
Axton masuk ke dalam ruangannya dengan perasaan kesal yang begitu besar, ia mengintip melalui jendela, namun jarak menuju pintu masuk sangatlah jauh, membuat jarak pandangan Axton cukup terhalang oleh beberapa objek.
Dengan satu tarikan Axton kembali menutup tirai jendelanya dan duduk dikursi besar yang sudah beberapa tahun ini sudah ia tempati, Axton membuka laptopnya dengan cepat dan mencari tahu sehebat apa kekasih Arabella.
Axton menggeram kesal saat mengingat kata ‘kekasih Arabella’ rasanya ia tak rela dan ia benar-benar sudah melupakan kenyataan jika Arabella memang sudah memiliki kekasih. Hal itu membuat Axton menarik nafasnya dalam, bahkan kini keduanya tengah berbincang melepaskan kerinduan, entah apa yang akan terjadi pada perubahan sikap Arabella yang mungkin saja akan kembali menjaga perasaannya untuk pria bernama Daniel itu.
“Ckk, tidak ada yang menarik dari pria seperti ini,” gumam Axton pelan saat menemukan profil singkat Daniel yang begitu sederhana, dan ia pun sempat berpikir apakah Daniel gambaran dirinya saat 10 tahun yang lalu? Saat ia mencoba menemui Aurora, mungkin saja calon suami Aurora pun dulu berpikir rendah tentang Axton yang miskin. Dengan cepat Axton menggelengkan kepalanya, Arabella bukanlah Aurora, Arabella tak mencintai hartanya dan Arabella wanita yang murni.
Benarkah bukan karena harta? Entahlah, Axton sendiri bingung dengan pertanyaan itu, namun ia tak peduli, yang terpenting Arabella berada di genggamannya saat ini. “Belum selesaikah mereka berbicara?” desis Axton sambil melayangkan pandangannya pada pintu yang belum menunjukkan seseorang membukanya. Seakan belum puas mendapatkan infomasi tentang Daniel, Axton pun menyuruh seseorang untuk mencari informasi Daniel lebih jauh, ia yakin pria seperti Daniel tak sebaik yang para wanita bayangkan.
__ADS_1
Merasa asik dengan ponselnya sendiri, Axton tak menyadari jika waktu 10 menit cukup sebentar, pintu ruangannya sudah terbuka dengan seorang pria yang masuk dan membawa Arabella. “Sudah puas bertemu dengan kekasih mu?” sindir Axton pelan. Anak buahnya berpamit untuk keluar dari ruangan dan meninggalkan Axton dengan Arabella berdua.
Axton benci melihat raut wajah sedih Arabella, mata wanita itu sembab dan Axton tak berharap jika Arabella akan menangis seharian di dalam ruangan sambil merenungkan pria lain dihadapannya, itu sungguh menyebalkan dan membuat mood Axton kacau. “Jangan harap kau bisa meminta hal untuk bertemu dengan pria itu lagi Bella! Jika kau masih bersama ku, tidak boleh ada pria lain yang kau pikirkan, mengerti?” desak Axton kesal, namun Arabella tak menjawab, wanita itu mengerjapkan matanya beberapa kali dengan air mata yang kembali mengalir.
“Aku,,, aku sudah memutuskannya,” ucap Arabella dengan isak tangis yang begitu pelan, “Aku tak bisa melanjutkan suatu hubungan jika hati ku sudah tak berada disana.”
“Jika kau benar-benar sudah tidak mencintai pria itu untuk apa menangis? Kau tak ingin kehilangannya? Atau kau menyesal dengan keputusan mu sendiri?” tanya Axton. Dan demi apapun! Axton tak bisa menahan diri untuk melepaskan kecemburuannya dengan kata-kata pedas itu, tidak bisakah ia merasa iba dan menenangkan Arabella yang baru saja mengambil pilihan untuk bersama dirinya?
—
__ADS_1
Bantu vote cerita ini ya guys😍
Selamat untuk para pemenang GA Tawanan Sang Mafia🥳
Untuk para pemenang 1-3 DM no rekening dan ss profil NT ke instagram @Dheanvta ya, ditunggu sampai tanggal 2. Pembagian hadiahnya tanggal 3 ya, tapi kalo udah kirim no rekening dan ss profil semua tanggal 2 udah aku kirim hadiahnya ya🥰
Terima kasih atas partisipasinya❤️
__ADS_1