
Entahlah dari tadi banyak pertanyaan bersliweran di kepalanya. Berharap Ada yang menjawabnya.
"Apa nduk?"
"ehm...Apa cuma kita berdua ya mbok, dirumah ini? Dan itu tadi kenapa pake acara catering? Aku juga gak lihat siapa yang ambil. Gak Ada tamu kan?"sambil menyalakan televisi, mencari channel yang kusuka.
Si mbok pun tertawa, terlihat gurat-gurat keriput di wajah nya.
"pantas kamu dari tadi bolak-balik depan pintu ya, si mbok sampe bingung tak kira mau kabur".
Aku pun menunduk malu, memang benar Aku penasaran siapa yang pesan lauk begitu banyak. Tapi gak kepikiran buat kabur juga. Tapi tiba-tiba susunan makanan tadi sudah gak Ada di dapur. Tentu saja aku penasaran.
Baru saja mulutku mau terbuka bertanya lagi.
"makanan tadi untuk anak buah Den Damian, disana tinggal masak nasi. mbok yang siapin lauknya".
" Tiap hari ya mbok?"
" Iya ...iyalah nduk, nanti pagi mbok masak sekalian buat siang. Dan biasanya sebelum Ada kamu, Den Damian mengirim salah satu orang kepercayaannya membantu masak beres-beres juga."
Namira membulatkan bibirnya sambil manggut-manggut.
Sebelum Namira membuka mulutnya kembali, mbok berkata lagi
"Sudah gak usah bertanya yang aneh-aneh lagi, yang penting kamu kerja disini dapat gaji lumayan kan. Den Damian orang yang cukup royal kok".
__ADS_1
Mbok Warni pun berdiri, baru saja melangkah beliau berbalik lagi.
Dengan muka serius berkata "Jangan kepikiran buat kabur, karena nanti bakalan balik lagi disini lagi.
Namira pun terdiam, sebenarnya dia ini ada dimana. Disini sepi sunyi, apakah selamanya akan ada disini. Seperti tawanan saja.
Ih.. dari pada mikir aneh-aneh mending dinikmati saja. disini makan gratis, tidur gak bayar. Itung-itung nabung buat masa depan. hihihi
"Ngapain nduk senyum-senyum sendiri? mbok warni muncul sambil membawa dua gelas kosong.
"aduh maaf mbok aku lupa gak bawa gelas tadi".kata Namira.
"gak apa-apa, mbok sekalian ambil obat dikamar."
"mbok sakit? sakit apa? kataku.
"biasa nduk penyakitnya orang tua, istilahnya cekot-cekot nduk" sambil meraba lututnya.
"Sini mbok aku pijitin, apa sudah pernah diperiksakan mbok? sambil tanganku memijat kaki mbok warni.
" Sudah nduk yaitu penyakitnya orang tua"sambil tertawa.
"mbok beneran seneng ada temannya kamu nduk, biasanya kalau sudah malam gini mbok sendiri sudah langsung tidur.
" mbok kalau ngantuk, tidur saja dulu gak apa. nanti aku nyusul".kataku sambil melirik ke pintu masuk, tapi tanganku tetap memijat.
__ADS_1
"kalau sudah malam jangan pergi keluar, cukup di dalam rumah. Kamu mau jungkir balik tapi di dalam rumah".sambil terkekeh.
Aku sedikit terkejut, si mbok berkata seperti itu.
" memang kenapa mbok? tanyaku penasaran.
"pokoknya turuti saja apa yang mbok bilang, biar selamat.
lagi-lagi aku di buat bingung, tapi aku pun mengangguk juga.
Tak terasa waktu beranjak malam mbok pun menyuruh istirahat.
Ku pandangi langit-langit kamarku, aku capek tapi belum juga mata terpejam. Ada jendela kecil sayang letaknya agak tinggi.
Ah.. mungkin aku harus bersabar dulu, lihat situasi kondisi. Baru menyusun rencana.
Mungkin karena capek lama-lama mata Namira pun terpejam.
..._________________...
Sementara itu di kontrakan Namira tampak Dina dan Santi mengobrol di kamar.
"Namira kok belum pulang ya" Dina tampak khawatir.
"Aku juga bingung, kemarin pamit mau melamar kerja tapi hampir 2 hari belum pulang. Sebenarnya melamar di perusahaan apa dia ini".
__ADS_1