Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
20. Malam Panas


__ADS_3

Dengan cepat Axton menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Arabella, Axton menatap tubuh indah itu kembali, ia menunduk perlahan sambil menatap mata Arabella, suara erangan samar mulai terdengar saat bibir mereka kembali bersentuhan. "Buka mulut mu Bella," bisik Axton parau. Ia bergerak ringan mengusap bibir Arabella.


Mulut itu terbuka perlahan, seakan mengundang Axton untuk bermain didalamnya. Arabella benar-benar manis, bagaikan sebuah candu. Tak biasanya Axton menginginkan wanita yang sama untuk kedua kalinya, namun Arabella berbeda, ia memiliki ketertarikan sendiri.


Tangan Axton turun dari pipi Arabella, ia menyentuh Arabella dengan lembut, jemarinya terus turun mengusap pinggang ramping itu. Tubuh keduanya kearah saling menekan, mendorong rasa yang semakin panas.


Arabella semakin gelisah, suara kecil yang tanpa sadar keluar dari mulutnya membuat Axton samakin bersemangat. Arabella menggelengkan kepalanya pelan, tubuhnya terasa meleleh saat Axton mulai bermain dilehernya.


Axton dengan cepat menjauhkan tubuh mereka, jarinya membuka kemeja tanpa sabar dan melemparkannya sembarangan. Axton kembali pada tubuh Arabella, tubuh yang merespon setiap sentuhan yang Axton berikan. "Aku menyukai tubuh mu Bella," ucap Axton pelan. Wajahnya mulai semakin turun diatas perut Arabella.

__ADS_1


Nafas Arabella semakin tersenggal, ini yang membuatnya tak siap untuk saat ini, dimana Axton akan memberikan kenikmatan dunia yang terasa asing baginya. Axton menekuk kedua kaki Arabella, tangan itu membuat Arabella mengadahkan wajahnya, gumaman tak jelas semakin terdengar keluar dari mulut Arabella.


"Aku tak bisa menahannya lagi Bella," sahut Axton parau, Arabella membuah pandanganya kesembarang arah saat Axton membuat kepala ikat pinggangnya, wajah Arabella semakin merah, ia sedang direndahkan, namun mengapa ia tak bisa melawan rasa yang menggebu ini, rasa yang menginginkan lebih.


Arabella semakin gelisah, ia menguatkan cengkramannya pada bantal saat Axton mulai kembali membayang diatasnya, “Ini tidak akan semenyakitkan kemarin Bella,” bisik Axton, bahkan pria itu memindahkan kedua tangan Arabella ke bahu lebar yang kuat itu. Matanya menatap Arabella dengan kabut g a i r a h yang gelap. Arabella menggigit bibir bawahnya keras, perlahan Axton mulai memasuki nya, rasa tak nyaman membuat Arabella bergerak samar, “Tenanglah Bella, percayakan semuanya pada ku.”


Jemari Arabella menjambak halus rambut Axton, pria itu sudah mulai bergerak dalam dirinya, penggunaan ritme yang pas membuat Arabella tak mampu berkata. Semakin lama, Axton mempercepat gerakannya, mencari titik pelepasan yang seakan sudah menunggunya.


\~

__ADS_1


Keesokan paginya, tak seperti biasa. Arabella membuka matanya perlahan, disampingnya masih ada Axton yang memeluknya, pria itu tidur dengan nyenyak, Arabella memperhatikan wajah Axton, alis tebal, hidung mancung, juga sedikit bulu tumbuh disekitaran rahangnya. Ia begitu tampan dan rapi walau sedang terlelap tidur.


Arabella menghembuskan nafasnya pelan, ia melepaskan tangan Axton dengan begitu hati-hati, ia sudah terperangkap jauh oleh pria yang baru ia kenal beberapa hari ini, sudah menghianati Daniel sebagai kekasihnya, juga sudah menjadi Arabella yang berbeda. Arabella merasa dirinya begitu kotor, ia tak bisa berbohong jika dirinya tak mampu menolak godaan yang Axton berikan.


Dengan cepat Arabella turun dari ranjang, ia berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Air yang dingin mulai berasa saat kakinya memasuki bathub. Arabella membaringkan tubuhnya dan rasa segar mulai terasa. Tanganya mengambil sebuah sabun dan menuangkannya pada telapak tangan. “Kurang dari seminggu kau akan keluar dari rumah ini Bella,” gumam Arabella, ia harus secepatnya pergi, ia tak yakin dengan perasaannya sendiri jika terlalu lama berada disini.


——


3 bab lagi untuk hari ini, ayo bunga dan kopi ditunggu🤪

__ADS_1


__ADS_2