Tawanan Sang Mafia

Tawanan Sang Mafia
TSM Bab 140 - Kurang Nodda Darrah


__ADS_3

Kedatangan Zeon di hadapan mereka semua disambut oleh wajah yang dingin. Kemarin saat Zeon masih koma dan Zena terus bersedih karenanya, seluruh anggota Black Venom cukup merasa iba.


Tapi ketika melihat Zeon dengan kedua mata yang terbuka seperti itu, nyatanya tetap saja membuat mereka merasa tak nyaman, masih ada benci mengingat mereka adalah musuh bebuyutan di masa lalu.


Apalagi saat ini kondisinya sedang tidak memungkinkan untuk mereka saling bertukar sapa dengan pria itu. Masih banyak hal yang harus mereka urus bukan hanya berputar dengan masalah Zeon saja.


"Aku datang untuk berterima kasih dan meminta maaf sekaligus," ucap Zeon lirih, karena tenaganya pun belum pulih. Sadar dari koma dia langsung diculik dan mendapatkan banyak penganiayaan. Kini untuk berdiri saja dia butuh sang adik sebagai penyangga.


"Ya ya ya, kami semua sudah memaafkan mu. Sekarang pergilah, tidak perlu memperpanjang urusan diantara kita." Dansel yang menjawab, dia juga telah tahu tentang keputusan Frans untuk mengakhiri hubungannya dengan Zena.


Karena itulah dia berani bicara seperti ini.


Saat itu Zena pun menatap ke arah Frans, masih tak menyangka jika pada akhirnya hubungan mereka berdua jadi seperti ini.


Frans, sang kakak dan yang lainnya mungkin dulu adalah seorang mafia, tapi bukan berarti semua orang tak diberi kesempatan untuk berubah.


Bahkan selama ini Frans pun benar-benar bekerja di restoran ayam goreng crispy tersebut.


Menyadari itu, hati Zena merana sendiri. Dia ingin Frans kembali, tak peduli dengan apapun masa lalu yang dimiliki oleh pria itu.


Mereka bisa memulainya semua dari awal.

__ADS_1


"Aku tidak akan pergi sebelum membalas budi pada kalian semua," jawab Zeon kemudian.


Melihat Liam dan seluruh anggota Black Venom berdiri di sini, dia menyadari ada sesuatu yang tak beres. Entah apa yang ada di dalam ruang rawat itu, tapi pasti ada sesuatu.


Dia harus tahu masalah apa yang sedang dihadapi oleh Black Venom, agar dia pun bisa membantu.


"Benarkah? kalau begitu bujuklah mertua tuan Liam untuk bisa memaafkan kami semua," balas Dansel asal. Pikirannya buntu hingga akhirnya terceplos kalimat itu.


Liam yang juga mendengar pun langsung melirik Dansel, katanya tak ingin memperpanjang urusan dengan Zeon. Tapi dia sendiri pula yang memberikan syarat.


Huh. Liam membuang nafasnya kasar, Dia sedang pusing dan tak punya banyak tenaga untuk mengurusi hal remeh temeh seperti itu.


Bicaranya banyak sekali sampai seperti kaset yang diputar dengan penambahan kecepatan.


"Tuan Liam telah menikahi seorang nona muda di keluarga Aditama, bla bla bla bla ..." Dia terus bercerita, sampai Oma Putri jatuh pingsan ketika mengetahui semua kebenaran.


Lantas sejak beberapa jam lalu mereka semua mengurung diri di dalam ruangan ini dan tidak mengizinkan mereka semua untuk masuk.


"Kami akan menganggap lunas hutang nyawa mu jika bisa membujuk Oma Putri dan kakek Agung untuk memaafkan kami," putus Dansel.


Frans yang sedikit ragu dengan rencana itu pun menepuk pundak Dansel.

__ADS_1


"Sudahlah, ini tidak akan berhasil. Lebih baik kita terus saja bersujud di hadapan mereka," ucap Frans.


Namun belum sempat Dansel menjawab ucapannya itu, Serge pun buka suara.


"Ku rasa ide Dansel tidak masalah, apalagi kondisi Zeon cukup memprihatinkan, dia bisa menjual kesedihan," ucap Serge.


Dan kini semua orang nampak setuju dengan ide Serge tersebut.


"Kurang nodda darrah, ini buka saja plesternya," putus Serge asal-asalan, dia bahkan langsung menarik plester yang terpasang di kening Zeon sampai terlepas. Sampai lukanya kembali menganga dengan jelas.


"Awh!" pekik Zeon kesakitan.


"Hya!! apa yang kamu lakukan!" Bentak Zena pula.


Namun seluruh anggota Black Venom malah tersenyum, kini penampilan Zeon benar-benar mengenaskan.


Zena ingin marah, namun Zeon menahannya.


"Ayo kita masuk," ajak Zeon pada sang adik.


"Masuk lah masuk lah," Serge yang menyahut.

__ADS_1


__ADS_2