Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
TSM Bab 111 - Sabar


__ADS_3

Acara pernikahan itu akhirnya berakhir di jam 9 malam. Seluruh keluarga Aditama pun telah kembali ke rumah utama.


Sang pengantin pun ikut pulang juga, karena keduanya telah sepakat untuk menghabiskan mallam perttama mereka di kamar Rilly, bukan di hotel.


"Sayang, ini sekarang rumah mu juga tidak perlu canggung," ucap Oma Putri, sudah memanggil Liam dengan sebutan sayang. Bahkan oma Putri pun tak canggung pula saat mengelus pundak sang menantu.


Liam lah yang kelak akan jadi pelindung Rilly, gadis kecilnya yang telah melalui banyak hal dalam hidup.


Karena itulah oma Putri pun akan menyayangi Liam dengan tulus, berharap Liam juga akan menyayangi anaknya dengan tulus.


Reza yang mendengar ucapan itu diam-diam mencebik, dia saja sudah lupa kapan terakhir kali mamanya itu memanggil dia dengan panggilan sayang.


Dan Ajeng yang melihat bibir suaminya nampak meledek pun langsung mencubit perut pria itu, sampai Reza menggeliat merasa geli.


"Terima kasih Oma," jawab Liam patuh.


Semuanya segera bergegas menuju kamar masing-masing untuk beristirahat.

__ADS_1


Hari yang sibuk dan penuh cerita itu pun akhirnya berakhir.


Louis yang memutuskan untuk menginap di hotel tempat acara pernikahan itu digelar kini menatap sebuah dompet yang dia pegang dengan bingung.


Dompet berwarna merah muda ini adalah milik Nia. Karena terlalu riuh mengurus anak-anak, dia sampai tidak sadar jika telah membawakan dompet gadis kecil tersebut.


Tanpa sadar dia pun menyimpannya di saku jas dan kini malah terbawa oleh dia.


"Astaga, ada-ada saja, apa dia seceroboh itu?" gumam Louis, dia pikir harusnya Nia lebih ingat tentang dompet ini.


Harusnya Nia menagihnya sebelum mereka berpisah.


Di kamar Rilly.


Liam langsung mengunci pintu rapat-rapat, bahkan menatap sang istri dengan penuh minat.


"Astaghfirullahaladzim, tatapan mu itu mengerikan sekali!" kesal Rilly, mereka belum ganti baju dan bahkan Baru beberapa langkah masuk ke dalam kamar, tapi Liam sudah seperti singa yang kelaparan.

__ADS_1


Menatapnya dengan kedua mata yang hiii ... mengerikan.


Liam sontak terkekeh, dia ingin romantis tapi Rilly selalu menggagalkannya.


"Biar aku yang buka baju mu," ucap Liam, sebuah kalimat biasa namun jadi terdengar penuh perintah ketika dia yang mengucapkan. Sifat dominan dalam diri Liam tak pernah hilang.


"Silahkan Mas," jawab Rilly pasrah, bahkan maju beberapa langkah hingga berdiri tepat di hadapan sang suami.


Liam tertawa lagi, dia menjitak kening Rilly pelan saking gemasnya.


Dengan perlahan Liam pun mulai melepaskan gaun malam milik sang istri, di pesta akhir pernikahan mereka hanya ada makan malam bersama. Jadi gaun yang Rilly kenakan pun tak seformal saat ijab kabul dan siang saat bertemu banyak tamu undangan.


Gaun Rilly malam ini cukup sederhana namun tetap begitu indah dan menawan. Gaun berwarna peach yang seolah menyatu dengan warna kulitnya.


Di mata Liam Rilly sangat seksi saat menggunakan gaun tersebut, apalagi tercetak begitu pas di tubuh sang istri.


Dan kini Liam menanggalkan gaun itu hingga menampakkan keseksian yang hakiki. Rilly yang hanya menggunakan braa dan penutup bagian inti tubuhnya.

__ADS_1


Kedua dadda sintal itu seolah sudah memanggil-manggil dia untuk minta disesap.


"Sabar, aku cuci muka dulu," ucap Rilly meledek.


__ADS_2