
Edlyn menundukkan wajahnya pelan sambil menghembuskan nafasnya keras. "Aku tak percaya Bella mencintai pria itu," ucap Edlyn kemudian, ia menoleh kearah Daniel yang tengah terpuruk dan menumpahkan semua kekecewaannya pada minuman yang memabukkan di depan mereka.
"Aku lebih tak percaya sudah mendengar ucapan itu keluar langsung dari mulutnya," balas Daniel sambil lagi-lagi menambahkan minuman pahit itu ke dalam gelasnya.
Edlyn hanya diam, ia tak ingin memperkeruh suasana, siang tadi Daniel mengirimkannya sebuah pesan jika ia akan datang menjemput Edlyn sebelum ke toko, namun tak disangka Daniel datang dengan membawa sebuah kantung plastik berisikan minuman.
Wajah Daniel terlihat mengkhawatirkan, ia tampak tak bersemangat dan berantakan, Daniel tiba-tiba saja memeluknya di depan pintu sambil terisak memilukan.
“Jika aku tahu pada akhirnya dia akan mengkhianati ku, mengapa tidak dari dulu aku mengatakan padanya jika aku sudah mengkhianatinya terlebih dahulu bersama mu—“
“Daniel!” Bentak Edlyn seketika. Ia menatap Daniel dengan tatapan tajam yang marah, untuk apa Daniel membahas kembali masa lalu mereka yang salah? “Tetap saja Bella jangan sampai mengetahui masalah itu Daniel, dia sahabat ku, aku tidak ingin di bawa dalam masalah kalian.”
__ADS_1
Terdengar tawa kecil yang keluar dari mulut Daniel, ia bukan tertawa senang, melainkan tertawa penuh keputus asaan. “Apa kau yakin dia akan masih menganggap mu setelah mendapatkan penjahat kaya itu? Kita tidak akan pernah dipandang lagi oleh Bella, Edlyn.”
“Daniel, ada apa dengan mu? Sudahlah, berhenti bicara,” gumam Edlyn pada akhirnya, ia menghembuskan nafasnya pelan, sia-sia saja ia berkata demikian pada orang yang tengah kehilangan setengah kesadarannya, karena pada akhirnya Daniel tetap kembali berbicara.
“Arabella, rupanya dia tidak sebaik yang ku kira, aku sudah menahan diri ku untuk selalu mencintainya tanpa memaksa Bella untuk melakukan apa yang aku inginkan. Tapi apa? Dia mengkhianati ku dan memberikan semuanya pada pria itu, benar-benar munafik,” desis Daniel kembali. Lagi-lagi Daniel menegak kasar minumannya dan menuangkan kembali cairan itu dari dalam botol.
Perselingkuhan memanglah hal yang menyakitkan, tapi Edlyn sudah mengenal Arabella sejak lama, “Bagaimana jika Arabella berbohong? Dia mengatakan itu supaya kau tidak mengkhawatirkannya, Bella pasti sudah di ancam oleh pria itu untuk—“
“Tidak Edlyn, andai saja jika pria itu bertubuh gemuk atau pria tua menyebalkan, aku akan berpikir demikian. Sialnya yang aku lihat, pria itu tampan seperti aktor favorit di film yang sering kalian tonton,” ujar Daniel sambil terkekeh miris.
“Tidak perlu membelanya Edlyn, aku membutuhkan teman untuk menenangkan ku, bukan untuk berdebat tentang hal-hal yang tidak mungkin,” potong Daniel membuat Edlyn terdiam dengan cepat, Daniel menaruh gelas yang ada ditangannya ke atas meja. “Aku tahu Arabella tidak bisa berbohong, dan aku melihat Arabella gelagat Arabella yang tengah berbohong,” lanjut Daniel lebih tenang, kini Daniel menyandarkan tubuhnya pada belakang sofa sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
Ketika keheningan melanda keduanya, tiba-tiba Daniel menatap kearah Edlyn. “Mengapa kau memilih diam saat itu? Mengapa kau tidak marah saat aku menolak mu dan membiarkan aku tetap bahagia begitu saja dengan Arabella? Apa kau tidak sakit hati?” Tanya Daniel. “Jika aku menjadi kau aku akan memberitahu semuanya pada Bella. Aku selalu benci disakiti.”
“Tentu saja tidak,” jawab Edlyn cepat.
“Apakah ada alasan yang lebih jelas?”
“Karena aku tahu itu adalah salah, dan penolakan mu adalah konsekuensi yang memang akan aku dapatkan.”
\~
Maaf baru up ya, jangan lupa bunga mawarnya🤭
__ADS_1
.
Dan untuk pemenang GA ke 3 ditunggu kabarnya ya, yang lain udah aku kirim hadiahnya hihi.