Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
TSM Bab 153 - Perebut Istri Orang


__ADS_3

"Astaga," kaget Serge, karena saat dia baru keluar dari ruangan itu tiba-tiba di depan pintu sudah bertemu dengan tuan Liam.


Sang Tuan yang menatapnya dengan sorot mata dingin, meski sudah biasa melihat tatapan dingin itu tapi tetap saja kaget jika dikejutkan seperti ini.


"Mau kemana? Memangnya sudah selesai kelasnya?" tanya Liam, dua pertanyaan, dia bahkan melongok ke arah ruangan itu melalui pintu yang tidak ditutup rapat oleh Serge.


"Iya Tuan, kelas sudah selesai, sekarang Rilly ingin makan permen," jelas Serge apa adanya.


"Permen? di jam malam seperti ini?"


Serge menggaruk kepalanya frustasi, suaminya saja bingung apalagi dia.


"Aku pergi dulu Tuan, takut salah lagi," ucap Serge kemudian dan Liam tidak menanggapinya lagi.


Setelah Serge pergi, Liam masuk ke dalam ruangan itu.


Melihat Rilly yang tersenyum lebar diantara para anak buahnya, melihat pemandangan seperti ini saja sudah membuat Liam bahagia.


Pria itu sampai tanda sadar mengukirkan senyum juga.


Di luar sana, Serge mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi.


Tidak ada 10 menit dia telah tiba di apotek langganannya, apotek yang paling dekat dari Mansion milik Black Venom.


Tiap ada barang yang ingin dibeli di apotek ini pasti Serge yang akan membelinya, sudah seperti jadi tempat tugas untuk dia.

__ADS_1


"Mbak, apa di apotek ini ada permen?" tanya Serge, meski sebenarnya dia sangat malu menanyakan tentang hal ini tapi tetap saja harus dia utarakan.


Penjaga apotek itu seketika mengerutkan dahi ketika mendengar pertanyaan pria tersebut.


Konsumen langganan di apotek ini sejak beberapa bulan terakhir.


Maski sering datang ke apotek ini tapi di antara mereka berdua tidak ada yang tahu nama satu sama lain, hanya memanggil dengan sebutan Mbak dan Pak.


Tapi Cindy jelas sangat tahu, bahwa apapun yang dibeli oleh pria itu jelas untuk istrinya yang saat ini sedang hamil.


Cindy bisa berpikir seperti itu dari tebakannya sendiri. Mulai dari saat pria itu membeli 6 test pack waktu itu, lalu resep obat dari dokter khusu ibu hamil dan masih banyak lagi.


Dan yang terakhir ini permintaannya sungguh aneh.


"Masa tidak ada, permen yang asam cep cep seperti itu, warnanya kuning," jelas Serge, menjelaskan persis seperti apa yang diucapkan Rilly tadi.


"Vitamin C?" tanya Cindy pula.


"Bukan, ini permen."


"Iya Pak, ada Vitamin C yang bentuknya permen, rasanya juga masam," jelas Cindy pula.


"Warnanya kuning?" tanya Serge, pokoknya jangan sampai salah.


"Ada yang kuning, ada yang merah, ungu, macam-macam Pak." Cindy mengeluarkan semua vitamin C yang dia punya. Dia letakkan di etalase atas hingga Serge bisa melihat dengan jelas.

__ADS_1


Fokus Serge langsung tertuju pada yang warna kuning.


"Ini masam ya?" tanya Serge.


"Iya Pak, kalau Bapak tidak percaya boleh dicoba."


Tanpa pikir panjang, Serge membuka salah satunya dan saat dia makan.


"Hewek! masam sekali." Serge sampai bergidik merinding, sampai dia lepeh lagi permen itu.


Cindy hanya mampu tersenyum, sebegitu cintanya pria ini pada sang istri.


"Anda pasti sangat menyayangi istri Anda," ucap Cindy.


"Aku memang sangat menyayangi dia, sangat sangat sayang. Tapi dia bukan istri ku, dia istri boss ku." terang Serge gamblang, sampai membuat Cindy tercengang.


Astaghfirullahaladzim, jadi dia mencintai istri bossnya sendiri? ya Allah.


Kini Cindy yang bergidik ngeri, ternyata pria ini perebut istri orang.


Serge keluar dari apotek itu setelah membeli banyak vitamin C.


Dan Cindy hanya mampu menatapnya iba.


"Semoga dia secepatnya sadar, bahwa salah mencintai istri orang lain," gumam Cindy.

__ADS_1


__ADS_2