
Semua diam tak ada yang bisa menjawab pertanyaan Tuan mereka. Karena menurut informasi gadis itu juga baru hari itu ada di Sana.
"urus dia, nanti kalau sudah sadar laporkan padaku. Aku ada urusan sebentar". kata Damian sambil menghembuskan asap rokoknya.
Damian seorang pengusaha sukses di bidang property dan makanan instant tapi dia juga seorang ketua mafia terbesar di negara tersebut. Penyelundupan senjata, obat-obatan terlarang sudah hal yang biasa baginya. Di usia kepala 3 belum ada seorang pun pernah menyentuh hatinya.
Dulu pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita sebelum masuk dunia mafia. Tapi karena kehilangan kekasihnya sejak itu Damian berubah menjadi laki-laki yang dingin. Belum ada yang tau juga siapa wanita itu apa hubungannya dengan Sheila, kenapa Damian begitu dendam sama Sheila.
"Kemana kita, Tuan? tanya Roy sang assisten.
"Horizons club" jawab Damian
Sang assisten segera mengantar sang Tuan, jika urusan perusahaan Damian menggunakan sopir perusahaan.
Damian meninggalkan markasnya menuju club malam.
"Apa belum ada tanda-tanda dari Alex atau Sheila?" kata Damian
"Belum Tuan, Apa perlu menyatroni istri keduanya juga?
"hemm, gak perlu kita tunggu saja".
Mereka pun sudah tiba di club malam. Suara dentuman music sang DJ membuat suasana club semakin semarak. Para pengunjung pun berjoged mengikuti irama music yang disuguhkan sang DJ.
" Minum Tuan? "
__ADS_1
"Rum beri dengan irisan lemon serta es batu jangan di aduk.
"baik Tuan". seraya menganggguk meninggalkan Damian.
Sang assisten tak lelah mengawasi setiap pengunjung club, wanita-wanita **** pun tak segan-segan melirik sang mafia yang tampan. Tapi tak satu pun berani mendekat, karena mereka sudah tau siapa Damian. Apa lagi kalau bersama sang assisten, pasti ada urusan yang lebih rumit.
"ini Tuan".meletakkan minuman di depan Damian.
Damian menggerakkan jemarinya seraya menyuruh sang waitress mendekat.
" Apa Alex masih sering kemari? "
"Tuan Alex sesekali saja kemari, Tuan. Ini sudah lebih 2 minggu belum pernah kelihatan.
"Terima kasih, Tuan".
Semakin malam semakin ramai, tapi kedua orang itu hanya menikmati minuman masing-masing.
dert.., dert...., dert...
Ponsel Roy bergetar, dilihatnya tanda panggilan masuk. Ternyata salah satu anak buah yang di markas.
"Ada apa?"
setelah seberang menjawab Roy langsung mematikan sambungan.
__ADS_1
klik...
"Tuan gadis itu sudah sadar".kata Roy seraya bangkit dari tempat duduk.
"Ayo kita berburu informasi" seraya mengepalkan jemari tangannya.
Keduanya pun keluar club malam dan menuju lokasi markas.
Sementara di markas Namira terus berteriak sambil menggedor pintu dengan kaki atau pun tangannya.
Brak... brak... brak....
"Tolong... tolong buka pintu nya", Namira berteriak sekuat tenaga.
aduh siapa sih yang bawa aku tadi, apa tante Sheila baik-baik saja.
"buka.. buka pintunya".terus saja Namira menggedor pintu.
"Diam.. diam... bisa diam gak? kata sang penjaga.
Tentu saja Namira kaget, ternyata dibalik pintu ada orang. Namira mondar-mandir di ruangan kecil itu. Mirip gudang tapi cukup bersih dengan bed ukuran kecil.
Tiba-tiba dari luar terdengar suara kunci di putar. Dan Namira pun beringsut kebelakang takut orang di luar marah karena teriakkannya.
Begitu pintu terbuka, berdirilah makhluk yang amat sempurna di mata Namira. Kulit nya Putih bersih, hidung mancung mata setajam elang. Damian berdiri dengan tangan masuk ke dalam saku celananya. Reflek membuat Namira melongo,
__ADS_1