Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
TSM Bab 124 - Satu Syarat


__ADS_3

Liam terdiam sesaat, dia tidak bisa berdebat dengan sang istri seperti ini, apalagi saat dilihatnya dengan jelas banyak amarah yang tergambar dari kedua mata Rilly.


Liam sadar diri, selama ini dia terlalu banyak membuat Rilly menderita. Jadi kini tugasnya hanya 1, membahagiakan Rilly dan berhenti membuat wanita itu bersedih.


Tapi bagaimana jika keadaannya harus seperti ini, dia tak mungkin membiarkan Frans terjun sendiri melawan Dragon.


Dan mengingat masa lalu, kini Liam jadi tak bisa menjanjikan apa-apa lagi, termasuk nyawanya. Dia tak bisa berjanji untuk pulang dengan selamat, dia tak ingin Rilly menunggu.


"Pulang lah ke Indonesia bersama oma dan kakek, aku akan tetap disini," balas Liam, dia bahkan tidak menjawab pertanyaan Rilly yang terakhir.


Liam teramat bingung, dia tak pandai menggunakan perasaannya dan kini hanya berpikir menggunakan otak.


Dan mendengar ucapan Liam tersebut, kini Rilly tertawa sumbang. Dia kecewa sekali. Jelas-jelas mereka bisa menggunakan opsi untuk melapor pada pihak kepolisian, tapi Liam justru keras kepala ingin tetap berperang.


"Aku mual mendengar mu bicara seperti itu," balas Rilly, dia bahkan mundur beberapa langkah sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar mandi untuk menenangkan diri.

__ADS_1


Rilly menyalan air westafel dan mencuci wajahnya menggunakan banyak air, lantas menatap diri sendiri di dalam cermin dan melihat dia yang tengah gundah.


"Apa Liam tidak berpikir tentang aku? apa dia tidak berpikir bahwa sekarang mungkin saja aku hamil?" gumam Rilly, bicara pada dirinya sendiri.


Dan kini bahkan mulai menangis.


Sebelum pergi ke Servo, Rilly merasa tubuhnya begitu lemas. Dia yang sadar akan kehamilan memeriksakan diri diam-diam, sampai akhirnya bukti bahwa dia benar-benar hamil terpampang nyata di depan mata.


Testpack itu menunjukkan dua garis merah.


Rilly memang sengaja tidak langsung mengatakannya kepada sang suami. Berniat mengatakan tentang berita bahagia itu ketika mereka berada di sini, di Servo.


Tapi ternyata Tuhan merubah arah hidupnya, hingga di hadapan pada keadaan seperti ini.


Cukup lama Rilly berada di sana dan menenangkan dirinya, sementara Liam tetap duduk di tempat yang sama menunggu Rilly keluar dengan sendirinya.

__ADS_1


Entah berapa menit waktu telah berlalu, saat Rilly keluar dari dalam kamar mandi itu kedua matanya langsung bersitatap dengan sang suami.


Liam yang menatapnya dengan tatapan entah, Rilly tak ingin menjabarkannya.


"Katakan apa rencana mu?" tanya Rilly langsung, ketika dia sudah berdiri di hadapan Liam. Nada bicaranya terdengar lebih datar, namun sorot matanya nampak lebih dingin daripada tadi.


"Aku telah memerintahkan Dansel untuk memanggil semua anggota Black Venom ke Servo, hanya Riko yang akan tinggal untuk mengurus restoran. Setelah mereka semua datang, kita akan langsung mencari keberadaan Zeon, lalu menyelamatkan."


Huh! Rilly membuang nafasnya kasar dan memalingkan wajah, ternyata benar merek akan kembali pada dunia gelap itu.


Disaat nyawa tak ada lagi harganya.


"Baiklah, aku tidak akan mencegah mu. Tapi aku punya satu syarat," balas Rilly.


Ini lah yang telah dia pikirkan selama berada di dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Katakan," jawab Liam pula singkat.


"Aku akan ikut bersama mu dalam misi ini, jangan minta aku untuk pergi," ucap Rilly, tak ingin dibantah.


__ADS_2