya mati kelaparan." kata Damian tersenyum mengejek.


"Terima kasih Tuan".sambil makan dengan lahap.

__ADS_1


Menu sederhana sama seperti di panti, tapi bagi Namira ini sudah menu istimewa.


Dalam beberapa menit makanan langsung ludes berpindah ke perutnya.


__ADS_2