
Dragon tersenyum miring saat melihat Liam dan Black Venom berjalan mendekatinya.
Dragon berpikir dia masih memegang kendali.
Jadi berusaha sekuat tenaga untuk menunjukkan diri bahwa dia tak merasa terintimidasi sedikitpun dengan keadaan ini.
Orang-orang itu tidak akan berani mencelakai dia karena nyawa Zeon berada di bawah kuasanya.
"Liam Anderson," ucap Dragon dengan sombongnya.
Namun Liam begitu muak mendengar suara pria itu, berani-beraninya mengusik keluarga dia.
Lantas sebelum Dragon kembali bicara. Liam langsung menarik senjjata api di tangan Dansel dan diarahkan tepat di kepala pria itu.
Dengan gerakan yang sangat cepat sekali dia langsung menembaknya...
DOR!!
Seluruh anggota Black Venom tercengang, Zeon bahkan sampai mendelik, dia sampai merasa bahwa tembakan itu pun mengenai kepalanya.
Astaga, pria itu benar-benar tidak punya otak. Batin Zeon. Bagaimana jika tembakan itu meleset? jelas dia yang akan celaka.
Dan Dragon tak bisa berkata apa-apa lagi, kini dia telah mati bahkan sebelum memulai negosiasi.
Saat Dragon jatuh, Zaon pun ikut terkapar di sana karena benar-benar tak punya tenaga.
Bersamaan dengan itu juga Rilly pun jatuh juga.
__ADS_1
Brug!
Sontak semua mata tertuju ke arah Rilly. Diantara semua orang yang menghalangi pandangannya Zeon pun mampu pula melihat wanita itu.
Rilly dengan wajah aslinya, karena topengnya telah terlepas.
Melihat seorang wanita di tengah-tengah pertempurran ini membuat Zeon seketika teringat dengan Airish.
Kenangan yang membuat kepalanya seperti dihantam benda keras, telinga berdengung dan akhirnya Zeon tak sadarkan diri pula.
"Ril!" bentak Liam, namun sang istri sudah tak menyahut. Bukan hanya tangan kirinya yang terluka menganga, namun perutnya pun terasa begitu sakit. Sakit yang membuatnya tak sanggup untuk sadarkan diri, akhirnya Rilly jatuh pingsan.
Liam dan anggota Black Venom yang masih dalam keadaan baik-baik mengambil tugas lebih banyak untuk membantu yang lain.
Dua orang memapah Zeon.
Dan Liam menggendong Rilly.
Tengah malam itu mereka semua mendatangi rumah sakit.
Turun dari dalam mobil dan menuju IGD, Liam dibuat tertegun saat melihat banyak darrah di tangan kanannya. Tangan yang sejak tadi memangku tubuh Rilly bagian kaki.
Jelas-jelas yang terluka adalah tangan Rilly, tapi dari dalam celana sang istri seperti mengeluarkan darrah pula.
Liam seketika terdiam seribu bahasa ketika sebuah pikiran tiba-tiba terbesit di dalam benaknya.
Tentang Rilly yang mungkin saja hamil, lalu mengalami keguguran karena pertempuran itu.
__ADS_1
Liam begitu gamang.
Malam itu untungnya rumah sakit tidak memiliki banyak pasien, seluruh keluarga Black Venom segera mendapatkan penanganan.
Frans dan Dansel mengurus administrasi, kedua orang itu sudah seperti seorang ayah dan ibu yang tengah mengurus anak-anaknya.
1 jam telah berlalu sejak semuanya mendapatkan penanganan medis. Rilly, Zeon dan 5 orang lain yang mengalami luka parah harus rawat inap.
Frans dan Dansel pun menghadap Liam untuk membicarakan tentang pemakaman Dicki.
"Tuan," panggil Frans saat dia dan Dansel sudah berdiri di hadapan sang Boss. Liam yang duduk sendirian di kursi tunggu di depan ruang rawat sang istri.
Tatapan Liam saat itu nampak kosong, pikirannya masih tertuju pada Rilly.
"Tuan," panggil Frans sekali lagi karena Liam tidak menjawab. Dia dan Dansel bahkan sampai saling pandang.
Ada apa?
Bukankah luka Rilly hanya di tangan?
Lalu kenapa sikap sang Boss seperti itu? seolah keadaan Rilly begitu parah.
"Maaf Tuan, bagaimana dengan Dicki? besok pagi dia harus segera dimakamkan," ucap Frans kemudian.
Hingga akhirnya Liam pun menoleh ke arahnya.
"Baiklah, besok kita makamkan Dicki bersama-sama," balas Liam.
__ADS_1