Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
Halusinasi?


__ADS_3

Semua pekerjaannya terganggu, Axton tak henti-henti memikirkan ucapan James yang mangatakan jika anaknya nanti akan menyayangi pria lain sebagai Ayahnya. Itu tentu saja tidak bisa dibiarkan, Axton sudah tahu siapa pria lain yang di maksud, Arabella dan James pasti akan menghubungi Daniel. "Argh sial," desis Axton, ia menutup kembali layar laptopnya dengan cepat, mereka belum mengetahui sifat Daniel yang aslinya, bahkan Axton meragukan cinta Daniel pada Arabella.


"Hallo Jack, apa mereka sudah pergi?" Tanya Axton, ia berharap cemas agar Arabella belum berangkat, namun jam keberangkatan mereka sudahlah tiba.


"Ya Tuan, lima menit yang lalu pesawat mereka sudah berangkat," jawab Jack membuat Axton mengerang kesal, ia memukul meja dengan sebelah tangannya.


"Baiklah," ucap Axton lalu mengakhiri panggilan mereka.


\~


Sementara di dalam pesawat, Arabella menatap dengan sedih keluar jendela, jika dulu menaiki pesawat adalah hal yang menyenangkan mengingat itu adalah hal pertama yang ia lakukan, kini ia harus sedih karena ia menyadari jika Axton benar-benar membuangnya.


“Bella, setelah sampai disana dan ponsel ku sudah kembali, aku akan menghubungi Daniel untuk datang ke—“


Arabella menggenggam tangan James sambil menggelengkan kepalanya. “Aku mohon jangan hubungi Daniel, aku dan Daniel sudah tidak ada hubungan apa-apa Dad.”

__ADS_1


“Tapi Daniel sangat menyayangi mu Bella, dia pasti tidak akan menolak untuk menjadi ayah dari bayi yang—“


“Tidak Dad, aku mohon, aku tidak ingin ada Daniel, lebih baik aku sendiri. Aku,, aku sudah sangat menyakiti Daniel,” ujar Arabella kembali menangis.


James yang melihat itu dengan cepat merangkul Arabella dan mencoba menenangkannya. “Tenanglah Bella, baiklah biar kita berdua saja yang merawat bayi mu. Lupakan lah pria pengecut itu, bayi yang belum lahir ke dunia saja sudah membuatnya mengusir mu, bagaimana nantinya jika bayi ini sudah lahir nanti.”


Mengingat kembali Axton membuat Arabella kembali sesak, ia ingin Axton menerimanya, namun pria itu tak menunjukkan wajah hanya untuk sekedar berpamitan dihari terakhir mereka bertemu. Rasa kantuk pun membuat Arabella memejamkan matanya perlahan, perjalanan akan lebih cepat jika ia tertidur beberapa jam.


“Nona,” panggilan kecil itu membuat Arabella terbangun, ia membuka matanya perlahan dan melihat seorang pramugari membawa makan siang mereka diatas troly.


“Dua jam lagi Nona,” jawabnya ramah.


Setelah kepergian pramugari tersebut Arabella menoleh kearah sekitar, sejak kapan James tidak ada disampingnya? Sambil menunggu Arabella menatap kembali pemandangan diluar jendela pesawat. “Waw, kita sangat pas, aku belum sarapan sama sekali.”


Mendengar suara itu Arabella menoleh kearah James yang sudah kembali duduk. “Dari mana kau Dad?”

__ADS_1


“Toilet,” jawab James yang kini sudah sibuk dengan makan siangnya. “Makanlah Bella, ini sangat lezat,” ucap James kemudian.


Dua jam pun berlalu, kini mereka sudah tiba dan dijemput oleh seorang pria yang langsung mengarahkan mereka menuju mobil hitam diluar bandara. Perjalanan mereka begitu sunyi dan tak ada percakapan apapun semenjak James yang entah dari kapan sudah tertidur dengan nyenyaknya pada sandaran mobil. “Kita sudah sampai Nona,” ucap supir tersebut. Arabella melihat dari jendela mobil, rumah yang diberikan Axton begitu indah, tidak terlalu besar namun sangat nyaman dengan sebuah taman yang ada didepan rumah.


“Dad, bangunlah, kita sudah sampai,” ujar Arabella sambil menguncang tubuh James hinga ia terbangun.


“Sudah sampai?” Tanya James dengan wajah yang masih mengantuk.


“Sudah Dad, ayo kita keluar.” Arabella terlebih dahulu keluar dari dalam mobil, ia mengikuti sang supir yang kini sudah membawa kopernya masuk ke dalam gerbang dan menaruh barang-barang mereka didepan pintu. “Terima kasih,” ucap Arabella sopan.


James menilai bagian luar rumah yang tampak indah, sedikit menggerakan bibirnya hendak mengomentari. “Bukan kah ada seseorang yang membantu kita disini? Astaga pria itu membohongi kita lagi, sepertinya kita akan ditelantarkan begitu saja dirumah besar ini, gerutu James, ia mengambil beberapa barang dan koper mereka untuk masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Arabella hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan James. “Siapa tahu orang itu terlambat datang,” ujar Arabella. Ia membuka pintu dengan lebar untuk memudahkan James membawa barang-barang, namun tubuhnya seketika mematung.


“Axton?” Gumam Arabella pelan.

__ADS_1


__ADS_2