Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
Aurora Kembali


__ADS_3

Axton masuk ke dalam kamar Hotelnya, ia berjalan pelan ke arah kamar mandi dan membasuh wajahnya pelan. Ia manatap pantulan wajah di cermin, Axton sudah tampak segar dan wajah lelah itu seakan menghilang. Tak berapa lama, sebuah bell berbunyi, Axton yakin wanita yang akan menemaninya malam ini sudah datang.


Tanpa menunggu lebih lama, Axton berjalan menuju pintu, tangannya membuka pintu kamar dengan cepat, dan betapa terkejutnya Axton saat mendapati 2 wanita berdiri didepan pintu.


Jantungnya berdebar tak menentu, rasa benci dan marah seketika muncul. “Hai, rupanya aku tak salah melihat mu,” sapa salah satu dari dua wanita tersebut. Wajahnya masih sama seperti dulu, bahkan bertambah cantik dari yang ia ingat, pakaian wanita itu terlihat berkelas, sorot mata berani dan senyuman yang mampu membuat pria manapun tersentuh.


Axton mengalihkan pandangan pada wanita lainnya. Ia mengenakan dress yang begitu ketat yang tertutupi jaket tebal. “Selamat malam Tuan, aku Bi—“ ucapannya terhenti saat Axton mengangkat sebelah tangannya lalu terbatuk kecil.


“Pergilah, aku sedang tidak ingin diganggu,” ucap Axton membuat wanita itu sedikit terkejut dan kini mulai panik.


“Ta—tapi Tuan, kau sudah memesan—“


“Aku akan tetap membayar mu, sekarang pergilah dan katakan padanya jika tugas mu sudah selesai,” ucap Axton, wanita itu seakan ingin kembali bertanya, namun melihat wajah Axton yang tampak marah membuatnya hanya mengangguk kaku.


“Ba—baik Tuan, kalau begitu aku akan pergi sekarang juga, te—terima kasih sudah membayar ku,” ucapnya gugup. Axton tak menjawab, ia membuang wajahnya pada arah lain, menghindari wanita yang kini hadir dari masa lalunya.


Terdengar suara tawa kecil yang begitu renyah di telinga Axton. “Apa aku mengganggu waktu mu bersama wanita tadi? Kau belum menikah?” Tanya wanita itu.

__ADS_1


Axton mengdengus kasar, dengan terpaksa ia harus menatap wanita yang sudah ia lupakan sedari dulu. “Apa kau ingin menggantikan wanita itu?” Tanya Axton penuh ejekan ditatapannya.


“Tidak, aku tidak tertarik dengan cinta satu malam. Tampaknya kau sudah banyak berubah Axton, aku tak sengaja melihat mu di lantai dasar.”


“Aku masih pria miskin yang malang Aurora, apa kau tidak khawatir jika suami mu melihat kau berbincang dengan mantan kekasihnya?” Tanya Axton dengan penuh penekanan di akhir ucapannya.


Aurora tampak terdiam sebentar, ia terbaruk kecil dan kembali menatap Axton. “Sebenarnya aku sudah bercerai, aku tak bisa memaksakan diri bersama orang yang tidak aku cintai. Dan aku ingin minta maaf atas ucapan ku dulu, bisakah kau melupakannya?” Tanya Aurora.


“Oh ya? Bukankah yang kau cintai harta? Apakah suami mu sudah tak memiliki harta?” Tanya Axton, ia puas dengan sindiran itu, namun rasa sakit yang pernah ia rasakan menjadi timbul kembali.


Axton menggelengkan kepalanya, ia mundur perlahan. “Aku cukup lelah selama diperjalanan, aku harus tidur,” ucap Axton, namun saat ia akan menutup pintu, Aurora menahannya, ia masuk ke dalam begitu saja, menatap Axton dengan lekat.


“Selama satu tahun aku tak berhasil mencintai suami ku, aku mulai mencari mu kembali Axton!” Nada suara Aurora berubah, wanita itu tampak marah dan sedikit bergetar. “Dan tak ada satu pun orang yang tahu keberadaan mu, aku terus mengingat mu dan masih mencintai mu sampai saat ini Axton, kita bisa kembali bersama bukan? Orang tua ku akan merestukan hubungan kita, kau—“


“Satu tahun setelah kau menikah aku sudah menjadi Axton yang berbeda Aurora! Aku sudah tidak mencintai mu dan aku membenci mu hingga saat ini.”


Aurora menggelengkan kepalanya pelan, ia tertawa hambar. “Kau berbohong, kau belum menikah bukan? Kau tidak bisa mencintai wanita lain selain aku bukan? Kita memiliki perasaan yang sama Axton, aku benar-benar menyesal.”

__ADS_1


“Sayangnya aku sudah memiliki kekasih Aurora, kami akan bertunangan sebentar lagi.”


“Aku tidak percaya.”


Axton mengangkat sebelah alisnya, “Mengapa begitu? Besok siang kekasih ku akan tiba disini, aku akan mengenalkan nya pada mu, dia lebih cantik dan tertentunya membuat ku nyaman.”


“Berhenti bercanda Axton, kau tidak mungkin memanggil seorang wanita untuk menemani malam mu jika kau sudah memiliki kekasih!” Balas Aurora cepat.


“Tentu saja mungkin, karena aku tidak ingin menunggu lama sampai kekasih ku datang. Dan jika kau ingin menjadi penghangat ranjang ku tidak masalah, aku akan membayar mu tinggi, hanya saja jangan pernah memberitahu kekasih ku, Bella sedikit galak,” kekeh Axton pelan.


Tatapan Aurora semakin tajam, ia tampak mengepalkan tangannya kuat. “Aku bukan wanita murahan Axton!” Desis Aurora.


“Oh ya? Tapi aku melihatnya demikian,” ejek Axton.


Wajah Aurora semakin merah, ia tampak kesal dan marah. Lalu tanpa menjawab lagi ia keluar dari kamar hotel Axton dengan langkahnya yang keras. Axton seketika menarik nafasnya dalam, ia tak pernah menyangka bertemu lagi dengan Aurora, mimpi buruknya kini menjadi nyata, seseorang yang membuatnya hancur kembali hadir.


Dengan tangan yang mulai berkeringat dingin ia mengeluarkan ponselnya, “Perintahkan seseorang untuk membawa Bella kemari, aku ingin besok siang Bella sudah ada disini, beri wanita itu pakaian dan perhiasan terbaru,” ucap Axton. Sungguh hari yang membuatnya lelah, ia ingin menghindari Arabella dan memutuskan pergi, namun sialnya ia membutuhkan wanita itu lagi sebagai pembatas untuk Aurora mendekat.

__ADS_1


__ADS_2