Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
TSM Bab 144 - Tiga Kurcaci


__ADS_3

Selesai membereskan semua barang-barang milik oma Putri dan kakek Agung, kini giliran milik Liam dan Rilly.


Sepasang pengantin baru itu tapi tidak mengambil pekerjaan sedikitpun, karena semuanya dikerjakan oleh beberapa anggota Black Venom.


Dansel, Serge dan Frans. Sementara Liam dan Rilly menghabiskan waktu mereka sore itu di balkon kamar.


Menyaksikan langit jingga yang begitu indah di ujung sana.


Rilly duduk di atas pangkuan Liam, bersandar di dadda bidang milik sang suami. Dan Liam pun bergerak lembut untuk mengelus punggung istrinya tersebut.


"Dansel, tutuplah gorden pintu Balkon itu. Bukankah tidak sopan jika kita melihat adegan mesra mereka?" tanya Serge, sekaligus memberi perintah. Karena bagaimana pun usia Serge memang lebih tua beberapa bulan dibandingkan Dansel. Karena itulah dia berani memerintah.


Namun belum sempat menjawab ucapan Serge itu, tiba-tiba mulut Dansel membisu saat mendengar Frans lebih dulu menyahut.


"Memangnya siapa yang memerintahkan mu untuk melihat mereka? kita cuma diperintahkan untuk beres-beres. Jika kamu melihat Tuan dan Rilly bermesraan, maka salahkan mata mu," balas Frans.


Dansel seketika tertawa mendengar ucapan kasar itu. Astaga, bagaimana bisa pria dingin seperti Frans justru lebih cepat mendapatkan gadis dibandingkan mereka berdua.


Frans dan Zena bahkan tidak jadi putus, lalu rencana pernikahan mereka akan tetap dilaksanakan sesuai rencana.


Dan Serge yang diskak seperti itu hanya bisa mendengus, mana berani dia melawan Frans.

__ADS_1


Karena Frans adalah tangan kanan sang Boss.


"Tidak usah banyak bicara, lebih baik segera selesaikan tugas kita dan secepatnya pergi dari sini," putus Frans. Kedua tangannya bahkan tetap sibuk membereskan semua barang.


Serge dan Dansel tidak tahu bahwa Frans buru-buru seperti itu karena dia memiliki maksud tersembunyi. Sebab setelah tugasnya selesai, dia akan segera menemui sang kekasih.


"Iya iya!" kesal Serge. Dia melirik sekilas ke arah balkon sebelum mulai bekerja.


Dan lirikan mata itu sungguh membuatnya merasa menyesal, karena pada akhirnya dia benar-benar melihat sang Tuan dan Rilly saling berpaut.


Astaga! batin Serge, lantas mengutuk dirinya sendiri di dalam hati.


Di balkon sana, Liam mencium bibir sang istri saat angin sore itu terasa dingin. Ciuman mesra yang dapat menghangatkan tubuh mereka.


Sampai tak sadar jika lidah pun telah bermain, dan tangan Liam mulai menjalar kemana-mana.


Saat sadar masih ada 3 kurcaci itu di dalam kamar, Rilly langsung mendorong dadda sang suami, melepaskan pagutan mereka.


Dengan nafasnya yang memburu Liam menatap Rilly tajam, tak rela dia dicampakkan seperti ini.


Namun Rilly malah tertawa melihat wajah suaminya yang seperti itu, dia juga memukul dadda Liam saking gemasnya.

__ADS_1


"Lihat lah di kamar, masih ada Frans, Dansel dan Serge," ucap Rilly, dia juga membenahi bajunya yang sedikit berantakan.


"Mereka tidak akan berani melihat ke arah sini honey," balas Liam pula.


"Frans bisa aku percaya. Tapi Dansel dan Serge tidak. Dansel penipu dan Serge tau sendiri lah," jawab Rilly kemudian.


Jawaban yang membuat Liam akhirnya terkekeh juga, membenarkan ucapan sang istri.


Akhirnya Liam hanya bisa mengecup bibir Rilly sekilas, lalu memeluk erat. Membawa sang istri masuk ke dalam dekapannya.


"Apa kamu membenci kota Servo Ril?" tanya Liam, seraya menatap ke jauh sana, menampakkan pemandangan kota Servo yang cukup jelas.


Rumah ini memang berada di tempat yang cukup tinggi, salah satu rumah di perumahan bukit indah.


Letaknya begitu strategis.


"Tidak usah ditanya, aku juga tidak tau benci atau tidak. Yang jelas aku tidak akan pernah melupakan kota Servo," balas Rilly, dia peluk erat sang suami, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Liam.


Dan kini Liam pun tidak menjawab lagi, mereka hanya diam. Mengenang, berpikir dan berharap.


Tak ingin kabur lagi dari rasa sedih dan kecewa, hanya akan menikmati semua rasa sakit itu dan membiarkan waktu yang mengobati semuanya.

__ADS_1


Terus memeluk sampai matahari tenggelam.


__ADS_2