Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
Mendapatkan Bukti


__ADS_3

Kini pria bernama Leon itu sudah di ikat pada sebuah kursi di dalam ruangan Axton, ruangan yang lebih terang dan tentunya lebih nyaman bagi Axton. Ia hanya duduk santai bersandar pada kursi menatap pria itu masih juga membisu. “Kau ingin mencoba cara yang lebih kasar agar membuka mulut mu?” Tanya Axton.


Anak buah Axton beserta Jack sudah menekan pria itu untuk mengatakan sesuatu, namun ia tetap bungkam dan menggelengkan kepalanya.


Axton berdiri dari duduknya, hanya ada satu cara yang tersisa untuk menekan pria itu membuka mulut, entah berapa banyak uang yang pria itu terima sehingga begitu enggan membuka mulut.


Perlahan Axton berjalan kearah Leon, pria muda berusia 24 tahun yang memiliki tubuh tinggi besar yang ideal, wajar saja ia selalu memberontak dan tak memiliki rasa takut dalam melakukan segala hal. Namun ia sangat salah besar jika sudah berurusan dengan Axton.


“Jika kau masih ingin melindungi orang itu aku akan menghabisi nyawa mu sekarang juga,” desis Axton sambil mengeluarkan sebauh pistol dan memainkan pelan di jari terunjuknya.

__ADS_1


Mata Leon menatap benda itu cukup terkejut, ia kembali menggelengkan kepalanya dan kini dengan suara ketakutan. “A—aku, aku benar-benar tidak tahu siapa yang menyuruh ku,” lirihnya pelan.


“Jadi kau yang berinisiatif untuk membunuh istri ku?” Tanya Axton dengan wajah mengejek, ia tahu Leon hanya ingin mengulur waktu dan membuat semua ini menjadi lampat.


Terlihat anggukan cepat dari kepala Leon sambil menatap Axton penuh memohon. “Aku tak mengenalnya, dia memberi ku $30.000. Dan— oh, periksalah ponsel ku, masih ada bukti chat nya,” ucap Leon sambil menggerakkan tubuhnya mengisyaratkan jika ponsel miliknya ada disaku celana.


Dengan cepat Axton mengambil ponsel tersebut dan mengarahkan layar ponsel pada wajah Leon untuk membuat kunci ponsel melalui sensor wajah.


Setelah berhasil terbuka, Axton mulai membuka bagian pesan masuk. “Kau menyimpannya dengan nama apa?” Tanya Axton.

__ADS_1


Lagi-lagi Leon menggelengkan kepalanya, “Aku tidak pernah menyimpannya, dia hanya pernah mengirim pesan, Apa kau Leon? Hanya itu, karena selebihnya dia selalu menelfon ku dan menunjukkan alamat kami bertemu melalui telepon, tidak pernah mengirim maps melalui pesan,” jawab Leon cepat, nadanya bergetar ketakutan dan seakan ia sudah frustasi ingin segera bebas. “Jika kau tidak memercayai ku kau bisa menghubunginya sekarang juga,”ucap Leon.


Axton menggelengkan kepalanya pelan, lalu memberikan ponsel pada Jack. “Periksa nomor tersebut, cari tahu siapa nama pemilik nomor dan segera laporkan pada ku,” ucap Axton.


“Aku mohon lepaskan aku, ini semua demi adik ku, dia ada di rumah sakit, jika aku tidak mengambil pekerjaan itu adik ku tidak akan selamat. Besok adik ku sudah bisa di bawa pulang, aku tidak bisa terus disini, aku harus menjemputnya, hanya aku yang dia miliki saat ini,” ucap Leon penuh mohon.


Axton terdiam, entah mengapa ia percaya dengan ucapan itu, ia pun mengambil pekerjaan kotor untuk membiayai ibunya di rumah sakit saat dulu, mengendap masuk ke dalam sebuah acara dan melakukan transaksi barang terlarang yang membuatnya terseret ke dalam penjara karena semua itu rupanya jebakan dari saingan bisnis Matthew. Namun Mr. Matthew langsung menebus Axton keesokan harinya sambil memberikan uang yang sudah mereka setujui, namun apa yang bisa Axton perbuat saat di sudah mendapatkan uang tersebut sang Ibu terlebih dahulu pergi meninggalkannya.


Axton menarik napasnya dalam, ia kembali menoleh kearah Leon. “Aku akan membebaskan mu sekarang, namun kau harus ingat aku bisa melacak mu kapan saja jika aku mendapatkan kau berbohong hari ini.”

__ADS_1


__ADS_2